
" Kalau iya bukanlah anak kandung pak Yuda, lalu siapa anak kandung pak Yuda?" tanya Deon yang penasaran.
" Anak kandung Yuda adalah Hana, anak yang selalu saja di-bully sama dia." jawab berani dan keduanya pun tersentak.
" Dia sudah sangat keterlaluan, kalau begitu kami menyetujui usulan dari ibu. Kami akan segera memproses, agar secepatnya Dia bisa keluar dari kampus kita." ucap Olivia yang kini sudah kesal.
" Kalau begitu saya tunggu suratnya, agar segera saya tanda tangani dan dia bisa keluar secepatnya dari kampus kita." ucap Rani.
" Ibu tenang saja, kami akan memprosesnya secepatnya." jawab Deon dengan antusias.
" Kalau begitu kami mohon undur diri." ucap keduanya serentak dan Rani pun mengangguk.
Keduanya langsung kembali menuju ruangan yang masing-masing, Deon pun segera menyiapkan surat. Karena dia kini sudah tidak takut lagi kepada Gina, karena ia mengetahui kalau Gina bukanlah anak kandung dari Yuda. Setelah surat itu selesai, ia pun segera mengantarnya ke ruangan Olivia untuk dibubuhi tanda tangan.
" Ibu Olivia, ini surat pemecatan Gina." ucap Deon yang kini memasuki ruangan Olivia.
" Sangat cepat mengerjakannya ya pak." ucap Olivia dengan tersenyum.
" Tentu harus sangat cepat, Karena dia sudah sangat mempermalukan kampus kita. Jangan sampai dia membuat tingkah yang berlebihan lagi, hingga nama kampus kita semakin tercoreng." ucap Deon dengan antusias.
" Saya suka dengan kinerja bapak." ucap Olivia sambil membubuhkan tanda tangan.
" Terima kasih bu Olivia, saya akan segera meminta tanda tangan dari dekan. Agar Gina secepatnya dikeluarkan dari kampus kita, karena ia sudah banyak membuat masalah untuk kampus kita." ucap Deon kemudian keluar dari ruangan Olivia.
Deon pun segera berjalan menuju ruangan dekan, ia pun mengetuk pintu ruangan tersebut. Dan kini Arfi membukakan pintu tersebut dan mempersilakan Deon untuk masuk.
" Silakan masuk pak Deon." ucapnya dan Deon langsung masuk menemui Rani.
__ADS_1
" Ini surat pemecatannya Bu." ucapnya dengan meletakkan surat tersebut di atas meja.
" Terima kasih pak Deon, nanti saya akan meminta Arfi untuk mengantarkannya ke ruangan bapak." jawab Rani dan Deon pun hanya mengangguk saja kemudian keluar dari ruangan tersebut.
" Mama sudah yakin ingin mengeluarkan Gina?" tanya Arfi.
" Bukankah engkau yang sangat antusias kemarin, apalagi ia sudah menyakiti Hana berkali-kali." ucap Rani.
" Iya sih ma, tetapi setelah dipikir-pikir Gina itu orangnya nekat loh. Gimana kalau mama nanti yang menjadi sasaran berikutnya, Arfi tidak ingin kehilangan mama." ucapnya yang memang tidak ingin kehilangan.
" Kamu tenang saja Arfi, mereka tidak akan mungkin melakukan sesuatu kepada mama. Dan bila memang merencanakan sesuatu, mereka akan selalu ketahuan sama mama. Dan lagian tingkah Gina itu sudah sangat keterlaluan, bukan hanya dia selalu menyakiti Hana. Tetapi ia telah mencoreng nama baik kampus kita di luar sana, bahkan sudah banyak kampus yang menjelek-jelekkan nama kampus kita karena dia." jelas Rani.
" Yang mama katakan memang benar, semoga saja ini adalah keputusan yang tepat ma." ucap Arfi.
" Kita sama-sama berdoa ya sayang, sekarang tolong kamu antarkan ini kepada pak Deon. Agar pak Deon secepatnya menyerahkan kepada Gina, agar dia segera keluar dari kampus kita. Karena mama sudah capek dengan semua ini, banyak orang yang mengatakan hal-hal buruk tentang kampus kita." jelas Rani.
" Kamu tenang aja sayang, karena itu mama ingin semuanya cepat selesai." ucapannya.
Arfi pun segera pergi menemui Deon, Ia pun meletakkan surat itu di atas meja Deon. Dan kemudian ia pergi untuk kembali ke kelasnya, karena sekarang sudah waktunya untuk masuk kelas. Arfi melihat Hana yang kini sedang tampak kebingungan, saat ini wajahnya sangatlah pucat.
" Ada apa denganmu?" tanya Arfi yang penasaran.
" Aku tidak apa-apa kok." jawabnya dengan tersenyum.
" Ya sudah kalau begitu." ucapnya kemudian pergi mencari kursi kosong.
" Sebenarnya apa yang sedang kau sembunyikan Hana, semuanya terlihat jelas dari matamu." batin Arfi.
__ADS_1
Kini dosen untuk memasuki ruangan kelas, dampak dosen itu sedang membawa banyak buku yang akan diserahkan kepada para mahasiswa. Dosen itu pun memanggil Arfi, untuk membagikan buku-buku itu kepada para mahasiswa yang hadir.
" Arfi tolong bagikan buku-buku ini." ucap dosen itu dan Arfi pun segera melaksanakan perintah.
" Di depan kalian sudah ada buku yang saya bagikan, sekarang saya meminta kalian untuk menganalisis buku tersebut. Cari unsur intrinsik apa saja yang ada di dalam buku tersebut, kemudian buatlah di dalam makalah. Dan kumpulkan kepada saya paling lama minggu depan." ucap dosen itu kemudian segera keluar lagi dari ruangan.
" Saya melupakan satu hal, sediakan salinan untuk kalian juga. Karena makalah yang kalian buat akan saya jadikan bahan untuk membuat soal ujian, bila kalian tidak mengerti cara meresensi kalian bisa membicarakannya dengan anak produk di bahasa Indonesia." jelas dosen itu kemudian pergi kembali.
" Mengapa sih kita harus belajar bahasa Indonesia, malah tugasnya disuruh meresensi lagi. Manalah aku ngerti, pakai disuruh nanya sama anak bahasa Indonesia pula kalau tidak mengerti." ucap salah satu mahasiswa.
" Sudahlah tidak usah mengeluh, lagian Bahasa Indonesia adalah mata kuliah wajib di semester 1. Jadi percuma saja engkau mengeluh, hal itu tidak akan ada gunanya. Lebih baik kita mengerjakan tugas yang diberikan, dan sesuai instruksi bila tidak mengerti kita bisa bertanya kepada anak prodi bahasa Indonesia." jelas Arfi.
" Iyalah yang anak pintar." ucap mahasiswa yang lainnya.
" Kalian ini apa-apaan sih, Arfi cuma mengatakan yang sebenarnya. Lagian ngapain dikatakan Arfi tidak ada yang salah, kalau kita mengerti memang tadi disuruh nanya sama prodi bahasa Indonesia kan. Jadi daripada kalian banyak mengeluh, lebih baik kalian mengerjakan tugas tersebut. Agar tugas tersebut cepat selesai, dan tidak
membuang-buang waktu." ucap David yang tiba-tiba saja angkat suara.
Jini mereka semua tampak serius mengerjakan tugas yang diberikan dosen tersebut, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu ruangan kelas mereka. Dan sontak saja mereka penasaran dengan sosok yang mengetuk, ternyata yang mengetuk adalah asisten dari Pak Deon Kaprodi mereka.
" Permisi, yang namanya Gina dipanggil sama Pak Deon." ucapnya dan Gina pun langsung mengikuti langkahnya.
" Kira-kira ada apa ya, kenapa pak Deon memanggil Gina?" ucap salah seorang mahasiswa yang penasaran.
" Kalau penasaran ikut aja sana." ucap Arfi yang kesal dengan orang tersebut.
" Nggak usah banyak cingcong deh kau, seperti kau tahu aja kenapa dia dipanggil." ucap mahasiswa itu.
__ADS_1
# Penasaran, ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen, serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.