
" Kebetulan tugasnya dikumpul hari ini, hehehe." ucap tidak dengan tertawa.
" Ya ampun Tina, kau ini kebiasaan seperti ini. Ya udah aku aja yang ngerjain, kalau harus ngajarin kamu dulu pasti lama. Dan aku yakin tugas ini tidak akan dikumpul, dan setelah itu kau akan nangis-nangis karena nilaimu tidak ada." jelas Wildan yang kesal kemudian langsung mengerjakan tugas Tina.
" Makasih Wildan, kau memang teman terbaikku." ucap Tina dengan tersenyum.
" Udah kamu duduk aja, nggak usah ganggu aku. Kalau kamu sampai ganggu aku, jangan salahkan aku bila tugasmu tidak siap." ancam Wildan dan Tina pun segera duduk.
Tiba-tiba saja ada yang datang, dan ternyata itu adalah Rio. Rio pun melihat bulan yang sedang sibuk, akhirnya ia yang penasaran pun menanyakan apa yang sedang dikerjakan oleh Wildan.
" Apa yang sedang kau kerjakan?" tanya Rio yang penasaran.
" Dari pada kau bertanya padaku, mending kau tanya pada pacarmu yang cantik itu." jawab Wildan dengan tidak mengalihkan pandangannya dari tugas Tina, dan dia pun langsung menatap Tina.
" Sebenarnya itu adalah tugasku." jawabnya dengan tersenyum, dan dia pun menepuk jidatnya.
" Memangnya kapan dikumpul?" tanya Rio untuk memastikan.
" Sebenarnya hari ini." ucapnya yang canggung kemudian merindukan kepalanya.
" Ya ampun Beb, kenapa kau nggak bilang sama aku. Kan bisa aku bantuin kerjain, kalau sekarang ngajarin nggak keburu." ucap Rio.
" Ya karena itu, makanya aku yang ngerjain tugas dia. Bukan dia yang ku ajari, kau tahu lah ngajarin dia itu lama." jelas Wildan.
" Ya udah sini aku aja yang ngerjain." ucap pria yang ingin mengambil tugas Tina.
" Sudahlah, lagian sudah aku kerjain. Mending kau bantu dia mengerjakan tugas yang lain, sepertinya dia sedang banyak tugas." ucap Wildan dan Rio pun langsung mengarahkan pandangannya ke arah Tina.
" Ada lagi tugasmu?" tanya Rio untuk memastikan.
" Ada." jawab Tina dengan singkat kemudian pandangannya terarah ke buku yang ada di hadapannya.
__ADS_1
" Ya udah sini, aku bantuin mengerjakannya." ucap Rio yang langsung duduk di sebelah Tina.
Ruangan itu tampak hening, mereka semua mengerjakan tugas Tina yang sudah menumpuk. Setelah kurang lebih satu jam, akhirnya tugas Dina pun selesai.
" Akhirnya selesai juga." ucap Tina yang meregangkan tangannya.
" Tugasmu ini juga sudah selesai." ucap Wildan yang menyerahkan tugas Tina kepada Tina
" Makasih semuanya, aku nggak tahu deh kapan akan selesai kalau misalnya nggak ada kalian. Akhirnya tugasku telah selesai, dan tinggal menunggu waktu pengumpulan." jelas Tina.
" Iya nggak papa, ih iya tugasmu yang aku kerja itu kapan mau dikumpul. Bukannya tadi kau bilang dikumpul hari ini ya?" ucap Wildan dan Tina pun segera melihat jam tangannya.
" Oh tidak…batas waktu pengumpulannya 10 menit lagi." teriak Tina yang panik.
" Sudahlah jangan berteriak, lebih baik kau segera pergi ke sana. Kalau kau berlama-lama di sini, maka tugasmu tidak akan diterima lagi." jelas Wildan dan Tina pun segera berlari menuju fakultasnya.
" Sorry ya Dan, aku nggak tahu kalau tidak ada tugas." ucap Rio yang merasa bersalah.
" Iya sih, tapi aku kan sekarang udah menjadi pacarnya. Jadi aku seharusnya harus bisa membantu dia, dan tidak perlu merepotkan dirimu lagi Wil." jelas Rio.
" Iya kau memang sudah menjadi pacarnya, tetapi pastinya ia merasa segan untuk bercerita kepadamu. Mungkin kau yang harus hiperaktif untuk menanyakan apakah dia memiliki tugas atau tidak, apalagi kau juga mengetahui kalau Tina adalah orang yang mudah segan." jelas Wildan dan Rio pun mengangguk.
" Yang kau bilang sungguh sangat benar, mulai sekarang aku akan selalu menanyakan apakah dia ada tugas atau tidak. Karena bila kejadian seperti ini terus terjadi, aku akan merasa tidak berguna sebagai pacarnya. Padahal aku selalu menghabiskan waktu bersama dengannya, tetapi aku tidak bisa membantu dirinya." jelas Rio.
" Sudahlah Rio, jangan kau bahas lagi. hal yang terjadi hari ini, biarlah terjadi dan jangan kau sesali. Karena percuma saja kau menyesalinya, waktu tidak bisa diputar kembali. Dan spidol permanen yang sudah tertoreskan tidak mungkin bisa terhapus." jelas Wildan.
" Makasih ya dan, kau selalu saja ada disaat aku sedang bimbang. Aku akan pastikan kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi, karena aku merasa malu pada dirimu." jelas Rio.
" Yang berbuat aja tidak merasa malu, ngapain kau merasa malu. Udahlah Ini udah nggak penting, jadi nggak usah dipikirkan lagi." jelas Wildan.
" Yang kau bilang memang benar, Ya udah deh kita ke kantin yuk. Kebetulan aku sedang lapar." ucap Rio dan mereka pun segera pergi menuju kantin.
__ADS_1
Mereka berdua pun sudah tiba di kantin, kini mahasiswa dan mahasiswi sedang membahas hubungan antara Wildan dan juga Intan. Awalnya Wildan merasa risih, tetapi lama-kelamaan ia berusaha membiasakan diri. Karena ia juga sudah merasa lapar, dan percuma saja bila dia mencari ke kantin yang lain. Karena pastinya hal itu akan sama saja, di mana-mana juga akan membicarakan tentang ia dan juga Intan.
Mereka pun makan dengan lahapnya, setelah selesai makan. Akhirnya Tina pun datang menghampiri mereka, ia datang dengan wajah yang ceria. Dan hal itu justru membuat mereka berdua menjadi heran, karena Tina tidak pernah seperti itu sebelumnya.
" Apa yang membuatmu bahagia beb?" tanya Tina.
" Ya aku seneng banget, karena tugasku di puji sama dosen." jelasnya.
" Ya ampun, yang ngerjain siapa. Yang dapat pujian siapa, nggak enak banget." ucap Wildan.
" Kayak nggak biasa aja kau Wil." ucap Rio dengan menatap Wildan.
" Ya karena uda biasa makanannya aku mengeluh." jawabnya.
" Ya maaf, tapi makasih ya uda bantuin." ucap Tina dengan tersenyum.
" Iya, sebenarnya ogah kalau kau bukan teman ku dan juga pacar sih Rio." ucap Wildan.
" Udahlah Bro, jangan gitu napa. Nanti ni anak mewek loh, kau mau tanggung jawab." ucap Rio.
" Boleh, tapi kita bagi dua. Kau yang nanggung dan kau yang jawab, hehehe." ucap Wildan kemudian langsung pergi meninggalkan keduanya.
" Eh kau mau kemana?" tanya Rio.
" Mau jumpai sayangku la." ucapnya dengan tersenyum kemudian langsung pergi, Rio dan Tina hanya menggelengkan kepalanya saja sedang yang lain yang awalnya bergosip yang aneh-aneh tentang Intan mereka menjadi kebingungan.
" We, aku nggak salah denger kan?" tanya mahasiswa itu pada temannya.
" Nggak kok, aku juga dengar soalnya." jawab tamannya.
" Kalau begitu, gosib itu salah dong." ucapnya kembali.
__ADS_1
" Ya sepertinya begitu, kau sudah lihat kan. Ternyata sih Wildan sebucin itu, mulai sekarang aku akan jadi fans mereka." ucapnya dan membuat Rio dan Tina tertawa.