
" Iya juga sih, tapi aku masih penasaran tentang Tami." ucap Gayatri.
" Kalau bagaimana mereka bisa ketemu, aku nggak tau. Aku uda lama berpisah dengan mas Yuda." jawab Mawar.
" Ya kalau yang itu nggak usa di bahas, sekarang yang ingin ku tanyakan tentang pernikahan mas Yuda dan Tami. Apakah pernikahan mereka tetap dilakukan?" tanya Gayatri.
" Ya tentu saja tetap dilakukan, lagian aku nggak mungkin menghalangi. Nanti di kira aku nggak bisa move on lagi, ogah sih ya biarin ajalah. Ya mudah-mudahan nggak berpengaruh dalam kehidupan anak-anakku nantinya." ucap Mawar.
" Yang kau bilang memang benar Mawar, dan mudah-mudahan semuanya tidak akan berpengaruh pada anak-anak mu." ucap Gayatri.
...----------------...
" Ma, kira-kira kapan Kita mulai rencana kita?" tanya Gina.
" Kamu tenang aja sayang, secepatnya kita akan melaksanakan rencana kita." jawab Tami.
" Tapi kapan ma, aku uda nggak sabar. Aku ingin lihat sih Luhana itu tunduk di kakiku." ucapnya.
" Kamu tenang saja sayang, mama akan buat hidupnya tersiksa. Dan dia tidak akan mau datang ke rumah ini lagi, dan pergi untuk selamanya. Kalau perlu dia pergi ke dunia lain." ucap Tami.
" Ide bagus itu ma, tapi kapan ya. Kan aku pengen memiliki Dafa." ucapnya dengan ekspresi sedih.
" Secepatnya sayang, dan mami yakin Dafa pasti akan lebih memilih kamu. Setelah dia tau kalau sih Hana sudah jatuh miskin, hehehe." ucap Tami sambil tertawa, dan Gina juga ikut tertawa.
" Ibu dan anak sama saja." batin Anas yang kini sedang bersembunyi.
...----------------...
" Gays, kalian uda tau belum kalau sekarang maminya sih Gina uda nikah." ucap intan.
" Wah, siapa yang menjadi mangsanya?" tanya Kalisa.
" Disini si dibilang pengusaha bernama Yuda, tapi nggak di bilang pengusaha apa." jawab intan.
__ADS_1
" Itu saja sudah cukup kok, sekarang waktunya kita beraksi. Aku nggak mau ada korban selanjutnya, untungnya paman ku belum sempat menikah dengannya. Tapi pamanku sudah pergi meninggalkanku, kita harus bantuin orang itu. Ya walaupun sudah menikah, tapi selagi harta belum jatuh ke tangan mereka. Kita masih bisa membantu orang itu, dan kalian mau membantu ku kan?" tanya Kalisa kepada teman-temannya.
" Tentu." jawab mereka serentak.
" Kami juga sangat membenci mereka, sudah banyak orang yang menderita karena ulah mereka." jawab intan.
" Kalau begitu, mari kita susun rencana." ucap Kalisa yang sangat antusias.
...----------------...
Tidak terasa acara sudah selesai, dan kini Hana kembali ke rumahnya. Karena jujur saja ia merasa tidak nyaman, karena sejak awal Gina selalu menatapnya. Dan hal itu membuat ia merasa tidak nyaman, dan ingin segera pergi dari rumah sang ayah.
Tok
Tok
Tok
" Ya sudahlah Bunda, lagian luhana juga sudah kenyang. Tapi jujur, aku merasa tidak nyaman di sana."adunya pada Mawar.
" Memangnya kenapa, kok putri bunda merasa tidak nyaman ?" tanya Mawar yang penasaran.
" Sejak awal kedatangan ku, Gina selalu saja memperhatikan ku." jawabnya.
" Ya sudahlah sayang, yang penting ayahmu bahagia. Ucap Mawar.
" Ya mudah-mudahan saja bun, karena bila ayah bahagia aku akan sangat senang." ucap Hana.
" Ya udah sana segera mandi, bunda mencium bau-bau tidak sedap." ucap Mawar dengan menutup hidungnya.
" Ya bunda, bunda jahat banget sama aku." ucapannya kemudian segera berlari masuk ke kamarnya.
" Sayang, sebenarnya bunda sedang cemas. Bunda takut pernikahan ayahmu akan berdampak padamu, bunda sangat takut. Mudah-mudahan saja kakakmu bisa menemukan bukti, dan hidupmu tidak akan menjadi menyedihkan." batin Mawar.
__ADS_1
...----------------...
" Gimana, dapat nggak videonya?" tanya Wildan pada Anas.
" Kau tenang aja, aku sudah berhasil mendapatkannya. Dan sekarang, kita tinggal tunggu waktu yang tepat. Sebenarnya sih aku ingin segera, tetapi bila kita akan sangat cepat. Yang kau bilang kemarin itu sangat benar, pasti dia akan mengelas. Dan kitalah yang akan mendapat nama jelek, padahal kita ingin membongkar pembusukannya." jelas Anas.
" Iya itu sangat benar, karena itu kita harus menunggu waktu yang tepat. Agar dia tidak bisa ngeles, dan semuanya tepat sasaran." ucap Wildan dengan tersenyum.
" Aku nggak nyangka loh Wil, ternyata kamu jago juga mengatur siasat. Aku kira awalnya kamu anak yang culun, eh ternyata kamu sebaliknya." ucap Anas yang tidak percaya.
" Enak aja kamu kalau ngomong, aku itu bukan anak culun. Ya aku memang tidak suka ada pertengkaran, oleh karena itu aku lebih memilih diam. Lagian bertengkar nggak ada gunanya, yang ada malah dapat capek dan luka-luka." jelas Wildan.
" Yang kau bilang ada benarnya juga, kau ini memang sangat mengerikan. Dari luar tampak seperti seekor kucing, tetapi sebenarnya kau adalah seekor singa yang kelaparan." ucap Anas dengan menggelengkan kepalanya.
" Kita memang harus seperti itu, karena bila kita tidak seperti itu. Orang-orang akan menganggap kita lemah, dan mereka akan dengan mudah mempermainkan kita." ucap Wildan.
" Aku jadi tidak sabar, aku ingin menyaksikan betapa hancurnya mereka. Dulu mereka telah menghancurkan keluargaku, dan kini aku ingin melihat mereka hancur." ucap Anas yang sudah terbakar api kemarahan.
" Kau sabar dulu, kita susun rencana yang matang. Dan bukan kau saja yang menantikannya, aku juga sangat menantikannya." ucap Wildan dengan tersenyum.
" Tetapi aku sangat heran denganmu, dari kabar yang beredar kau tidak menyukai harta. Bahkan kau rela keluar dari rumah, tetapi kenapa sekarang kau mau bekerja sama denganku?" tanya Anas yang masih tidak percaya.
" Uang kau dengar itu sangat benar, tetapi kini situasinya sangat berbeda. Saat ini ada orang yang harus aku lindungi, dan aku tidak ingin orang itu tersakiti." jelas Wildan yang tanpa sadar meneteskan air matanya.
" Siapa sebenarnya orang itu, tampaknya kau sangat peduli dengannya?" tanya Anas yang penasaran dengan sosok itu.
" Dia adalah adikku, dan bagi diriku dialah sosok yang paling berharga." ucap Wildan yang kini sedang memandang langit.
" Kalau begitu aku mendukungmu, aku juga dulu memiliki seorang adik. Tetapi karena wanita itu, aku jadi kehilangan adikku itu." ucap Anas yang tanpa sadar meneteskan air matanya karena mengingat sang adik.
" Ternyata kau memiliki seorang adik, tetapi kenapa kau tidak pernah menceritakannya?" tanya Wildan yang penasaran.
" Ya aku memiliki seorang adik, nama adikku itu adalah Melly. Tetapi karena tingkah wanita jahat itu, adikku menghilang. Dan dengan santainya, ayahku membela wanita itu. Dia tidak peduli dengan anak bungsunya itu, dan malam membela istri keduanya itu. Dan sejak saat itu juga aku menjadi membencinya, aku selalu mencari-cari adikku di manapun. Tetapi hingga kini aku masih belum kunjung menemukannya, dan kebencianku semakin bertambah. Seperti yang ku ceritakan sebelumnya, setelah ayahku meninggal dia mengusirku." jelas Anas yang mengingat masa lalu.
__ADS_1