Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 75


__ADS_3

" Aku nggak bisa pulang ke rumah sekarang sayang, sedang berbahaya di dalam rumahku. Aku mungkin akan menginap di rumah temanku, bunda aku saja sampai kutitipkan di rumah sahabatnya." ucap Wildan dan sontak saja membuat Intan kaget.


" apa yang terjadi sayang, kenapa kau sampai menitipkan bunda di rumah sahabatnya?" tanya Intan yang khawatir.


" Kau ingat Angel bukan?" tanya Wildan.


" Seorang wanita yang merupakan anak dosen itu bukan, dan kabarnya dia juga pernah membully Hana adikmu." ucap Intan yang tiba-tiba saja teringat dengan sosok Angel.


" Iya benar, tiba-tiba saja tadi dia muncul di rumahku. Dia adalah orang yang sangat nekat, karena itu aku sangat khawatir kepada Bunda. Jadi mau tak mau aku harus menitipkan bunda di rumah sahabatnya, agar bunda akan tetap aman." jelasnya dan Intan pun mengerti.


" Ya sudah kalau begitu, yang terpenting kau baik-baik saja. Tolong kirimkan alamat bunda untukku ya, aku juga khawatir pada bunda." ucap Intan yang memang khawatir.


" Kau tidak usah cemas sayang, bunda sangat aman di sana. Bila kau ingin menemui bunda, besok aku akan mengajakmu untuk bertemu dengannya." ucap Wildan dan mengagetkan Intan.


" Eh tidak usah, aku tidak enak pada bunda." ucapnya yang memang tidak enak.


" Tidak apa-apa sayang, bunda juga senang kok Kalau bertemu dengan kamu. Dan lagian kamu tidak usah malu datang ke rumah sahabat bunda, aku yakin kalau mamamu pasti juga mengenal sahabat bunda yang ini." ucap Wildan dan Intan pun mengangguk.


" Ya sudah, kalau begitu besok aku akan ikut untuk bertemu dengan bunda." jawabnya dan membuat Wildan berteriak gembira.


" Makasih sayang." ucap Wildan.


" Nggak perlu berterima kasih sayang, suatu hari nanti bila kita berjodoh bunda juga akan menjadi bundaku. Sekarang kamu cepat jangan di tengah jalan, itu akan sangat berbahaya." ucap Intan yang memang sangat mengkhawatirkan saat ini.


" Oke sayang." ucapin dan kemudian sambungan telepon pun terputus.


Wildan kini langsung menyimpan telepon genggamnya, kemudian ia langsung mengendarai motornya ke arah rumah Rio. Ia tidak tahu harus pergi ke mana, saat ini hanyalah rumah Rio tujuannya. Kini ia sudah sampai di depan rumah Rio, ia pun segera mengetuk pintu tersebut.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


" Eh ada Wildan, ngapain malam-malam ke sini nak?" tanya maminya Rio.


" Rio nya ada mi?" tanya Wildan.


" Masuk aja ke dalam, Rio ada di kamarnya." jawabnya dan Wildan pun langsung masuk ke dalam kamar Rio.


" Rio bangun." ucap Wildan dengan mengguncangkan tubuh Rio.


" Ya ampun Wildan, ada apa sih malam-malam bangunin aku." ucap Rio yang baru tersadar akan kehadiran Wildan.


" Ada hal gawat darurat." jawabnya dan Rio pun langsung terduduk.


" Ada hal apa?" tanyanya yang kaget.


" Apa." teriak Rio dan membuat Bundanya pun datang ke kamarnya.


" Ada apa sih malam-malam teriak-teriak?" tanya mami Rio yang kaget.


" Ini mi, Si Angel datang ke rumah bundanya Wildan." jawab Rio.


" Apa…lalu bagaimana dengan keadaan bundamu?" tanya mami Rio yang juga ikut khawatir.


" Alhamdulillahnya bunda baik-baik saja mi, tapi aku sangat khawatir terjadi sesuatu sama bunda." jawab Wildan yang tanpa sadar berderai air mata.


" Lalu sekarang bundamu ada di mana?" tanya mami yang ikut khawatir.

__ADS_1


" Saat ini bunda sedang ku ungsikan ke rumah sahabatnya, jujur aku tidak bisa meninggalkan bunda di rumah sendirian." jelas Wildan dan keduanya pun mengangguk.


" Itu adalah pilihan yang terbaik, saat ini rumahmu sedang tidak aman. Bunda yakin Si Angel pasti sudah menyuruh orang untuk memata-matain rumahmu, Gimana kalau bundamu dibawa ke sini aja." ucap mami Rio.


" Nggak deh mi, Wildan segan sama Mami." jawabnya yang memang segan pada orang tua Rio.


" Segan, bahasa apaan itu. Buat mami, kau itu sudah seperti anak mami sendiri. Jadi tidak perlu ada kata segan di antara kita, mami justru akan sangat bahagia bila kau mau percaya pada mami." ucap mami Rio dan Wildan pun tambah berderai air mata.


" Yang dikatakan nami benar Wildan, kami akan sangat bahagia bila kau mau tinggal di sini." ucap Rio dengan mengelus pundak Wildan.


" Makasih mami, tetapi mungkin bunda tidak akan mau. Untuk diajak tinggal ke rumah sahabatnya saja, bunda sebenarnya tidak mau. aku dan adikku Hana sudah berusaha keras untuk membujuknya, apalagi untuk tinggal di sini, yang di mana bunda belum mengenal mami." ucap Wildan dan keduanya pun mengangguk.


" Ya sudah, kalau itu memang yang terbaik untuk bundamu. Lagian mami tau bundamu pasti tidak nyaman dengan semua, mami sarankan kau segera cari rumah baru aja." usul mami Rio dan mereka pun mengangguk.


" Itu yang sedang Wildan pikirkan saat ini, karena itu Wildan ingin meminta bantuan dari Rio untuk mencari rumah baru. Dan Kalau mami berkenan, Wildan juga ingin meminta bantuan Rio untuk mengawasi Angel. Jujur saat ini Wildan merasa takut nih, Wildan takut Angel akan melukai orang-orang di sekitar Wildan." ucapnya yang memang sedang khawatir.


" Mami tidak masalah tentang hal itu, malam Mami berharap agar semuanya cepat selesai. Mami juga sudah bosan mendengar nama dia, sejak dulu dia selalu saja membuat masalah untuk dirimu Wildan. Mami berharap kamu cepat memiliki pendamping, agar ia tidak dapat mengganggumu lagi." ucap mami yang memang sangat mengkhawatirkan Wildan dan sudah bosan dengan Angel.


" Kalau soal pendamping, mami tenang aja. Si Wildan udah punya pendamping kok mi, dan dia cukup cantik sih menurutku." ucap Rio yang tiba-tiba saja bersuara.


" Benar yang dikatakan oleh Rio?" tanya mami yang penasaran.


" Iya mi, yang dikatakan Rio benar. Namanya Intan, Dia adalah anak fakultas teknik. Tapi satu yang membuat aku cemas nih." ucapnya dan membuat mami penasaran.


" Memang apa yang membuatmu cemas?" tanya mami yang memperhatikan Wildan.


" Ternyata dan ternyata, dia itu adalah anak dari seorang arsitek hebat. Dan aku kini takut, kalau sewaktu-waktu keluarganya tidak menyetujui hubungan kami." jelas Wildan.


" Ya kau tinggal temui keluarganya saja, apa susahnya sih Wil." ucap Rio yang tiba-tiba saja menyambung.

__ADS_1


" Semua tidak semudah itu Rio, aku sih sudah bertemu dengan orang tuanya. Tetapi yang mengambil keputusan di keluarga itu adalah kakeknya, dan bila kakeknya menentang hubunganku dengannya maka tamatlah sudah." ucap Wildan yang pasrah.


" Jangan pasrah gitu kenapa, kalau memang kalian berjodoh pastinya kalian akan bersama. Yang terpenting saat ini, kau harus tetap berusaha agar hubungan kalian dapat direstui oleh sang kakek." ucap Rio dan Wildan pun mengangguk.


__ADS_2