
Kini kita kembali pada Cahaya, Cahaya yang masih panik Ia pun terus berlari menuju sekretariat fakultas. Ketika sampai di sekretariat, ia langsung merebahkan tubuhnya. Ia yang merupakan salah satu anggota, dan kini ia pun bertemu dengan Gubernur FKIP.
'' Cahaya, ada apa denganmu?'' tanya Faldo salah aku Gubernur FKIP.
'' Aku nggak kenapa-kenapa Gubernur.'' jawabnya dengan nafas terengah-engah.
'' Bohong kamu ya, itu aja kamu terengah-engah.'' ucapnya yang menatap sini.
'' Iya deh aku jujur, sebenarnya tadi aku ke sekretariat presiden mahasiswa.'' ucapnya.
'' Terus, apa yang membuatmu terengah-engah?'' tanya Faldo.
'' Ternyata lagi ada rapat di sana.'' ucapnya dan membuat Faldo teringat akan sesuatu.
'' Apa ada rapat, astaga aku lupa hari ini rapat. Aku pergi dulu ya, ingat nanti pintu dikunci kalau mau keluar.'' ucapnya yang terburu-buru berlari menuju sekretariat presiden mahasiswa.
'' Kebiasaan tuh anak, masih aja suka pelupa. Aku jadi heran deh, kenapa dia bisa jadi gubernur.'' ucapnya dengan menatap kepergian Faldo.
'' Uda deh mending aku tidur, nanti kalau uda siap rapat paling dia juga balik. Nah di situlah waktunya aku jumpai Wildan, kalau sekarang mah nggak bisa. Aku kan bukan anggota presiden mahasiswa, aku tuh hanya anggota gubernur.'' ucapnya dengan menghelan nafas.
Cahaya pun tertidur di dalam sekretariat, tanpa terasa Faldo pun sudah kembali. Ia pun melihat cahaya yang sedang tertidur, dengan sigap Ia pun membuka lemari dan menyelimuti Cahaya. Cahaya yang merasakan ada pergerakan, ia pun membuka matanya. Dan ternyata di hadapannya, kini sedang ada Faldo yang menyelimutinya.
'' Eh Gubernur.'' ucapnya yang baru tersadar dari tidurnya.
'' Uda bangun kamu, baru juga aku mau selimuti.'' ucapnya dengan masih memegang selimut tersebut.
'' Eh nggak usah gubernur, aku juga udah bangun.'' ucapnya dengan tersipu malu.
'' Ya udah kalau gitu.'' ucapnya kemudian duduk di sofa sebelah Cahaya.
'' Sepertinya kau tampak capek ya?'' tanyanya.
'' Nggak kok gubernur, cuma sedikit.''ucapnya dengan malu-malu.
'' Kalau capek juga nggak apa-apa, untuk sementara ruangan sekretariat HMJ juga terpakai kan. Istirahat aja di sini, lagian sekretariat Gubernur FKIP juga selalu kosong. Hanya akan ramai bila ada rapat.'' ucapnya dengan tersenyum.
'' Iya gubernur, nanti saya sampaikan juga ke anak-anak yang lain.'' ucapnya dengan gugup.
__ADS_1
'' Sungguh imutnya dia.'' batin Faldo dengan menatap Cahaya.
Tiba-tiba saja handphone Cahaya berdering, dan ternyata yang menelpon adalah Intan. Intan merupakan wakilnya di HMJ, dengan sigap ia pun mengangkat telepon itu. Karena ia tau, jika Intan sudah menelpon. Pastinya hal itu sangat penting, dan sangat memerlukan kehadirannya.
'' Iya Intan ada apa?'' tanyanya langsung to the point.
'' Sekarang segera ke lapangan, ada yang pingsan.'' ucapnya dari seberang telepon.
'' Anak PMI tidak ada di sana?'' tanya cahaya dengan nada panik.
'' Ada tapi ini ada urusannya dengan kita, tadi aku baru saja membaca rekam medisnya.'' ucapnya dengan lantang.
'' Rekam medis, berarti dia sering sakit?'' tanya Cahaya kembali.
'' Iya benar dia sedang sakit, tapi anggota kita yang paling pintar satu itu. Malah memberi dia hukuman, dan tidak mempertimbangkan rekam medisnya. Dan sekarang maba itu pingsan, kita nggak bisa biarin gitu aja. Hila kabar Ini terdengar sampai atas, kita yang bahaya.'' jelasnya dari seberang telepon.
'' Oke aku akan segera ke sana.'' ucapnya kemudian mematikan sambungan telepon.
'' Siapa yang telepon?'' tanya Faldo.
'' Intan, wakilku di HMJ.'' balasnya.
'' Ada mahasiswa yang pingsan?'' ucapnya.
'' Loh ada yang pingsan, terus apa hubungannya sama dirimu?'' tanyanya.
'' Ada dong hubungannya sama aku, karena aku adalah ketua HMJ. Dan ia adalah mahasiswa jurusan ku, ia pingsan bukan tanpa sebab. Ia pingsan karena mendapat hukuman, tetapi yang menghukum tidak melihat terlebih dahulu rekaman medisnya. Jadi saat ini ia pingsan, dan orang pertama yang akan mempertanggung jawabkan. Pastinya adalah aku, karena itu aku harus segera pergi ke sana.'' jelasnya dan membuat Faldo mengganggu.
'' Wah bisa gawat tuh, aku ikut boleh?'' tanyanya.
'' Boleh.'' jawab Cahaya, kemudian mereka langsung pergi menuju lapangan.
Tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka berdua pun sampai. Semua mahasiswa yang melihat kedatangan mereka, mereka sungguh kaget. Karena Cahaya datang bersama dengan Faldo, yang kabarnya sifatnya hampir sama dengan Wildan.
'' Intan, dimana mahasiswa yang pingsan?'' tanya Cahaya.
'' Di sana.'' jawabnya dengan menunjuk tempat keberadaan mahasiswa itu.
__ADS_1
Cahaya pun segera pergi ke tempat yang ditunjuk oleh Intan, dan Faldo pun mengikutinya dari belakang. Cahaya berjongkok ingin bertanya kepada mahasiswa itu, Faldo tiba-tiba mendahului Cahaya dan menyentuh mahasiswa itu. Cahaya menjadi emosi dengan Faldo, ia pun membentak Faldo.
'' Faldo, kenapa kamu duluan. Kan aku ketua HMJ, kenapa jadi kamu.'' bentaknya.
'' Dia itu lak...'' ucap Faldo yang tiba-tiba terhenti.
'' Dia itu apa?'' tanyanya.
'' Nggak kok, aku kak gubernur FKIP. Jadi aku yang lebih bertanggung jawab atas dia.'' ucapnya.
'' Iyalah tuh gubernur.'' ucapnya.
Semua mahasiswa yang melihat menjadi heran, mereka melihat wajah cemburu dari Faldo. Tetapi Cahaya tidak menyadarinya, dan bahkan ia sampai berdebat karena seorang mahasiswa yang pingsan. Mereka menjadi menanti kelanjutan hubungan antara keduanya, dan tampak akan sulit karena Cahaya tidak peka.
'' Harus dong, kondisinya baik-baik aja.'' ucapnya dengan memeriksa denyut nadinya.
Semua merasa heran mendengar perkataan Faldo, karena sebelumnya mahasiswa itu pingsan. Dan kini ia baru bangun, tetapi Faldo mengatakan hal seperti itu. Dan mahasiswa itu langsung berlari, semuanya memperhatikan mahasiswa itu berlari ke arah ruang dosen.
'' Eh dia masuk ruang dosen.'' Ucap Faldo yang melihat ke arah mahasiswa tadi.
'' Aku jadi penasaran, siapa sebenarnya dia.'' ucap Cahaya yang masih berpikir.
Tiba-tiba saja pada teringat dengan sebuah nama, dan itu adalah anak dari dosen di sini.
'' Apa jangan-jangan dia anak dari Bu Yuni ya.'' tebak Faldo.
Semuanya tersentak kaget, mereka semua tau siapa Bu Yuni. Dan apa yang akan mereka dapatkan, bila berurusan dengan Bu Yuni. Dosen killer, yang merupakan wakil dekan 2.
'' Yang benar aja gubernur?'' tanya Intan.
'' Ya aku ngomong kebenarannya, karena aku dengar kalau anak Bu Yuni kuliah disini.'' ucapnya.
'' Wah, kalau begitu kemungkinan besar dia anak Bu Yuni.'' ucap Cahaya.
'' Ya begitulah.'' ucap Faldo yang masih menatap ke arah kantor dosen.
'' Terus gimana dong ini.'' ucap Intan yang sedang panik.
__ADS_1
'' Kalian tenang aja, tadi aku uda sempat rekam. Jadi kalau dia ngadu yang aneh-aneh, tinggal kita kirim aja vidio itu ke Bu Yuni.'' ucapnya dengan tersenyum.