Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 25


__ADS_3

" Kau kira dengan kata maaf dari mu, Tina bisa sembuh dari luka dengan secepat itu." ucapnya.


Hana hanya diam, ia merasa kini ia berada di tempat yang salah. Ia ingin pergi keluar dari ruangan itu, karena ia malas melihat perdebatan antara mereka. Tetapi tiba-tiba saja Tina memanggil nya, dan Tina meminta Hana untuk juga membawanya pergi dari kamarnya. Kini mereka berada di ruang utama, sang mama yang merasakan keanehan karena putrinya berada di luar. Akhirnya ia pun menemui putrinya itu.


" Sayang kau kan lagi sakit, untuk apa kau di sini?"tanya mama Tina.


" Aku sedang males mendengar perdebatan mah." jawabnya dan membuat sang mama bertanya-tanya.


" Perdebatan antara siapa sayang?" tanyanya.


" Perdebatan antara Zico dengan Wildan dan juga Rio ma, terus kenapa sih kok bisa ada di sini mah?" tanyanya dengan menatap semua.


" Loh kenapa mereka berdebat, dan lagian kenapa kamu nanya Zico di sini. kan udah biasa Zico main ke sini, apalagi saat ini kau sedang sakit." jelas sama mama yang masih merasa bingung.


" Untuk saat ini konsepnya beda ma, sebenarnya Tina nggak mau cerita. Tapi karens udah terjadi hal seperti ini, Tina harus cerita sama mama. Sebenarnya Tina sama jiko udah putus ma." jelasnya dan membuat sang Mama kaget.


" Kok bisa putus, dan kapan putusnya?" tanya sama mama dengan ekspresi kaget.


" Tina putus sama Zico udah sebulan yang lalu mah, dan itu semua karena Tina tahu kalau jika selingkuh." jelas Tina dan membuat sama mama menjadi tambah kaget.


" Apa jadi Zico selingkuh." ucap suara yang baru saja muncul, semua yang mendengar suara itu menjadi kaget. Suara yang amat dalam dirindukan oleh mereka, tetapi sayangnya suara itu muncul di saat yang tidak tepat.

__ADS_1


" Alvin kau pulang" ucap sang mama dan langsung memeluk Putra sebelumnya itu.


" Iya mah ini Alvin, Mama jangan nangis. Alvin sudah pulang sekarang mah, dan Alvin nggak kan biarin Tina disakiti oleh siapapun. Tina sekarang di mana Zico?" ucap dan membuat Tina dan juga Hana gemetaran.


" Zico ada di kamar Tina Kak." jawabnya yang masih gemetaran.


Dengan tanpa menjawab sepatah kata pun, Alvin langsung berlari menuju kamar Tina. Ia pun langsung membuka pintu kamar tersebut, dan ia langsung melihat wajah Zico, Wildan, dan juga Rio. Alvin tampak tidak mempedulikan bidan dan juga Rio, Iya langsung menarik kerah baju Zico dan membawanya keluar dari kamar Tina.


Rio dan wildan sontak saja kaget melihat kehadiran dari Alvin, Kakak Tina yang dikabarkan telah menghilangkan karena kecelakaan pesawat. Sosok yang sangat dirindukan dan paling menyayangi Tina tersebut, kini muncul dan pastinya akan melindungi adik kesayangannya itu. Sosok yang memiliki sorot mata tajam itu, kini menatap dengan sangat tajam dan membuat mereka merinding.


Sosok itu tidak banyak berkata, ia langsung menggeresiku ke arah luar. ketika sampai di luar, Alvin langsung memukul Zico. Ia sangat tidak terima, karena Zico telah menyakiti adik kesayangannya. Setelah cukup lama mereka bertengkar, Alvin pun langsung mengusir Zico.


Zico tanpa kebingungan, ia sebenarnya ingin bersuara dan berkomentar. tetapi entah kenapa, mulutnya seperti tidak bisa terbuka. Sorot mata tajam dari Alvin, membuatnya sangat ketakutan dan juga merinding.


" Maaf Kak, Zico o belum selesai. Zico mau bicara sama Tina." ucapnya dengan lembut.


" Nggak usah banyak tapi-tapian, dan gak usah pura-pura lembut. Aku udah tahu Kok, kau itu selingkuh. Dan sampah masyarakat seperti mu ini, seharusnya dimusnahkan dari muka bumi ini." ucap Alvin yang masih terbakar api amarah.


Setelah mendengar ucapan dari Alvin, Zico pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan rumah tersebut. Kini ia berada di dalam mobilnya, dan kini ia terus meratapi kebodohannya. Orang yang paling is sayangi dan paling mengerti ia, telah ia sia-siakan demi seseorang yang hanya ingin menikmati hartanya saja.


Zico terus meratapi kebodohannya, dan penyesalan itu terus menghantuinya. tetapi melihat respon dari Alvin, kemungkinan untuk dia dan Tina kembali sangatlah kecil. dan mungkin itu hanyalah mimpi semata.

__ADS_1


...----------------...


" Tina kakak ingin penjelasan darimu." ucapnya dengan sorot mata tajam dan masuk ke dalam rumah.


Mereka semua pun duduk di ruang utama, kemudian Alvin menatap mata mereka satu persatu dengan sorot yang sangat tajam. Tidak ada satupun dari mereka yang berkutik, sorot matanya saja sudah membuat mereka semua merinding. Tidak terkecuali Hana, yang kali ini baru pertama bertemu dengan Alvin.


" Coba kau jelaskan secara detail pada kakak!" perintah Alvin.


Tina pun mulai menceritakan kejadian sebulan yang lalu, awalnya ia sedang pergi bersama dengan Wildan dan juga Rio. Karena menjalankan tugasnya sebagai sekretaris, ia pun harus menyiapkan begitu banyak hal untuk pelaksanaan MPLS. Dan disaat perjalanan, tiba-tiba saja dia bertemu dengan Zico. Yang saat itu ia sedang bergandengan tangan dengan seorang wanita, yang tidak diketahui siapa tetap sangat erat mengandungnya dan memanggilnya dengan sapaan sayang.


Tina pun memanggilnya, kemudian menampar Zico dan pergi meninggalkannya. setelah Tina pergi, Zico justru mendapatkan serangan bertubi-tubi dari Wildan dan juga Rio. Ia dihajar habis-habisan, hingga tampak wajahnya yang babak belur.


Tina pun menceritakan sedetail mungkin dan sesingkat mungkin, dan tidak memerlukan waktu yang lama cerita itu pun selesai. Tina yang tampak tidak lagi mau mempedulikan tentang Zico, ia pun langsung berlari ke dalam pelukan sang kakak. Dan perlahan-lahan tetesannya pun mulai turun, dan matanya sangat berkaca-kaca.


" Kak Tina nggak mau bahas tentang Zico lagi, yang tidak inginkan saat ini hanya mendengarkan penjelasan. Tentang keadaan Kakak dan di mana Kakak selama ini." ucapnya yang masih menangis.


Alvin pun menceritakan tentang kehidupannya selama ini, Iya yang ditolong dan dirawat oleh seorang kakek tua yang merupakan seorang nelayan. Dan ia juga menceritakan mengapa ia sangat lama baru pulang, ternyata selama itu Alvin mengalami amnesia. Karena itu ia tidak bisa pulang dan tinggal di desa tempat orang yang menemukannya tinggal.


Setelah mendengarkan penjelasan dari Alvin, Tina masih tetap menangis. Bukannya ia sedih, tetapi ia menangis bahagia karena masih ada orang baik yang mau menyelamatkan kakaknya. Mama dari Tina pun juga merasakan hal yang sama, bahkan ia juga telah menelpon ayah dari Tina. Untuk memberitahukan kalau putranya telah kembali, dan selamat dari kecelakaan pesawat.


Dan benar saja, tidak lama mendengar suara ketukan pintu. dan ya benar itu adalah Ayah dari Tina dan juga Alvin, sang ayah langsung menjatuhkan tasnya di ruang utama ketika melihat sosok putranya. Ia tampak tidak memperdulikan sekitar dan langsung memeluk putranya.

__ADS_1


__ADS_2