
Kini hari sudah petang, dan sudah waktunya bergaul di alam mimpi. Tetapi tidak dengan Mawar, ia masih saja memikirkan apa yang dikatakan oleh Putrinya tadi. Mengenai kemungkinan bila ia bersama dengan Marcel, dan sepertinya ia juga merasakan kalau Putrinya itu sangat bahagia ketika bersama dengan Marcel.
" Apa aku bersama dengan Marcell saja ya?"
" Tetapi, aku juga harus bertanya kepada Wildan terlebih dahulu."
" Walaupun niat awalku untuk membuat Hana bahagia, tetapi aku juga harus mementingkan perasaan Wildan juga."
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu yang menyadarkan Mawar, dan ia pun langsung melihat ke arah sumber suara. Dan kini sedang berdiri Wildan di sana, ia terus saja menatap ke arah Mawar.
" Sini masuk!" ucap Mawar mempersilakan Wildan, dan wildan pun langsung menghampiri Bundanya.
" Bunda sedang memikirkan apa?" tanya Wildan yang penasaran.
" Bunda masih bingung harus membicarakannya dari mana, tetapi bagaimana kalau Bunda menikah lagi?" tanyanya dengan menggenggam tangan Wildan.
" Kalau memang itu keputusan Bunda, aku sebagai anak juga tidak bisa berkata apa-apa. Yang terpenting bagiku Bunda bahagia, dan Bunda memiliki teman untuk bersandar ketika kami tidak bersama dengan Bunda." jelasnya dan Mawar pun meneteskan air mata.
" Kau tidak akan melarang Bunda?" tanyanya untuk memastikan.
" Aku tidak akan melarang Bunda, karena menurutku Bunda juga perlu bahagia. Pastinya Bunda sudah lelah hidup sendirian selama ini, dan sekarang sudah waktunya Bunda mencari. Tetapi, siapakah orang yang menurut Bunda pas untuk bunda?" tanyanya yang penasaran.
" Kalau Marcel bagaimana?" tanyanya.
" Jangan bilang, yang Bunda maksud adalah Om Marcel temannya Ayah…" ucap Wildan yang terhenti.
" Iya benar itu dia, tetapi Bunda ingin meminta persetujuan darimu terlebih dahulu. Karena sebenarnya ini masih belum pasti, Bunda mengatakan nama Marcel karena Bunda memang sudah lama mengenalnya. Tetapi belum tentu Bunda akan bersanding dengannya, karena Bunda merasa dia jauh di atas Bunda." jelasnya.
" Aku tidak akan masalah dengan siapa pasangan Bunda, yang terpenting kamu harus mengenalnya. Dan bagi ku yang terpenting Bunda bahagia, dan aku rasa Hana juga begitu." ucapnya.
" Terimakasih ya nak, Bunda sangat senang mendengar hal itu." ucapnya dengan tersenyum.
__ADS_1
" Sekarang Bunda jujur, sebenarnya apa yang membuat Bunda menjadi berfikir tentang ini?" tanya Wildan yang penasaran.
" Sebenarnya, tadi Hana bertemu dengan Ayahmu dan juga Marcel. Dan Marcel pun mengangkatnya menjadi anak, dan hal itu membuat Hana menjadi sangat bahagia." jawabnya.
" Jadi itu alasannya, Bunda harus ingat. Jangan hanya memikirkan perasaan Hana saja, tetapi Bunda juga harus memikirkan Bunda sendiri. Aku yakin, Hana juga akan sedikit ketika mengetahuinya." ucapnya.
" Yang kau katakan memang benar nak, dan sekarang Bunda akan mencari pasangan yang menurut Bunda cocok dengan Bunda. Dan ia juga sangat menyayangi kalian, dan tentunya membuat Bunda sangat nyaman." ucapnya dengan tersenyum.
" Nah kalau begitu Wildan setuju." ucapnya kemudian segera pergi meninggalkan kamar Mawar.
Mawar pun mengingat perkataan dari Wildan, karena yang akan menjalani adalah ia. Jadi ia juga harus memikirkan kebahagiaannya, ia terus memikirkannya hingga tanpa sadar ia pun terlelap.
...----------------...
Sang Surya bersinar dengan benderang, dan kini terdengar suara tlakson mobil. Hana pun langsung keluar, dan alangkah kagetnya ia ketika melihat Lucky ada di depan rumah.
" Lucky, kau sedang apa?" tanyanya yang penasaran.
" Aku diminta Papa untuk menjemputmu, aku tau hari ini kau tidak ke kampus. Jadi Papa meminta ku untuk menjemputmu ke rumah." jelasnya.
" Apa…" ucapnya yang kaget.
" Halo Tante." ucap Lucky kemudian langsung menyalami Mawar.
" Ini dia Dek?" tanya Mawar.
Wildan yang mendengar percakapan itu, ia pun langsung keluar. Karena ia sangat penasaran dengan orang yang ada di depan rumah.
" Astaghfirullah, kau ngapain ke sini Lucky?" ucap Mawar yang membuat mawar menjadi terkejut.
" Kakak mengenalnya?" tanya Mawar.
" Ini itu anaknya Om Marcel Bunda." jelas Mawar.
" Jadi rupanya kamu anaknya Marcel, kalau begitu silakan masuk." ucap Mawar mempersilahkan.
Lucky pun segera memasuki rumah Hana, melihat dekorasi rumah itu ia merasa nyaman. Walaupun rumah itu tidak besar, tetapi ia merasakan sentuhan seorang ibu. Ketika melihat wajah Mawar, ia pun juga ikut bahagia.
__ADS_1
" Hana tolong ambilkan minum ya!" ucap Mawar dan Hana pun segera pergi menuju dapur.
" Nama kamu siapa nak?" tanya Mawar dan kini Wildan pun menjadi sangat heran.
" Atau jangan-jangan…yang dikatakan Bunda tadi malam benar lagi." batin Wildan.
" Nama saya Lucky Tante." ucapnya dengan tersenyum.
" Oh jadi nama kamu Lucky, jangan panggil Tante dong. Panggil aja Bunda sama seperti Wildan dan juga Hana." ucapnya.
" Tante ini sangat baik, sepertinya usulannya yang ku bicarakan semalam akan terjadi. Walaupun aku masih belum tahu tante ini mau atau tidak, tetapi sepertinya dengan aku dia merayunya pastinya dia mau menjadi Ibuku." batin Lucky dengan menatap wajah Mawar.
" Apakah ada yang salah dengan wajah Bunda?" tanya Mawar.
" Nggak ada kok Tan…eh maksudnya Bunda." jawabnya.
" Ternyata Lucky sangat lucu, semalam dia yang mentertawakan diriku. Dan sekarang sepertinya aku juga ingin menertawakannya, tetapi tidak enak menertawakannya di depan Bunda." batin Hana.
" Kamu kenapa senyum-senyum Dek?" tanya Wildan yang menyadarkan lamunan Hana.
" Aku nggak ada ngelamuni apa-apa kok Kak." jawabnya dengan setenang mungkin.
" Luhana Clarissa, kamu nggak usah bohong." ucap Wildan dengan tatapan sinis.
" Kak Wildan nggak enak banget deh, sebenarnya aku nggak enak ketawa di depan umum. Apalagi harus tertawa di depan Bunda." jawabnya dan kini semuanya pun menjadi penasaran.
" Memangnya apa yang ingin membuatmu tertawa Dek?" tanya Mawar kepada Hana yang kini sedang meletakkan teh di atas meja.
" Ya Adek mau tertawain si Luki lah Bunda, karena semalam dia tertawai Adik. Dan sekarang malah dia yang justru mengalami situasi seperti Adik semalam, jadi rasanya Adek pengen tertawa dengan sangat keras." jelasnya.
" Nggak boleh balas dendam adek, Bunda kan sudah mengajarkan hal itu kepadamu sejak dulu. Kalau ada yang berbuat jahat kepadamu, maka…" ucapan Mawar yang langsung disambung oleh Hana.
" Balas ah ia dengan kebaikan, itu kan yang Bunda maksud." ucapnya dan Mawar pun mengangguk.
" Nah itu adik tahu, jadi jangan pernah balas dendam ya sayang." ucap Mawar dengan tersenyum.
" Iya Bunda, Adek akan selalu ingat pesan Bunda. Dan adik akan selalu menjaga pesan itu, agar pesan itu selalu ada dalam ingatan adik." jelasnya dengan tersenyum.
__ADS_1
" Itu baru anak bunda, jadi jangan diulangi lagi ya sayang. Maafkan saja kesalahan yang telah dilakukan oleh teman-temanmu kepadamu, insyaallah Allah akan membalasnya dengan begitu banyak kebaikan." jelas Mawar.