Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 51


__ADS_3

" Woy Nisa, kau ini ya tega sekali sama Vio." ucap Cahaya.


" Ya kenapa, lagian aku suka. Terus apa hubungannya sama mu." ucapnya dengan sombong.


" Kau kira menyakitkan seseorang itu menyenangkan apa? Coba saja kau rasakan bila kau yang mengalaminya." ucapnya yang masih kesal.


" Aku nggak akan mungkin mengalaminya, karena aku anak orang kayak. Sangat jauh berbeda dengan dia yang anak tukang becak, hahaha." ucapnya sambil tertawa.


" Sudahlah Cahaya, aku gpp." ucap Vio.


" Kau bilang gpp, kau diperlakukan seperti ini loh. Bahkan kau sering tidak tidur karena mereka." ucap Cahaya dengan mata yang sinis.


" Kau sok tau, kalau dia kurang tidur. Kan dia bisa bilang, tapi dia kan nggak ada ngomong. Otomatis yang kau bilang adalah kebohongan." ucap Nisa.


" Kau apa tidak bisa melihat, lihat saja lingkaran di bawah mata Vio yang sudah sangat mengerikan." ucap Cahaya.


" Ya aku nggak perduli, yang penting aku bahagia." jawabnya dan membuat Cahaya sangat kesal, hingga ia pun menjambak rambut Nisa. Keduanya pun saling menjabat.


...----------------...


" Tidakkk…" teriaknya dan membuat semuanya kaget.


" Beb, kau mikirin apa?" tanya Cahaya yang merasa heran.


" Nggak kok beb, mending sekarang kita pergi yuk. Untuk urusan di sini, biar Wildan aja sebagai kakaknya Hana yang mengurusnya." ucap Faldo, dan Cahaya pun mengangguk. Dan kemudian mereka pun pergi meninggalkan tempat itu.


" Sekarang kita lanjutkan urusan kita, dengar ya. Mau sampai kapanpun, aku nggak akan pernah mau sama mu. Dan jangan bermimpi untuk menjadi pasanganku, bagi ku orang yang telah menyakiti adikku tidak akan pernah termaafkan oleh ku." ucapnya kemudian pergi meninggalkan Angel.


" Wildan, tunggu. Aku benar-benar mencintaimu, aku minta maaf karena pernah menyakiti Hana. Tapi itu semua karena aku nggak tau, kalau Hana adalah adikmu." jelasnya dengan memegang tangan Wildan.


" Aku tidak bisa memaafkan kau." ucapnya dengan melepaskan pegangannya tangan Angel, dan kemudian pergi.


" Makannya jangan jadi orang jahat." ucap Tina.


" Hala, pasangan selingkuhan aja sok pamer." ucap Angel.


" Kami pasangan asli kali, dan setidaknya berkat berita yang kau sebarkan kami nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi. Thanks ya Angel." ucapnya kemudian langsung pergi meninggalkan Angel yang kini sedang menangis.


" Sial, awas aja kalian." ucapnya.


...----------------...


" Beb, kau nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Dafa.


" Nggak ada kok beb, untungnya kak Cahaya tadi cepat datang." jawab Hana dengan tersenyum.

__ADS_1


" Alhamdulillah kalau begitu." ucapnya dengan mengelus kepala Hana.


" Oh iya, ngomong-ngomong tadi kenapa kau bisa datang?" tanya Hana.


" Oh tadi kak Cahaya yang ngasih kabar, tentang kau yang di datangi oleh Angel." ucapnya.


" Oh gitu, jadi begitu kau tau. Kau langsung berlari untuk melindungiku." ucapnya, dan Dafa pun tersipu malu.


" Menjaga mu sudah menjadi tugasku, jadi aku akan melakukannya apapun asalkan kau baik-baik saja." ucapnya.


" Ye, sudah mulai belajar gombal ya. Belajar dari siapa?" tanya Hana yang penasaran.


" Ada deh, mau tua aja. Itu tuh rahasia, dan nggak bisa di beritahu ke sembarangan orang." ucap Dafa.


" Yauda deh gpp, yang penting kau selalu ada di sampingku." ucap Hana.


" Kalau itu sih tentu dong." ucapnya.


Tiba-tiba saja ada seorang cewek datang menghampiri mereka, dan dia pun memberikan sebuah amplop kepada Hana.


" Hana." ucapnya dengan memberikan amplop.


" Ini apa?" tanya Hana.


" Lebih baik kau buka saja terlebih dahulu." ucapnya.


" Aku nggak salah lihat kan?" tanya Hana yang masih tidak percaya.


" Tidak Hana, ini adalah kenyataan." jelas cewek tersebut yang merupakan Gina sahabat mereka dulu.


" Berarti kalau begitu kita akan jadi kakak adik dong." ucap Hana dan Gina pun hanya mengangguk.


" Tapi kan baik aku ataupun kak Wildan belum ada yang memberikan izin kepada ayah untuk menikah lagi." ucap Hana.


" Kalau soal itu aku juga nggak tau, aku cuma di minta untuk memberikan surat undangan ini pada kau dan juga kak Wildan." ucap Gina.


" Ya sudah kalau begitu." ucap Hana, kemudian Gina pun segera pergi meninggalkan keduanya.


" Seharusnya aku yang disampingmu Dafa, kenapa sih kau harus bersama dengannya." batin Gina.


" Jadi kau akan datang?" tanya Dafa.


" Untuk soal itu, rencananya aku mau bicara dulu sama kakak ku." jelasnya dan Dafa pun mengangguk.


" Ya sudah, lagian yang bilang masuk akal. Dan agar kau tenang, saranku kau hadir saja." ucap Dafa.

__ADS_1


" Iya, aku akan usahakan datang. Tapi aku takut nggak sanggup, baru aja aku ketemu sama ayah. Eh sekarang, ayah uda mau ninggalin. Hmmhmm." ucapnya dengan meneteskan air mata.


" Sudahlah, jangan bersedih." ucap Dafa dengan memeluk Hana, agar Hana berhenti menangis.


" Tapi…" ucapnya yang masih ragu.


" Sudahlah, kau tenang saja ya. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja, dan pastinya ayahmu juga akan tetap mempertahankanmu." ucap Dafa.


" Mudah-mudahan saja, apa yang kau katakan benar." ucapnya.


Tiba-tiba saja ada yang datang, dan menghentikan adegan pelukan keduanya. Dan pemuda itu menatap Hana dan juga Dafa dengan tatapan sinis.


" Ini tuh di kampus, jangan kalian buat jadi tempat pelukan. Kalian apa nggak malu, coba lihat kalian jadi tontonan semua orang yang lewat." ucap Wildan, dan keduanya pun langsung melihat ke arah sekitar.


" Maaf kak." jawab keduanya serentak.


" Ya sudah, kalau begitu sekarang kakak ingin tanya. Apa yang terjadi dek, hingga kau menangis?" tanya Wildan yang merasa heran, karena kini adiknya itu sedang menangis.


" Ini kak." ucapnya dengan memberikan undangan kepada Wildan.


" Ini apa dek?" tanya Wildan.


" Lebih baik kakak buka dulu amplopnya, dan kemudian kakak lihat isinya." ucap Hana, dan Wildan pun segera membuka amplop tersebut.


" Ini adek dapat dari mana?" tanya Wildan yang kaget.


" Tadi dapat dari Gina, calon anak tiri ayah." ucap Hana.


" Masih berani dia jumpai kamu dek, dia apa nggak ingat sama kejadian terakhir." ucap Wildan.


" Kalau untuk soal itu, adek juga nggak tau. jawab Hana.


" Ya sudah, sekarang adek tenangkan diri. Urusan dia dan ayah biar Kakak yang urus." ucap Wildan dengan mengelus kepala Hana.


" Ok kak." jawabnya dengan mengangguk dan tersenyum.


" Kalau gitu, adek belajar yang bagus. Dan ingat kalau adek jumpa sama Angel, adek harus segera hubungi Kakak atau Dafa pun gak masalah." ucap Wildan.


" Ok kak." ucapnya.


" Yauda kakak pergi dulu, Dafa kakak titip Hana ya." ucapnya dengan tatapan sinis.


" Siap kak." jawab Dafa dengan memberi hormat, dan Hana pun tertawa dengan sikap Dafa.


" Kalau gituan dah…" ucapnya dengan meninggalkan Dafa dan juga Hana.

__ADS_1


" Dah…" ucap keduanya serentak.


__ADS_2