
" Alvin Ayah tidak menyangka bisa melihatmu lagi, paradiser sudah menyerah untuk mencarimu nak. Dan kami juga sudah mengikhlaskanmu sebenarnya, dan kini kau sudah kembali. Ayah sangat bahagia dan bersyukur nak." ucap sang ayah yang juga meneteskan air matanya.
Tiba-tiba saja di tengah keharuan itu, terdengar sebuah suara yang tidak asing. Pak Ahmad atau Ayah Tina, Ia pun membiarkan pandangannya untuk melihat sekitar. Dan alangkah kagetnya ia, ketika melihat wajah Wildan dan juga Rio. Dia pun langsung mengelap air matanya, dan kembali memasang wajah tegas.
" Kalian kenapa ada di sini?" tanya Pak Ahmad yang baru sadar.
" Kami mau lihat keadaan Tina Om." jawab Rio dengan jujur.
" Oh ternyata gitu ya, kalau gitu kalian lanjut. Om mau masuk dulu sama Alvin." ucapnya dengan sersa minum tidak enak.
" Tidak Ayah aku masih ingin di sini, Alvin ingin mengintrogasi mereka tentang kejadian apa aja yang menempatinya beberapa bulan belakangan." jelas Alvin dan kemudian umat hanya mengangguk saja.
Mereka pun kembali duduk di sofa ruang tamu, kini sorot mata Alvin sangat tajem. Ia memandang ke arah Wildan, Rio dan juga Hana. pandangannya langsung tertuju kepada Hana.
" Nama kamu siapa?" tanya Alvin dengan menatap mata Hana.
" Nama saya Hana kak." jawabnya dengan sopan.
" Hana ya, aku nggak pernah dengar Tina cerita tentang seorang teman bernama Hana." ucapnya dengan menatap Hana dan juga Tina secara bergantian.
" Hana Ini adik tingkat Tina Kak, baru aja beberapa hari yang lalu Tina ospek dia." jawabnya dan mendapat anggukan dari Alvin.
" Oh ternyata junior kamu dek, pantas Kakak nggak pernah dengar. Terus ngapain Hana sekarang ke sini?" tanyanya dengan menatap ke arah Hana kembali.
" Hana diajak sama Kak Wildan yang juga Kak Rio Kak, karena katanya kak Tina sakit." ucapnya dengan jujur.
" Kau sakit dek?" kini Alvin menanyai adiknya dengan nada selembut mungkin, dan sontak saja Hana merasa kaget. Iya tidak menyangka orang yang tadinya seperti singa, kini berubah menjadi selembut salju.
__ADS_1
" Iya Kak, tadi pagi Adek jatuh di kamar mandi." jawabnya dan sontak saja Alvin merasa, ia pun langsung menarik tangan adiknya dan berusaha untuk menggendongnya menuju kamar.
" Eh tunggu kakak mau ngapain?" tanyanya yang tidak tahu menahu.
" Ya gendong adik lah, terus kalau udah tahu sakit ngapain coba di sini. lebih Baik istirahat di kamar sana." jawabnya dengan nada tegas kembali, Hana yang baru pertama kali menyaksikan tingkah aneh ini ia hanya menggelengkan kepalanya saja.
" Apakah ini indahnya mempunyai seorang kakak?" batin Hana.
Hana terus saja hanyut dalam lamunannya, bahkan ia tidak menyadari kalau Wildan telah menggenggam tangannya. Dan kemudian Wildan menariknya untuk pergi menuju kamar Tina, bahkan ia tidak menyadari kalau dirinya telah melangkahkan kaki menuju kamar. Wildan dan Rio tampak bingung melihat tingkah Hana, tetapi mereka tidak berkata apa-apa karena sorot mata Hana terus menatap ke arah Tina dan juga Alvin.
" Apakah kau menyukai Alvin?" batin Wildan dengan menatap Hana dan Alvin secara bergantian.
" Wildan, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan. Tapi ingat, sebelum janur kuning melengkung. Masih bisa ditikung, dan itu sah-sah aja kok." ucap Rio menyemangati Wildan.
" Thanks ya Rio, mudah-mudahan aja semua berjalan lancar." jawab Wildan.
" Halo assalamualaikum bunda." ucapnya untuk menyapa yang berada di seberang telepon.
" Waalaikumsalam sayang, sekarang kamu di mana?" ucap sang Bunda dari seberang telepon.
" Adek lagi ada di rumah kak Tina Bunda, kak Tina sedang sakit. Bunda tenang aja nggak usah cemas, Adik ke sini sama Kak Wildan kok Bunda." jawabnya dengan lembut, dan seisi ruangan pun menatap ke arah Hana.
" Ya udah hati-hati ya, pulangnya jangan sore-sore." ucap Bunda mengingatkan.
" Iya Bunda, Adik nggak akan pulang sore-sore." jawabnya dengan lembut.
" Ya udah kalau gitu, jangan sampai lupa ya. assalamualaikum Sayang." ucap Bunda sambil mematikan telepon.
__ADS_1
" Waalaikumsalam." jawabnya meski sambungan telepon telat mati, kemudian ia memasukkan handphonenya ke dalam saku.
" Bunda kau yang telepon ya?" tanya Wildan untuk memastikan.
" Iya Bunda aku yang telepon Kak." jawabnya dengan lembut.
" Tunggu tadi bunda kau yang telepon, terus tadi kau ada sebut nama Wildan. Bunda mudah kenal sama Wildan Hana?" tanya Rio yang penasaran.
" Kalau lihat orangnya hanya sepintas sih dari jendela, dan Bunda tahu tentang Kak Wildan juga karena aku yang cerita." jawabnya tanpa rasa bersalah.
" Oh my God, jadi Wildan jadi bahan ghibah kau dan bundamu." ucap Dina yang tiba-tiba saja bersuara.
" Kenapa jadi bahan ghibah, lagian aku sudah terbiasa dari dulu kak. Setiap aku mengawali hari, aku akan menceritakannya sepulang sekolah kepada bundaku. Jadi menurutku ini hal biasa Kak, bukan ghibahan." jelasnya dan membuat semuanya kaget.
" Aku nggak salah denger nih, jangan-jangan aku juga pernah jadi bahan-bahan kau dan bundamu." ucap Tina yang kaget mendengar jawaban dari Hana.
" Ya begitulah Tapi kami nggak ghibah Kak, sejak kecil Bunda selalu membiasakanku untuk selalu menceritakan tentang keseharianku. Ya minimal satu atau dua kata lah, saat Bunda ada di rumah. Karena momen itu sangat langka Kak, jadi terkadang pun aku cerita nggak tiap hari sih beberapa hari sekali baru cerita." jelasnya dan membuat semuanya kaget kembali.
" Kalau boleh tahu bundamu kerja apa?" tanya Tina yang penasaran.
" Bunda jadi guru Kak, dan Bunda kadang juga ngajar les." jawabnya dengan santai.
" Oh kalau begitu pantaslah kau juga mengambil keguruan, kalau ayahku kerja apa?" tanyanya dan membuat Hana terdiam sejenak memikirkan apa yang ingin menjawab, mereka yang berada di situ merasa heran. Sejak tadi Hana selalu menjawab cepat semua pertanyaan, tetapi kini ia tampak berpikir keras untuk menjawab pertanyaan dari Tina.
" Bunda aku single mom Kak, aku itu korban broken home. Aku sekarang aja nggak tahu di mana keberadaan ayahku, dan aku juga sempat tahu sih kalau aku punya kakak. Tapi itu pun aku baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu, karena ingatanku baru pulih." jelasnya dan membuat semuanya kaget.
" Eh maaf aku nggak tahu kalau Bunda kamu single mom." ucapnya yang merasa bersalah, Wildan dan Rio yang mendengar itu juga merasa ibah pada Hana.
__ADS_1