Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 68


__ADS_3

" Eh, itu…" ucapnya yang terhenti.


" Nggak usa di tutupi lagi, kalau kau mau membatalkan perjodohan. Kau harus bawak dia kesini, kalau dia nggak datang. Maka perjodohanmu akan terus berjalan." jelas sang ayah.


" Apa, aku jadi bingung. Harus bawak kak Wildan kesini, tapi aku malu bilangnya. Tapi kalau nggak bawak, aku akan dijodohkan. Aku harus bagaimana ya." batinnya yang sedang bimbang.


" Intan, jawab ayah." bentak sang ayah.


" Iya ayah, besok Intan akan bawak kak Wildan." ucapnya yang tanpa sadar menyebut nama Wildan.


" Oh jadi namanya Wildan, nama yang bagus. Ayah jadi penasaran dengan sikapnya, apakah sebagus namanya." ucap sang ayah, kemudian langsung pergi meninggalkan Intan.


" Wadu, kenapa aku spil namanya." ucapnya dengan menggelengkan kepalanya.


" Kasihan banget Intan, pasti dia sedang kebingungan. Apalagi tadi ayahnya seperti marah besar, padahal kan itu semua bohongan." batin mama Intan yang mengintip percakapan Intan dan ayahnya.


" Udahlah, mending aku masuk dulu. Urusan ngomong sama kak Wildan, itu biar urusan nanti." ucapnya kemudian langsung pergi menuju kamarnya.


Intan pun segera masuk ke kamarnya, iya gini malas memikirkan tentang urusan Wildan. Ia yang sudah lelah akhirnya memutuskan untuk bersih-bersih kemudian tidur.


...----------------...


" Bagaimana ya situasi besok?" tanya Wildan yang sedang memikirkan kejadian yang mungkin terjadi.


" Cie yang baru jalan sama pacar." ucap Hana yang tiba-tiba masuk ke kamar Wildan.


" Adek, kau ini buat kaget aja." ucap Wildan dengan menggelengkan kepalanya.


" Ya maaf kak, habisnya kayaknya kakak serius banget. Kan baru jalan-jalan sama pacar, kenapa tampaknya seperti sedang pusing?" tanya Hana yang penasaran.


" Ya karena baru jalan-jalan sama pacar, makanya kakak jadi panik. Kakak sedang memikirkan kejadian esok, dan Kakak takut terjadi sesuatu dengan Intan." jelas Wildan yang panik dan tanpa sadar menyebut nama Intan.


" Yang kakak katakan beneran juga ya, apalagi posisi kakak sebagai presiden mahasiswa. Dan dikabarkan sebagai seorang jomblo yang tidak pernah menggandeng cewek, dan sekarang tiba-tiba punya pacar. Aku jadi penasaran deh, kira-kira apa judul berita kampus esok hari." ucap Hana yang sudah sangat menantikan hari esok.


" Melihat kau yang sudah menantikannya, tiba-tiba kakak menjadi takut dek." jelas Wildan jujur.


" Kenapa kakak harus takut, bukannya menjadi training topik sudah biasa bagi kakak?" tanya Hana yang merasa heran.

__ADS_1


" Kalau yang menjadi training topic hanya kakak saja kakak tidak masalah, tapi kali ini yang menjadi trending topik juga pacar kakak." ucapnya yang merasa cemas.


" Oh iya, si Intan pasti juga akan kena ya." ucap Hana dan tiba-tiba membuat Wildan kaget.


" Bagaimana kau bisa tahu namanya?" tanya Wildan yang memang benar-benar sangat kaget.


" Tadi kan udah kakak spell namanya, kakak lupa ya." ucap Hana dengan menepuk jidatnya.


" Aku ada spell namanya ya, aku kira kau tahu dari berita." ucap Wildan.


" Ya ampun kak, tampaknya kakak sangat cemas. Aku jadi nggak kebayang deh, kira-kira besok bagaimana?" ucap Hana yang memang sudah tidak tahu harus bagaimana.


" Tampaknya kau sudah sangat menantikan nya ya dek?" tanya wildan.


" Tentu dong kak, ini itu berita yang pastinya sangat dinantikan oleh semua mahasiswa." ucap Hana kemudian ia langsung pergi meninggalkan kamar Wildan.


Kini Wildan masih saja memikirkan tentang Intan, dan ia pun berniat untuk menelpon Intan. Tetapi ia takut mengganggu, akhirnya ia pun hanyut dalam pikirannya dan akhirnya terlelap.


...----------------...


Pagi yang cukup cerah, sinar matahari menimpa wajah wildan. Ia pun segera mandi kemudian pergi ke kampusnya, ia sudah sangat penasaran dengan berita yang akan beredar. Dan ia juga menghawatirkan Intan.


" Eh rupanya kau sudah sampai." ucap Rio yang baru saja sampai di sekretariat.


" Iya, kebetulan aku juga baru sampai." jelas Wildan.


" Kau sudah melihat forum kampus belum?" tanya Rio untuk memastikan, dan wildan pun menggelengkan kepalanya.


" Ini baru mau lihat." jawabnya.


" Mending nggak usah lihat deh, banyak netizen bermulut pedas." jelas Rio yang khawatir.


" Meskipun begitu, aku harus tetap melihatnya. Tapi aku juga harus memberitahu Intan, aku yakin Intan pasti kena hujan." jelas Wildan dan Rio pun mengganggu.


" Keputusan yang bagus." ucapkan juga dengan memberikan kedua jempol.


Wildan pun segera melihat berita, dan sesuai dengan tebakan Wildan. Wildan pun segera menelpon Intan, karena ia takut Intan terkejut.

__ADS_1


" Ayolah Intan, angkat." ucap Wildan yang cemas.


" Kenapa, Intan nggak bisa di hubungi?" tanya Rio.


" Iya benar, aku pergi dulu ya. Aku khawatir dengan Intan." ucap Wildan kemudian langsung pergi meninggalkan Rio sendirian di sekretariat.


" Aku jadi ikut cemas tentang Intan, mudah-mudahan ia tidak apa-apa." ucap Rio dengan menatap kepergian Wildan.


...----------------...


Kini Wildan pun sudah tiba di fakultas teknik, ia pun segera mencari Intan. Ia pun bertemu dengan Kalisa, kemudian ia pun segera menanyakan keberadaan Intan.


" Kamu temannya Intan kan?" tanya Wildan.


" Iya benar kak, saya temannya Intan. Kalau boleh tahu ada apa ya kak?" tanya Kalisa yang juga bingung.


" Saya hanya ingin bertanya, kamu tahu keberadaan Intan?" tanya Wildan dengan ekspresi cemas.


" Oh jadi kakak cari Intan, kebetulan Intannya ada di kantin kak." jawab Kalisa.


" Kalau begitu bisa antarkan saya ke sana!" tanya Wildan.


Kalisa yang melihat raut wajah kecemasan, akhirnya ia pun segera mengantar Wildan ke tempat Intan. Kalisa sudah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Wildan, karena tadi pagi sahabatnya itu sudah diserang oleh beberapa fans dari Wildan.


" Ya udah ayo kak." jawabnya dengan memberikan petunjuk arah.


Keduanya pun kini telah sampai di hadapan Intan, Wildan yang tampak cemas langsung memeluk Intan. BeritaSatu belum mereda, kini tinggal Wildan membuat berita baru. Anggota pers mahasiswa semakin bahagia, karena mereka mendapatkan berita baru lagi mengenai presiden mahasiswa mereka.


" Kak tolong lepasin, kita diliatin banyak orang." ucap intan dan menyadarkan Wildan.


" Eh iya." ucapnya dengan melihat sekitar.


Wildan pun kemudian menarik Intan, Mereka pun segera pergi dari sana. Kini mereka duduk di taman fakultas teknik, Wildan pun mulai menanyai kondisi Intan. Karena Wildan tahu, pastinya Intan menghadapi kesulitan yang cukup berat.


" Bagaimana keadaanmu?" tanya Wildan tanpa menghilangkan pandangannya dari Intan.


" Aku nggak apa-apa kok." jawab Intan dengan tersenyum.

__ADS_1


" Kamu nggak usah bohong, aku yakin pastinya ini adalah hal yang berat." jelas Wildan dan Intan pun tiba-tiba langsung berdarah air mata.


__ADS_2