Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 33


__ADS_3

Dafa pun terus memikirkan ingin membantu siapa, hingga ia tidak sadar kalau ia terlelap di kursi yang berada di samping tempat tidur. Dan kepalanya kini berada di dekat tangga Hana, Hana yang baru tersadar tidak menyangka kalau Dafa ada disampingnya. Ketika ia terbangun, ia tidak melihat siapa-siapa. Kemudian ia meraba tangannya, dan ia pun menemukan kepala. Ia pun langsung melihat siapa yang saat ini sedang berada disampingnya, alangkah kagetnya ia ketika melihat Dafa yang sedang ketiduran.


" Dafa kau memang sahabat terbaikku, kau bahkan rela menunggu ku sampai kau ketiduran. Maafkan aku Dafa karena tidak memperhatikan mu, padahal semuanya sudah bilang kalau kau suka pada ku. Aku akan mencoba membuka hati untukmu, dan aku berharap aku bisa mencintaimu dengan tulus." ucapnya yang tidak terdengar oleh Dafa karena ia masih tertidur, dan ia pun mengelus rambut Dafa.


Karena Dafa masih tertidur, Hana pun langsung mengambil teleponnya. Ia pun melihat banyak panggilan masuk dari bundanya, ia pun langsung menelpon Bundanya. Untuk mengabari keadaannya saat ini.


" Halo, assalamualaikum Bunda." ucapnya.


" Waalaikumsallam sayang, kau dimana sekarang, kenapa belum pulang?" tanya sang Bunda.


" Adek masih di kampus Bun." jawabnya.


" Loh kenapa masih di kampus, kan ini sudah jam pulang sayang?" tanya bunda.


" Iya tadi ada urusan bunda, dan adek ketiduran. Maaf ya Bun." ucapnya.


" Yauda, kalau uda siap langsung pulang ya sayang." ucap sang bunda mengingatkan.


" Iya bunda, secepatnya adek akan pulang." ucapnya, kemudian sambungan telepon pun terputus.


" Kenapa kau berbohong?" tanya sebuah suara yang tiba-tiba saja muncul.


" Eh kau sudah bangun." ucapnya sambil melihat ke arah Dafa.


" Iya aku sudah bangun, sekarang jawab kenapa nggak jujur aja sama bunda mu?" tanyanya kembali.

__ADS_1


" Aku cuma nggak mau bunda aku cemas, dan nantinya aku nggak akan bisa bertemu dengan ayah. Tapi yang paling ku takuti, aku akan di pindahkan dari kampus ini." jelasnya dan membuat Dafa kaget.


" Apakah harus sampai dipindahkan?" tanya Dafa.


" Memang menurutmu ini masalah kecil, tapi tidak bagi bundaku. Karena masalah-masalah seperti ini sudah sering terjadi, dan ini bisa berbahaya bagi keamananku dan terkadang Bunda memindahkanku ke sekolah lain." jelasnya dan membuat Dafa kaget.


" Jadi kau udah pindah ke berapa sekolah?" tanya data yang penasaran.


" Sejak SMP, aku sudah pindah ke hampir ke-20 sekolah." ucapnya dan membuat Dafa.


" Banyak sekali, memangnya kau terlibat masalah apa?" tanyanya yang penasaran.


" Sebenarnya aku tidak pernah buat masalah, tetapi aku sering menjadi korban bully. Dan karena itu bunda selalu cemas dengan ku, apalagi kejadian yang aku alami terakhir kali sangat mengerikan." ucapnya sambil mengingat kejadian masa lalu.


" Memangnya terkahir kali kau kenapa, hingga membuat bunda mu cemas. Itu sih kalau kau mau cerita, kalau tidak mau pun gpp. Aku ngerti privasi kok, jadi kau tenang saja." ucapnya yang sadar akan posisinya.


" Ok." ucapnya dengan tersenyum.


Hana pun menceritakan semuanya kepada Dafa, tentang kejadian pembullyan yang ia alami. Dan Dafa sangat kaget ketika mendengar cerita dari Hana, ia tidak menyangka gadis yang terlihat cantik dan anggun ini. Ternyata menyimpan banyak duka yang mendalam, dan ia masih tetap hidup dengan kenangan-kenangan yang sangat pahit itu.


Hana menceritakan kehidupan sambil menangis, dan Dafa tidak bisa berkata banyak. Ia hanya menenangkannya saja, dan memeluk Hana. Hana masih terus me cerita kisah kehidupannya, meskipun ia sudah menangis sejadi tadi. Tanpa mereka berdua ketahui, ternyata Wildan sudah sejak tadi mengintip di pintu. Dan Wildan juga mengetahui tentang cerita kehidupan sang adik, yang telah menjadi trauma terbesar sang bunda dan adiknya.


Wildan pun berjanji, ia akan berusaha menghilangkan trauma yang mereka hadapi. Dan membangun kenangan-kenangan yang indah, untuk mengganti kenangan pahit yang meraka alami. Dan ia juga menjadi semangkin benci dengan ayahnya, karena penyebab dari semuanya adalah sang ayah.


" Dafa kita pulang yuk, pasti bunda uda nunggu aku di rumah." ucapnya dan Dafa pun mengangguk.

__ADS_1


" Yauda, ayo kita pulang." ucapnya dengan menggandeng tangan Hana.


Wildan yang sejak tadi melihat di pintu, ia pun segera pergi. Karena ia tidak ingin, kalau Hana sampai mengetahui bilang ia ada di sana. Ia masih belum berani untuk bertemu dengan Hana, karena ia merasa gagal untuk melindungi Hana. Padahal saat ini, ia adalah kakak Hana. Dan keselamatan Hana, sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai kakak.


Hana dan Dafa pun keluar, Dafa merasa aneh. Karena tadi ia sempat melihat Wildan di pintu, tetapi kini Wildan tidak ada. Ia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tetapi ia tidak juga menemukan Wildan. Hana yang merasa tingkah Dafa aneh, ia pun bertanya kepada Dafa.


" Ada apa Daf, sepertinya kau sedang mencari sesuatu?" tanya Hana yang penasaran.


" Nggak, aku sedang mencari handphone ku saja." jawabnya asal.


" Oh, kenapa nggak bilang. Kan bisa aku telepon." ucapnya dengan menggelengkan kepalanya, dan Dafa hanya tersenyum saja.


Hana pun langsung menelpon handphone Dafa, dan ternyata handphone Dafa berada di sakunya. Dafa terus saja tersenyum, dan senyuman itu pun menular pada Hana. Wildan yang berada di tempat persembunyiannya, ia merasa senang karena Dafa bisa membuat Hana tersenyum. Walaupun hanya dengan lelucon seadanya saja, sedangkan ia justru bersembunyi.


Hana dan Dafa pun memutuskan untuk pulang, sesampainya di rumah Hana. Keduanya disambut dengan senyuman oleh sang bunda, bunda pun menatap keduanya. Dan bunda merasa aura yang aneh, pikiran bunda mulai melayang nta kemana dan memikirkan hal yang aneh-aneh.


" Kalian beneran dari kampus kan?" tanya bunda.


" Iya Bun kami dari kampus, lagian ngapain Hana bohong." ucapnya yang sebenarnya sudah takut, karena sang bunda selalu tau saja jika ia sedang berbohong.


" Nggak usah bohong, kalian habis jalan-jalan kan. Nggak usa pakai alasan di kampus segala dong." ucap bunda dengan menggoda keduanya.


Demi melindungi Hana, Dafa pun akhirnya berbohong dan mengatakan kalau mereka memang sedang jalan-jalan berdua. Dan bunda pun langsung menanyakan kepada mereka, sejak kapan mereka jadian. Karena bunda sudah suka dengan Dafa sejak pertama kali melihatnya.


" Sejak kapan kalian jadian?" tanya sang bunda dan membuat keduanya kaget, tetapi Dafa berusaha menjawab dengan setenang mungkin, agar bunda Mawar tidak curiga.

__ADS_1


" Baru beberapa hari yang lalu bunda." jawabnya dengan sopan, dan hal itu membuat bunda semangkin menyukai Dafa.


" Baru jadian beberapa hari, tapi uda berani datang ke rumah ya." ucap bunda dengan sorot mata yang sinis menatap Dafa dan juga Hana secara bergantian.


__ADS_2