
" Siapa sebenarnya kau?" tanya intan.
" Perkenalkan aku Wildan, Presiden Mahasiswa di kampus ini." jawabnya.
" Apa, kalau begitu kau kakak tiri Gina kan?" tanya yang masih tidak percaya.
" Iya bener, aku kakak tiri Gina." jawabnya.
" Kalau begitu kau pasti akan melindungi Gina kan, aku merasa sial bertemu denganmu." ucap intan yang kesal.
" Lah, kenapa sial?" tanya Wildan yang kebingungan.
" Ya sial la, karena kau pasti akan melindungi Gina." ucap intan.
" Kata siapa aku akan melindungi dia, aku pun sebenarnya tidak suka dengannya." jelas Wildan.
" Loh, kenapa kau tidak suka. Kan kau kakak sambungnya?" tanya intan yang heran.
" Karena aku sudah tau semua tentang dia." jelas Wildan dan membuat intan kaget.
" Kau sudah mengetahuinya, aku nggak salah denger kan?" tanyanya untuk memastikan.
" Iya, jadi kalau boleh tau apa yang membuat mu sangat ingin membuat masalah untuknya?" tanya Wildan.
" Ok, sebelumnya perkenalkan nama ku intan. Aku mahasiswa baru jurusan teknik, alasan ku tidak suka dengannya. Karena ia sudah membuat keluarga sepupuku menderita, dan bahkan kini aku tidak mengetahui keberadaan sepupu ku. Dia membuat sepupu cewek ku hilang, dan mengusir yang cowok setelah paman ku meninggal." jelas intan.
" Intan, anak teknik. Ceritamu cukup menyedihkan, tetapi tiba-tiba aku jadi teringat dengan seorang pemuda. Dan kami juga sedang menyusun rencana, namanya Anas." ucap Wildan dan membuat intan kaget.
" Kau mengenal Anas, dia itu sepupuku. Bolehkah aku bertemu dengannya." ucapnya dengan ekspresi yang.
" Boleh aku akan hubungi dia, kebetulan aku sedang kosong ini. Kalau kau bagaimana?" tanya Wildan.
" Kebetulan aku juga sedang kosong." jawabnya.
" Ok, kalau begitu aku akan langsung telpon Anas." ucap Wildan dan ia pun langsung menelepon Anas. Tidak butuh waktu lama, Anas pun langsung mengangkat telepon tersebut.
" Ada apa Wil?" tanya Anas.
__ADS_1
" Kau sedang dimana?" tanya Wildan.
" Kebetulan aku lagi di kampus." jawabnya.
" Kampus ya, lagi ada kerjaan nggak?" tanya Wildan.
" Kenapa, apa kita mau melaksanakan rencana kita sekarang?" tanya Anas.
" Nggak, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." ucapnya.
" Siapa ?" tanya Anas.
" Adalah, kau pasti akan sangat bahagia ketika bertemu dengannya." jelas Wildan dan membuat Anas penasaran.
" Yauda di cafe X ya, kebetulan aku juga penasaran." ucapnya.
" Ok, kalau begitu kami langsung meluncur." ucap Wildan kemudian sambungan telepon pun langsung mati.
" Bagaimana?" tanya intan.
" Kita bertemu dengan Anas di cafe X, ayo kita langsung meluncur." ucap Wildan.
" Eh maaf, aku nggak sengaja." tambahnya.
" Iya gpp, aku kita pergi." ucapnya kemudian langsung membalikkan badannya karena merasa tidak enak.
Dag
Dig
Dug
" Apa ini, kenapa jantungku berdetak dengan sangat kencang." batin Wildan.
Keduanya pun segera pergi menuju parkiran, dan mereka pun pergi mengendarai motor Wildan. Intan merasakan guncangan yang sangat hebat, karena ia takut akhirnya ia pun memeluk Wildan. Kini jantungnya kembali berantakan sangat kencang, begitu juga dengan Intan.
Mereka diam dalam keheningan, dan akhirnya mereka pun tiba di kafe tersebut. Kini mereka menghamburkan pandangannya untuk mencari Anas, Anas yang melihat Wildan Ia pun langsung melambaikan tangannya. Dan wildan akhirnya pun menghampiri Anas, Anas pun menjadi penasaran dengan sosok gadis yang ada di belakang Wildan.
__ADS_1
" Siapa dia, pacarmu ya?" tanya Anas.
" Kak Anas." panggilnya dengan berderai air mata.
" Kau siapa, tetapi sepertinya wajahmu tidak asing." ucap Anas dengan memperhatikan wajah Intan.
" Aku Intan kak, aku adik sepupu kakak. Aku anaknya ayah Ayus, paman kakak." ucapnya masih dengan berderai air mata.
" Intan, kamu Intan adik aku." ucap Anas dengan memutar-mutar Intan.
" Iya kak, ini aku Intan." jawabnya kemudian keduanya aku langsung berpelukan.
" Akhirnya, setelah sekian lama. Kita bertemu kembali, dan kini kau sudah sangat berbeda. Intan yang manis dan sangat manja, kini sepertinya sudah berubah menjadi Intan yang mandiri dan juga cantik." puji Anas.
" Kak Anas bisa aja, aku sungguh nggak nyangka kalau bisa ketemu sama kakak lagi. Ada kabar yang mengatakan kalau kakak sudah meninggal, tetapi kami masih belum mempercayainya. Dan kami masih terus mencari kak Anas, dan akhirnya hari ini aku bertemu dengan Kak Anas." jelasnya masih dengan berderai air mata.
" Intan, Kakak punya satu permintaan untukmu. Dan tolong jangan pernah bilang sama siapa-siapa, jangan pernah bilang kalau aku masih hidup. Karena berita itu pastinya akan tersebar ke mana-mana, dan bisa saja kita tidak akan pernah bertemu lagi." jelas Anas dan membuat Intan tampak semakin sedih.
" Apa maksud kakak, kenapa kakak berbicara seperti itu?" tanya Intan.
" Ceritanya sangat panjang, tetapi untuk saat ini hanya itu yang bisa kukatakan. Bila nanti waktunya sudah tiba, kau pasti akan mengetahuinya. Dan aku akan bertemu dengan keluarga besar kita, tetapi untuk saat ini biarkan seperti ini." jelas Anas dan Intan pun mengangguk.
" Baiklah kak, aku tidak akan mengatakan pada siapapun. Tapi bisakah kita terus bertemu, aku masih sangat merindukan kakak. Dan Jujur aku tidak bisa bila tidak bertemu dengan kakak, aku sangat takut kehilangan kakak." jelas Intan.
" Tentu saja boleh, tetapi kau harus berhati-hati. Saranku, lebih baik kau bersama dengan Wildan. Karena dengan seperti itu, tidak akan ada yang mencurigai kalau aku adalah Anas. Dan selama itu, kita akan aman untuk terus bertemu." jelas Anas dan Intan pun mengangguk.
" Baik kak, aku akan mengikuti perintah kakak. Dan aku akan sering menemui kakak bersama dengan kak Wildan, aku berharap kita akan terus bertemu seperti ini. Tanpa ada penghalang, dan kita dapat berkumpul seperti dulu lagi." jelasnya.
" Kita sama-sama berdoa saja ya, dan Wildan, aku minta tolong. Tolong jaga Intan, dan jangan pernah biarkan orang-orang mengetahui kalau dia adalah adikku." jelas Anas dan Wildan pun mengangguk walaupun sebenarnya ia masih bimbang.
Mereka pun akhirnya duduk, kemudian memesan makanan. Tidak lama setelah itu makanan pun langsung tiba, mereka pun menyantap makanan sambil berbincang-bincang.
" Bagaimana kondisi kak Anas?" tanya Intan yang sangat penasaran.
" Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Lalu bagaimana denganmu, dan juga ayahmu?" tanya Anas yang sangat penasaran.
" Kondisiku dan ayah baik, tetapi Ayah terus saja memikirkan keadaan kakak." jelasnya.
__ADS_1
" Syukurlah kalau kalian baik, sebenarnya aku sangat merindukan kau dan juga paman. Tetapi aku masih enggan untuk bertemu dengan paman, apalagi situasi saat ini sedang tidak memungkinkan." jelas Anas dan membuat Intan pun menjadi bingung.
" Kalau kakak sangat merindukan ayah, kenapa Kakak tidak bertemu dengan ayah saja?" tanya Intan.