Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 58


__ADS_3

Kini acara pernikahan telah tiba, Yuda kini hadir didampingi oleh Putri kesayangannya. Dan Gina menatap ke arah Hana, sungguh ia tidak menyukai Hana. Awalnya keduanya bersahabat, namun setelah kejadian pertentangan sebelumnya kini Gina menjadi tidak menyukai Hana. Dan bahkan kini Hana telah merebut cintanya, itulah yang ada di dalam pikiran Gina saat ini.


" Mengapa dia harus datang sih, membuat suasana hatiku tidak enak saja." batin Gina.


" Selamat datang ayah, selamat datang Hana." ucapnya dengan tersenyum palsu.


" Terima kasih Gina sayang." ucap Yuda seakan tidak terjadi apa-apa.


Rombongan pun segera masuk, kini semuanya terduduk di ruang utama. Yada pun segera duduk di hadapan penghulu, dan tidak beberapa lama Tami pun segera keluar dan duduk di samping Yuda. Tami menjadi pusat perhatian, karena hari ini dia tampil dengan sangat cantik.


" Akhirnya sebentar lagi aku akan menjadi istri mas Yuda, dan harta kekayaan mas Yuda akan menjadi milikku." batin Tami dengan tersenyum.


Yuda pun segera menjabat tangan penghulu, dan dalam satu tarikan nafas terdengar kata "Sah" semua orang pun mengucapkan syukur atas pernikahan keduanya.


" mulai sekarang, kalian sudah sah menjadi suami istri." ucap penghulu itu.


Yuda dan Tami segera memasangkan cincin, dan kemudian kami mengalami tangan Yuda. Setelah itu Hana pun datang untuk menyalami ayah dan juga Ibu sambungnya, begitu juga dengan Gina.


" Tampaknya kau sangat bahagia Hana, tapi kau tidak tahu saja. Kalau mulai saat ini Om Yuda hanya akan menjadi ayahku, dan kau tidak akan ada lagi dalam hidupnya." batin Gina dengan tetap tersenyum.


" Akhirnya, sekarang kita sudah menjadi suami istri mas. Dan aku sangat bahagia, karena sekarang Gina memiliki seorang ayah. Dan juga mendapatkan kakak yang tampan dan juga adik yang cantik." ucap Tami di hadapan semua tamu yang hadir.


" Aku juga senang, karena hari ini menambah keluarga baru. Dan kini putri kecilku akan memiliki teman yang akan selalu berada di sampingnya, ya kan sayang?" ucap Yuda dengan mengelus kepala Hana, dan Hana pun hanya mengangguk saja.


...----------------...


" Wildan, akhirnya aku menemukan bukti." ucap Anas yang kini sedang membongkar berangkat di rumah lama mereka.


" Alhamdulillah, tapi sepertinya kita sudah terlambat." ucap Wildan.


" Yang kau bilang itu benar, jadi gimana dong?" tanya Anas.


" Kita simpan aja dulu, nanti di saat yang tepat kita akan bongkar." ucap Wildan dengan tersenyum.


" Oh tentu boleh, tapi sepertinya kau memiliki rencana ya?" tanya Anas yang melihat senyuman Wildan.


" Ya aku memiliki sebuah rencana, dan aku sedang menunggu waktu yang tepat. Dan aku yakin pasti ayah ku juga tau, dan dia juga sudah membuat rencana." ucap Wildan.

__ADS_1


...----------------...


" Selamat atas pernikahannya om, Tante." ucap Cahaya yang datang bersama dengan Faldo.


" Terimakasih, kau Cahaya kan?" tanya Yuda.


" Iya om, saya Cahaya." jawab Cahaya.


" Ini, pacar mu ya?" tanya Yuda dan membuat Cahaya malu.


" Iya om, perkenalkan nama saya Faldo." jawabnya.


" Faldo, sepertinya saya tidak asing. Jangan-jangan kau Faldo sahabatnya Wildan waktu SMA ya." tebak Yuda.


" Iya om." jawabnya dengan tersenyum.


" Ya ampun, dunia ini memang sempit ya. Sepertinya tinggal hanya Wildan saja yang belum memiliki pasangan." ucap Yuda.


" Ayah ini loh, kenapa aku juga di bawa-bawa." ucap Wildan yang baru saja datang, dan ia pun membawa Anas. Kini keduanya menjadi pusat perhatian, karena keduanya sangat tampan.


" Habis ayah mau gendong cucuk." ucap Yuda.


" Kau ini ya Wil, kalau untuk itu biar ayah yang pikirkan. Tapi ayah bukan pengen anak melainkan cucuk." ucap Yuda.


" Ya ayah, ayah nggak seru banget tahu. Wildan kan masih pengen main, lagian Wildan juga belum lulus kuliah." ucap Wildan dan membuat Yuda emosi.


" Jangan sampai ayah dapat cucu dari adikmu duluan ya, kamu apa nggak malu lebih tua tapi dipanggil paman pada saat belum menikah." ucap Yuda dan kini Wildan pun memikirkan hal itu.


" Tidakkkk…" teriak Wildan setelah membayangkan kejadian itu.


" Kenapa?" tanya Yuda yang panik ketika melihat putranya.


" Jangan sampai hal itu terjadi, membayangkannya saja sudah mengerikan. Apalagi kalau sampai terjadi, sungguh aku tidak akan tahu bagaimana mukaku nanti." ucap Wildan dan semua yang ada pun tertawa.


" Makanya cepat cari pasangan." ucap Faldo dengan menyenggol bahu Wildan.


" Nanti akan aku pertimbangkan, dan aku pasti akan cari yang lebih cantik dari pacarmu." ucap Wildan dengan menatap ke arah Cahaya.

__ADS_1


" Nggak akan mungkin, karena bagiku nggak ada yang lebih cantik dari Cahaya." ucap Faldo dan langsung menarik lengan Cahaya.


" Oh silakan, hal itu tidak masalah bagiku. Yang penting selalu ada Faldo di sampingku, dan aku yakin di matanya akan tetap aku yang paling cantik." jawab Cahaya dan kemudian Faldo segera membawa Cahaya pergi.


" Kalau gitu ayah tunggu ya, ayah jadi penasaran seperti apa wajah calon menantu ayah." ucapan Yuda dengan menepuk pundak putranya.


...----------------...


" Bagaimana ya, apakah Wildan dan Anas sudah menemukan buktinya. Aku berharap tidak akan terjadi apapun kepada mereka, mau sebulan, dua bulan ataupun berapa tahun lagi. Yang penting mereka berdua akan selalu aman, walaupun bukti itu tidak akan pernah ketemu. Aku berharap agar anak-anakku akan tetap hidup damai." ucap bunda Mawar yang kini mondar-mandir di rumahnya.


Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu rumah bunda Mawar.


Tok


Tok


Tok


" Iya sebentar." ucap Mawar kemudian mendekati pintu.


" Halo mawar." ucap Gayatri, yang merupakan umbi dari Dafa.


" Eh Gayatri, sini masuk!" ucap Mawar kemudian mereka pun langsung masuk, dan duduk di sofa yang ada.


" Kau kenapa, tampaknya kau sedang panik?" tanya Gayatri yang sangat penasaran dengan sikap Mawar.


" Ya aku memang sedang panik, kau tahu tidak. Sebenarnya yang menjadi istri mas Yuda adalah Tami." jelas Mawar dan membuat Gayatri kaget.


" Tami teman SMA kita?" tanya Gayatri untuk memastikan.


" Iya, Tami temani SMA kita." jawabnya dan Gayatri pun syok.


" Astaghfirullah, tapi bagaimana bisa mas Yuda kenal dengan Tami?" tanya Gayatri yang penasaran.


" Kalau untuk soal itu, aku pun juga nggak tahu. Aku aja baru mengetahui hal ini kemarin, karena si Luhana baru saja baikan dengan mas Yuda." jelas Mawar.


" Kau ini ya, terkadang memanggil putrimu itu Luhana, terkadang Hana, terkadang Ana, aku jadi penasaran akankah kau memanggil putrimu dengan sebutan Uha?" ucap Gayatri dan membuat keduanya tertawa.

__ADS_1


" Ya nggak gitu juga kali, kan nama putriku Luhana Clarissa. Jadi aku bebas-bebas aja memanggilnya apa, yang terpenting dia tidak marah." ucap Mawar.


__ADS_2