
" Tetapi bunda sangat menyesalinya, seandainya dulu ayah dan bunda tidak berpisah. Pastinya adik kecilmu itu masih ada sampai sekarang, dan kau pasti bisa melihat wajahnya yang sangat cantik." jelas mawar yang mengingat putrinya yang sudah meninggal.
" Apa, jadi ketika kita berpisah kau mengandung?" tanya Yuda yang tiba-tiba saja muncul.
Kini Mawar menjadi kaget dengan kehadiran Yuda, ia pun tidak bisa mengatakan apa-apa. Kini ia hanya mengangguk saja, pertanda apa yang dikatakan oleh Yuda memanglah. Dalam sekejap Yuda pun menjadi duduk bersimpuh, ia pun kini menangis jadi-jadinya. Karena atas kebodohannya, ia telah kehilangan anak bungsunya.
" Maafkan aku Mawar, andai saja dulu aku tidak berselingkuh. Kau pasti tidak akan menuntut perpisahan tersebut, dan pastinya gini ada kita masih ada sampai sekarang." ucap Yuda dengan menggenggam tangan Mawar.
" Sudah terlambat untuk meminta maaf mas, sekarang yang aku inginkan hanyalah satu. Tolong kau perlakukan Hana dengan sebaik-baiknya, dan juga jangan pernah kau kecewakan Wildan lagi. Mereka berdua sudah sama-sama tersakiti karena ulah kita berdua, jadi jangan tambahin rasa sakit mereka. Biarkan mereka bahagia dengan apa yang mereka inginkan, kita sebagai orang tua hanya bisa membimbing mereka ke jalan yang terbaik menurut versi kita. Tetapi yang menentukannya adalah mereka, biarkan saja mereka memilih jalan takdirnya sendiri." jelas Mawar dan Yuda pun mengangguk.
" Aku tidak akan memaksakan kehendak ku, dan untuk kamu Wildan. Pilihlah jalanmu yang terbaik, dan syah mohon untuk kau selalu menjaga Hana. Ayah sudah mendapatkan laporan dari bodyguard yang ayah suruh untuk menjaga Hana, dan ayah yakin Hana juga telah mengatakannya kepadamu. Jujur saja ayah sangat mengkhawatirkan kalian, sebenarnya ayah sangat bingung harus cerita dari mana. Tetapi ibu tiri kalian sangatlah berbeda dari apa yang kalian bayangkan, bahkan ayah juga tidak mengetahui sifat aslinya." jelas Yuda dengan ekspresi khawatir.
" Aku sudah mengetahuinya semua ayah, dan bahkan aku juga sudah bertemu dengan Anas." jelas Wildan dan Yuda pun tersentak mendengar hal itu.
" Jadi kau sudah mengetahui semuanya, lalu kenapa kau tidak mengatakan kepada ayah?" tanya Yuda yang heran.
" Sebenarnya aku sudah sangat ingin memberitahu ayah, tetapi sepertinya ayah sudah memiliki rencana. Karena itu aku tidak ingin mengganggu rencana ayah, dan berusaha untuk menyusun rencana aku sendiri." jelas Wildan dan Yuda pun hanya mengangguk saja.
" Yang kau katakan memang benar Wildan, ayah memang sudah menyusun rencana. Kalau begitu ayah berharap kepadamu, bila rencana Ayah nantinya gagal kau dapat menjaga bunda dan juga adikmu." jelas Yuda dengan mengelus kepala Wildan.
" Kalau mengenai soal itu, Wildan akan menjaga bunda dan juga Hana ayah. Ayah tenang saja, sekarang lebih baik kita pikirkan rencana untuk tante Tami dan juga anaknya Gina." jelas Wildan.
" Yang kau katakan memang benar Wildan, dan ayah berharap semuanya segera berakhir." ucapnya yang memang sudah lelah lelah.
Kini keduanya pun langsung berpelukan, Mawar sangat senang melihat interaksi dari keduanya. Ia sudah sangat lama merindukan momen-momen saat ini, dan ia berharap momen ini akan terus ada. Walaupun nantinya ia sudah tidak ada, ia tetap berharap apa yang ada di depan matanya terus terjadi.
" Bunda mau gabung?" tanya Wildan.
" Nggak sayang, bunda sudah bukan mahram lagi dengan ayahmu. Jadi sudah tidak mungkin, jadi kalian aja yang pelukan." ucap Mawar.
" Ya sudah kalau begitu, tapi kalau sama Wildan aja mau kan?" tanyanya dan langsung berhambur ke pelukan Mawar.
" Kau ini ya Wildan, dasar menyebalkan." ucap Mawar dengan tersenyum.
__ADS_1
Kini mereka bertiga pun tertawa, dan tiba-tiba kini Hana pulang. Ia sangat bahagia melihat tawa dari ketiganya, dan ia pun ikut berhambur.
" Ayah dan bunda sangat menyebalkan, dan kak Wildan juga nggak enak. Bukannya kasih tau Hana kalau ayah sayang, eh ini malah ikut-ikutan ayah dan bunda." ucapnya dengan memajukan bibirnya.
" Cep-cep sayang, jangan nangis dong." ucap Wildan kemudian langsung memeluk Hana.
" Lepasin kak, aku masih ngambek." ucapnya dan semuanya menjadi tertawa.
" Ih, kenapa jadi pada tertawa si." tambahnya dengan menghentakkan kakinya karena kesal.
" Gimana kami tidak tertawa sayang, tingkah ngambek mu sungguh sangat lucu." ucap Mawar dengan tersenyum.
" Ih bunda." ucapnya yang kesal.
" Makanya jangan ngambek ya." ucapnya dengan mengelus kepala Hana.
" Iya deh aku mau ngambek lagi, tapi hanya juga mau dipeluk ayah." ucapnya dengan tersenyum dan melihat ke arah ayahnya.
" Yauda sini ayah peluk." ucap Yuda dengan melebarkan tangannya untuk Hana masuk ke dalam pelukannya, dan Hana pun langsung memeluk Yuda.
" Halo." ucap Yuda untuk mengawali telepon.
" Mas dimana sekarang?" tanya Tami yang penasaran.
" Mas singgah dulu kerumah Hana, kebetulan lagi pindah rumah." jelasnya.
" Yauda kalau begitu, pulangnya jangan malam-malam ya mas." ucapnya dengan selembut mungkin.
" Kenapa di mana-mana semuanya Hana, sepertinya ia memang berusaha mencari masalah dengan ku." batinnya yang tidak terima dengan kedekatan anak tirinya dengan suaminya itu.
" Sayang, kau ada di mana?" tanya Yuda yang merasa tidak ada kehadiran Tami di sebrang telepon.
" Eh iya sayang, maaf tadi aku tiba-tiba kepikiran sesuatu." jelasnya.
__ADS_1
" Yauda gak masalah, maaf ya. Mungkin hari ini aku pulang malam, nggak tega aku biarin Wildan angkat barang sendiri." jelas Yuda.
" Yauda gpp, tapi jangan malem kali ya. Aku takut di rumah sendirian." jelas Tami.
" Memangnya Gina ke mana?" tanya Yuda yang penasaran.
" Biasalah anak muda, mereka sedang main keluar." jelasnya.
" Ya uda, secepatnya aku akan pulang." jawabnya.
" Kalau begitu, hati-hati ya mas." ucap Tami mengakhiri telepon.
" Kenapa ayah?" tanya Wildan yang penasaran.
" Nggak ada masalah, hanya saja Tami bilang dia di rumah sendirian." jelas Yuda.
" Yauda, kalau begitu mas Yuda pulang aja. Biar kami yang mengurus semuanya." jelas Mawar.
" Kamu yang bener?" tanya Yuda.
" Iya mas, ingat mas. Walau bagaimanapun Tami adalah istri mas, lebih baik mas pikirkan Tami saja. Jujur aku nggak enak, mas lihat aja sendiri." jelasnya dengan ekspresi yang sangat aneh.
" Tapikan aku..." ucapnya yang terhenti.
" Aku tau mas menghawatirkan kami, tapi saya sudah bukan tanggung jawab mas lagi. Dan kini yang menjadi tanggung jawab mas adalah Tami, dan saya tidak akan pernah menghalangi mas bertemu dengan anak-anak. Karena walau bagaimanapun mereka tetap anak mas." jelas Mawar dan Yuda pun tersenyum.
# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.
1. Naura Abyasya
2. Rela Walau Sesak
4. Sepahit Sembilu
__ADS_1
5. Azilla Aksabil Husna