
" Tadi Anas sedang terburu-buru, dia masih harus pergi ke tempat magang." jelas Wildan.
" Yauda deh kalau kayak gitu, tapi aku masih mau marah padanya." ucapnya yang kesal.
" Sudahlah jangan buat aku jadi obat nyamuk kalian." ucap Rio dan Intan pun tertawa mendengar perkataan Rio.
" Eh maaf." ucapnya dengan tersenyum.
" Yauda, aku balik duluan ya." ucapnya dengan melambaikan tangan kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
" Rio tunggu." ucap Wildan.
" Nggak ah males, aku mau kerja dapat nyambung kalian. Aku ku mau ke rumah tidak dulu, nanti langsung pulang aja ke rumah." ucap Rio.
" Ya udah kalau gitu, titip salam ya buat Tina." ucap Wildan.
" Tenang aja nanti ku sampaikan." jawabnya.
" Sekarang kita mau ke mana?" tanya Intan yang memang tidak tahu.
" Gimana kalau kita jalan-jalan aja." usul Wildan yang memang saat ini sedang penat.
" Ya udah deh, kamu juga lagi pusing kan." jawabnya dengan tersenyum dan wildan pun mengangguk.
Mereka pun segera pergi menaiki motor Wildan, mereka pergi mengitari tempat-tempat di sekitar sana. Mereka sengaja pergi ke daerah persawahan, karena menurut mereka di daerah sana udaranya masih terbilang bersih. Dan udara yang mereka hirup dapat merubah suasana hati mereka, terutama suasana hati Wildan.
Mereka terus saja jalan-jalan, dan bahkan mereka sempat beberapa kali berhenti untuk mengambil foto. Mereka tampak sangat bahagia, walaupun dengan momen sederhana. Kini senyum ceria muncul di wajah Wildan, dan Intan menjadi ikut bahagia karena kekasihnya kini telah tersenyum dan melupakan kejadian yang sempat terjadi.
...----------------...
" Apa yang kamu dapatkan setelah mengikuti Hana?" tanya Rani yang merupakan dekan FKIP.
" Ternyata yang dibilang anak-anak memang benar, ada seorang mahasiswi bernama Gina. Mahasiswi itu selalu saja berusaha untuk menjatuhkan Hana, dan asal mama tahu ternyata Gina adalah saudara tiri dari Hana." jelas Arfi.
__ADS_1
" Ternyata kabar itu benar ya, mama nggak nyangka Hana harus menghadapi ini semua." ucapnya.
" Satu lagi ma, si Gina Ini anaknya songong banget. Bahkan dia sempat mengumbar harta kekayaan ayah Hana, dan dengan bangganya ia mengatakan kalau itu adalah hartanya. Dan bahkan dia sempat tidak suka kepadaku, dia juga mengancam kalau dia akan membuatku keluar dari kamu ke sini." jelas Arfi dan kini Rani menjadi semakin emosi.
" Berani sekali dia berbicara seperti itu padamu, dia itu bukan apa-apa di sini. Kamu tenang saja Arfi, mama akan keluarkan dia dari kampus ini. Semakin hari sifatnya semakin keterlaluan, mama tidak ingin kampus ini menjadi jelek karena oleh dirinya." jelas Rani.
" Itu adalah hal yang terbaik ma, semakin hari dia semakin banyak tingkah. Dan takutnya semakin hari dia akan mempengaruhi para mahasiswa dan masuk ke sini, dia itu anaknya sangat menyebalkan. Dan kalau aku perhatiin ya ma, sepertinya dia memiliki banyak musuh di kampus ini." jelas Arfi.
" Karena itu Mama memintamu untuk memperhatikan Hana, karena pastinya dia akan menyakiti Hana. Apalagi mama dengar dia sempat suka kepada pacarnya Hana, dia itu orangnya suka membuat masalah. Karena itu tidak heran kalau banyak mahasiswa yang tidak suka pada dirinya, tapi yang lebih parahnya lagi dia selalu saja menyalakan Hana atas itu semua." jelas Rani yang memang sudah sangat kesal dan sudah bosan mendengar tingkah Gina.
" Kalau begitu tunggu apa lagi ma, kita harus segera keluarkan dia dari kampus ini. Sebelum nama kampus ini tercoreng karena ulah dia, dan pastinya itu akan membuat banyak mahasiswa enggan untuk masuk ke sini." jelas Arfi.
" Kamu tenang saja Arfi, Mama akan mengurus semuanya dengan secepatnya." ucap Rani dan ia pun segera mengambil telepon genggamnya.
" Selamat siang Ibu Olivia, tolong besok Ibu dan juga Pak Deon ke ruangan saya sebentar ya." ucap Rani dengan langsung to the point.
" Baik ibu, besok saya dan pak Deon akan menuju ke ruangan ibu." jawabnya.
" Kalau begitu saya tunggu ya." ucapnya kemudian memutuskan sambungan telepon.
...----------------...
" Sudahlah, lebih baik aku langsung mengabari Pak Deon." ucapnya kembali lalu langsung hubungi Deon.
Ia pun langsung menghubungi Deon, tetapi karena telepon yang tidak diangkat-angkat. Akhirnya Olivia pun mengirimkan sebuah pesan, agar Deon langsung membacanya ketika melihat telepon genggamnya.
" Selamat siang pak Deon, esok hari kita diminta hadir ke ruang dekan." ucapnya dalam pesan tersebut.
" Mudah-mudahan saja dibaca sama pak Deon." ucap Olivia kemudian langsung menyimpan teleponnya.
...----------------...
" Assalamualaikum." ucap Hana yang baru memasuki rumah.
__ADS_1
" Waalaikumsallam, ayo makan siang dulu." ucap Gayatri mempersilahkan.
" Bunda di mana ya umi?" tanya Hana yang tidak melihat keberadaan bundanya.
" Bunda kamu sedang bekerja." jawabnya dan Hana kaget.
" Kenapa umi biarin bunda bekerja?" tanya Hana dengan ekspresi cemas.
" Umi tidak bisa melarang kepergian bundamu, bundamu akan merasa tidak nyaman kalau umi melakukannya. Awalnya umi juga sudah melarangnya, tetapi ia tetap saja pergi untuk bekerja. Umi rasa ia tidak nyaman berada di rumah ini, apalagi saat itu tidak ada kau di rumah." jelas Gayatri dan Hana pun mengangguk.
" Yang umi katakan emang benar, maafin Hana ya umi." ucapnya yang merasa tidak enak.
" Tidak apa-apa sayang, umi tahu kau pasti khawatir pada bundamu. Tetapi mau bagaimana lagi, Ini semua adalah keputusan bundamu. Umi juga tidak ingin membatasi kehendak bundamu, karena hal itu pastinya akan membuat dia tidak nyaman." jelas Gayatri.
" Yang kami lakukan tidak salah, kita memang tidak bisa membatasi keinginan bunda. Karena itu Hana sangat berterima kasih pada umi, umi mau membiarkan Hana dan Bunda menginap di sini saja Hana sudah sangat bahagia." ucapnya dengan tersenyum.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu yang tiba-tiba saja menggema, Gayatri pun dengan sigap membuka pintu tersebut. Dan kini ia melihat Mawar yang sedang berdiri di hadapannya, Ia pun langsung mempersilakan Mawar untuk masuk.
" Bunda sudah pulang?" tanya Hana dengan lembut kemudian langsung memeluk bundanya.
" Iya sayang, tampaknya kamu juga baru kembali ya?" tanya mawar dengan melihat tas bawaan Hana.
" Iya bunda." jawabnya dengan tersenyum.
" Kamu tidak usah tersenyum sayang, bunda tahu kamu sedang menutupi sesuatu dari bunda. Lebih baik kamu ceritakan saat ini pada Bunda, daripada nantinya kamu tersakiti." ucap Mawar dengan mengelus kepala Hana.
" Hana nggak lagi nutupin apa-apa kok bunda." jawabnya langsung dan tersenyum.
__ADS_1
" Kamu tidak usah berbohong Hana, bunda tahu kamu sedang menutupi sesuatu. Kalau kamu tidak mau berbicara sekarang bunda juga tidak masalah, tetapi kamu harus menceritakannya kepada bunda ya." ucap Mawar dengan tersenyum kemudian langsung menuju ke arah kamarnya.