
Mereka terus berbincang hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan sore hari, kini mereka sepakat untuk sering bergantian tinggal dengan ayah dan bunda. Karena hari sudah sore, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
...----------------...
" Kira-kira bagaimana pertemuan Wildan bersama adik dan bundanya ya?" tanya Tina yang penasaran.
" Mudah-mudahan berjalan lancar." jawab Rio.
Tiba-tiba saja Alvin pun ikut bergabung dengan mereka, dan ia pun juga ikut penasaran dengan apa yang diceritakan oleh Tina dan juga Rio.
" Kalian lagi ngobrolin apa si, tampaknya sangat menyenangkan." ucapnya.
" Kami sedang mengobrol tentang Wildan kak." jawab Tina.
" Memang apa yang menarik tentang Wildan?" tanya Alvin.
" Kami sedang membicarakan sang Wildan kak, hari ini dia akan bertemu dengan Bunda dan juga adiknya. Pastinya ia sangat bahagia karena sudah banyak yang makannya, dan kami juga sedang menanti kabar bahagia itu darinya." jelas Tina.
" Wah aku jadi penasaran juga, nanti kalau dia sudah memberi kabar, kabarin kakak ya!" perintah Alvin.
" Tenang aja nanti kami kabarin." jawab Rio yang tiba-tiba.
Tiba-tiba saja telepon genggam Rio pun berbunyi, dan ternyata yang menelepon adalah Wildan. Dia pun langsung mengangkat telepon tersebut, dan menghidupkan penguat suara artinya dan juga Alvin dapat mendengarnya.
" Bagaimana pertemuanmu dengan Bunda dan adikmu?" tanya Rio untuk memulai percakapan.
__ADS_1
" Semuanya di luar kendali." jawabnya singkat dan dengan ada lesu.
" Di luar kendali bagaimana?" tanya Rio yang penasaran.
" Kalian tahu Hana kan, ternyata Hana adalah adikku." ucapnya dan sontak saja membuat mereka semua berteriak.
" Kamu bercanda kan Wildan?" ucapinnya dengan nada tinggi.
" Aku nggak bercanda, jujur pada awalnya aku juga kaget. Tapi semuanya tidak bisa diputar kembali, dan inilah takdir yang dituliskan untuk aku dan juga Hana." jelasnya dengan menghelan nafas.
" Kalau begitu impianmu untuk bersanding dengannya gagal dong, karena ternyata ia adalah adikmu. Lalu bagaimana, Bunda mu menyadari atau tidak?" tanya Tina sambil mengingat apa yang diceritakan oleh Hana tempo hari.
" Bunda tadi sempat bilang kalau dia seperti pernah melihatku, tapi sepertinya Bunda melupakannya. Aku pun tidak enak untuk menceritakannya, karena pastinya bunda dan ayah akan kaget." jelasnya.
" Iya sih pastinya kedua orang tuanya kaget, tapi suatu saat nanti pastinya bundamu akan menyadarinya." ucap Tina membicarakan kemungkinan yang akan terjadi.
" Lalu bagaimana dengan Hana, apakah ia menerimanya?" ucap Rio yang penasaran.
" Tadi Hana sempat kabur, karena ia tidak terima kalau aku adalah kakaknya. Tapi setelah perjalanan yang panjang, dan perlahan-lahan bercerita kepadanya. Akhirnya ia mau mengerti, dan kini Kami sedang membangun hubungan kakak adik yang baik. Kalian bantu satukan kami ya, Aku tidak ingin berpisah lagi dari adikku." ucapnya dengan sangat lembut.
" Kau tenang saja Wildan, aku akan berusaha membantumu. Dan akan memberitahukan kepadamu, apa saja yang kau harus perhatikan. Agar adikmu merasa nyaman, dan tidak benci kepadamu." jelas Alvin dan membuat Wildan kaget karena ternyata Alvin juga berada di sana.
" Eh ternyata juga ada Kak Alvin ya, Maaf ya Kak, Kakak jadi harus mendengarnya. Padahal ini adalah urusan pribadiku, dan seharusnya aku tidak melibatkan siapapun." ucapnya yang merasa sungkan.
" Nggak usah sungkan kali, lagian kau juga sudah kuanggap sebagai adikku. Dan kalian sudah berteman sangat lama, karena itu anggap saja aku seperti kakakmu sendiri." ucap Alvin dan mendapat senyuman dari Wildan.
__ADS_1
" Terima kasih Kak, aku sangat bahagia karena Kakak mau menerima aku sebagai adik kakak. Dan aku berharap, hubungan kita akan terus berjalan." ucapnya yang tanpa sadar meneteskan airmata.
" Tenang saja Wildan, kau tidak boleh bersedih. Kau harus kuat, ini adiknya Hana sedang berada di dalam kebimbangan. Dan kau sebagai seorang kakak, harus meyakinkan dia kalau yang dipilih saat ini adalah kebenaran. Dan kebenaran itu tidak akan berubah, meskipun langit dan bumi terbelah sekalipun." jelasnya.
" Terima kasih Kak, terima kasih atas sarannya. Dan mungkin aku akan memikirkannya kembali, terima kasih atas semuanya. Dan mungkin aku akan merepotkan kakak." ucapnya.
Tiba-tiba saja terdengar suara panggilan, dan ternyata Ayah Wildan mah yang telah memanggilnya. Wildan kan akhirnya mematikan sambungan telepon, dan ia langsung pergi menuju ke arah suara itu. Ia pun bertemu dengan sang ayah, dan sang ayah tidak berbicara banyak. Sang ayah mulai menolak nebak, apalagi setelah melihat hubungan Wildan dan juga Hana.
" Wildan Ayah ingin tanya sesuatu padamu, apakah kau mengenal Hana sebelum hari ini?" tanya Pak Yuda.
" Iya Ayah, sebenarnya aku telah mengenalnya di kampus. Hana adalah juniorku yang kau aspek beberapa hari yang lalu." jelasnya dan mendapat anggukan dari pak Yuda.
" Oh pantas saja kau sudah akrab dengannya, Ayah ikut senang mendengarnya. Kalau begini, kau bisa mengawasinya. Dan bila perlu, bila dia dekat dengan seseorang yang tampak tidak baik. Kau sebagai seorang kakak, bisa melarangnya untuk dekat dengan pemuda itu." ucapnya.
" Baik ayah, Wildan akan menjaga Hana. dan berusaha memperlakukan anak seperti adik kalian sendiri, walaupun kebenarannya Hana adalah adik Wildan. Tapi mengingat hubungan kami, untuk menjalin hubungan kakak beradik yang seperti normal itu sangatlah sulit." jelasnya dengan berpikir.
" Iya Ayah tahu itu pasti, tapi ayah berharap agar kau bisa cepat menjalin hubungan yang baik sebagai kakak adik dengan Hana. Mungkin kau lebih tahu, Ayah hanya tidak ingin adikmu itu merasa kekurangan kasih sayang. Walaupun penyebab dari ini semua adalah ayah, Ayah masih ingin adikmu memiliki kehidupan yang baik." jelasnya.
" Tenang saja ayah." ucapnya dengan tersenyum.
...----------------...
Kini Hana sedang termenung di dalam kamarnya, iya masih tidak menyangka kalau Wildan adalah kakaknya. Iya yang merasakan rasa nyaman dan berharap Wildan menjadi sang kekasih, kini angan-angan itu hanyalah tipu daya belakang. Karena ternyata Wildan adalah kakak kandungnya, dan kemungkinan itu tidak akan pernah terjadi. Hana terus memikirkan kejadian itu, sehingga tidak terasa ia pun terlelap.
Pagi ini Hana terbangun dengan kesiangan, sang Bunda pun merasa heran dengan tingkah putrinya itu. Tidak biasanya Hana kesiangan, tetapi hari ini hanya kesiangan bahkan bangun sangat jauh dari jam biasanya. Bunda yang merasa heran pun mendatangi putrinya itu, tetapi ia tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari putrinya.
__ADS_1
Setelah berberes-beres dan melakukan rutinitas pagi seperti biasanya, Hana langsung pergi ke kampus tanpa mengatakan kata-kata yang aneh kepada bundanya. Bundanya bukan merasa senang, tapi justru merasakan keanehan kepada Hana. Karena itu bukanlah sifat putrinya, dia seperti melihat orang lain yang berada di dalam putrinya itu.