
" Bunda jadi penasaran, apakah kau punya foto calon keluarga ayahmu?" tanya bunda yang penasaran.
" Nggak bun, aku cuma cuma foto anaknya saja." jawab Hana.
" Yasudah tidak apa-apa, bolehkah bunda melihatnya." ucap bunda Mawar.
" Tentu boleh Bun, ini fotonya." ucap Hana dengan memberikan handphone dan menunjukkan foto Gina.
Bunda pun syok melihat foto itu, ia mengenal gadis itu. Tetapi ia bingung harus mengatakan apa pada anak-anaknya.
" Bunda mengenalnya?" tanya Hana yang melihat wajah bundanya.
Bunda pun hendak menjawabnya, tetapi ia masih bingung harus mengatakan apa. Tiba-tiba saja ada yang datang, dan menggagalkan niat bunda.
Tok
Tok
Tok
" Assalamualaikum." ucap seseorang di luar.
" Sepertinya ada orang di luar bun, Hana bukakan pintu dulu." ucapnya kemudian langsung pergi dari hadapan bundanya.
" Syukurlah ada yang datang, sebenarnya bunda juga masih bingung. Harus mengatakan yang bunda ketahui atau tidak." batin bunda kemudian menyusul Hana.
" Kakak, kok baru pulang. Kakak dari mana saja?" tanya Hana yang penasaran.
" Siapa yang datang sayang?" tanya bunda dan kini bunda berada di samping Hana.
" Loh anak bunda yang ganteng dari mana aja, kenapa baru pulang?" tanya bubur dengan memeluk bunda.
" Tumben kakak meluk bunda, kakak ada masalah?" tanya Hana.
" Hana, kakakmu kan juga anak bunda. Jadi wajar aja dong sayang." ucap bunda.
" Iyalah tuh, yang sekarang jadi anak kesayangan bunda." ucap Hana dan ia pun ingin segera pergi, tapi tiba-tiba Wildan menarik tangan sang adik. dan akhirnya mereka berpelukan bertiga.
__ADS_1
" Sekarang jangan ngambek lagi ya adik aku yang cantik, kita berbagi kasih sayang bunda." ucap Wildan dengan tersenyum.
" Ok kak." jawabnya.
" Nah kalau gini kan bunda senang, anak-anak bunda akur." ucap bunda dengan mengelus kepala kedua anaknya.
" Bagaimana ya pernikahan ayah besok, mana Anas belum mendapatkan bukti lagi. Kalau dibiarkan takutnya akan berbahaya untuk ayah, tapi kalau mau membatalkan harus ada bukti yang kuat." batin Wildan yang tampak bingung.
" Sayang, kau sepertinya sedang banyak pikiran." ucap bunda dengan menatap wajah Wildan.
" Iya, seperti begitu. Apa kakak masih bingung mau magang dimana?" tanya Hana.
" Iya dek." jawabnya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Yauda sini bunda bantuin." ucap bunda kemudian melepaskan pelukan mereka.
" Kalau mau bahas tentang bisnis, Hana mau masuk aja. Lagian uda malam juga, dan Hana juga nggak akan mengerti apa yang akan bunda dan kakak bicarakan." ucap Hana kemudian ia pun segera masuk kedalam kamarnya.
" Kau jangan marah ya, adikmu memang seperti itu." ucap bunda dengan tersenyum dan melihat kepergian anak bungsunya itu.
" Memangnya apa yang mau kakak ceritakan?" tanya bunda yang penasaran.
" Ini tentang ayah, bun." ucapnya.
" Ya sudah, sini duduk dulu. Kakak cerita aja sama bunda, insyaallah bunda bisa bantu." ucap bunda.
Wildan pun akhirnya menceritakan semuanya, termaksud pertemuan Hana dan ayahnya yang memang sengaja ia atur. Dan juga pertemuan dengan Anas, karena mengikuti sang ayah. Bunda sangat kaget mendengar penuturan dari anaknya itu, Tetapi ia tidak terkejut dengan semua itu. Karena ia mengenal siapa itu Tami, dan kejadian seperti ini hanya hal kecil saja.
" Bunda tidak heran dengan semua itu." ucap bunda.
" Bunda seperti mengenal Tante Tami." tebak Wildan.
" Ya bunda mengenalnya, ia bahkan melakukan segala cara apapun asal semua kemauannya tercapai." ucap bunda dan Wildan pun kaget mendengar penuturan bundanya.
" Sepertinya bunda mengenal tante Tami?" tanya Wildan yang merasa aneh.
" Dia teman sekolah bunda dulu." jawab bunda dan Wildan pun kaget mendengar itu.
__ADS_1
" Apa, bunda yang benar?" tanya Wildan untuk memastikan.
" Iya sayang." ucapnya dengan tersenyum.
" Lalu bagaimana cara kita menghentikannya?" tanya Wildan.
" Kalau untuk itu, bunda juga nggak tau. Seperti yang kau bahas dengan Anas tadi, jadi kalian harus cari bukti terlebih dahulu." ucap bunda.
" Kalau begitu doain ya bun, biar kakak dan Anas bisa secepatnya menemukan buktinya." ucap Wildan dengan memeluk bundanya.
" Iya sayang, bunda akan doain terus. Bunda juga nggak berharap, ayahmu terjerumus dengan wanita yang salah. Karena itu akan berdampak pada kalian, dan bila kalian tersakiti, bunda juga akan tersakiti." ucap bunda dengan memeluk Wildan.
...----------------...
" Yang dikatakan oleh Anas sepertinya benar, tapi aku tidak bisa membatalkan pernikahan secepat itu. Apalagi tidak ada bukti yang kuat, kalau begitu aku harus memikirkan rencana lain." ucapan Yuda yang kini berada di kamarnya.
" Tidak ada cara lain, sepertinya aku harus melakukan ini. Ini semua demi keberlangsungan hidup anak-anakku, bila memang suatu saat hal buruk itu akan terjadi padaku." ucapan Yuda kemudian segera mengambil teleponnya dan menghubungi seseorang.
" Halo pak ak Dimas, bisa datang ke rumah saya sekarang?" tanya Pak Yuda.
" Bisa lak Yuda, dalam 30 menit saya akan tiba di rumah Pak Yuda." jawab Pak Dimas kemudian sambungan telepon pun langsung dimatikan.
* 30 menit pun sudah berlalu.
Pak Dimas sudah sampai di depan rumah pak Yuda, ia pun langsung mengantuk pintu. Dan pak Yuda membukakan pintu itu, kemudian mempersilahkan pak Dimas untuk duduk. Dan mereka mulai melakukan perbincangan.
" Maaf sebelumnya pak Yuda, sebenarnya ada apa ya bapak meminta saya malam-malam ke sini?" tanya pak Dimas yang penasaran.
" Saya ingin membuat surat wasiat pak." ucapan Yuda dan membuat pak Dimas kaget.
" Saya tidak salah dengar pak, bukannya besok bapak ingin menikah. Mengapa bapak ingin membuat surat wasiat?" tanya Dimas yang penasaran.
" Saya punya firasat tidak enak dengan pernikahan saya, tetapi saya tidak bisa membatalkannya. Jadi karena itu saya ingin menulis surat wasiat untuk kedua anak saya, agar jika suatu saat terjadi sesuatu kepada saya. Anak saya bisa hidup dengan damai, dan tidak perlu memikirkan tentang biaya hidup." ucapan Yuda dan Dimas pun hanya mengangguk saja.
" Baik bapak, Ini pulpen dan juga kertas yang sudah saya siapkan. Bapak silakan tulis apa saja yang ingin bapak sampaikan di sana, dan saya akan membantunya dengan memberi tanda tangan dan juga stempel dari perusahaan." ucap Dimas.
Setelah beberapa jam akhirnya surat wasiat itu telah selesai ditulis, dan kini Yuda menyerahkan surat itu kepada Dimas. Dan kemudian menyetel surat itu pertanda kalau surat itu adalah asli, dan kemudian Dimas segera menyimpannya di sebuah map khusus. Agar tidak ada yang bisa mengambilnya, dan data di dalamnya akan selalu aman.
__ADS_1