
" Ada apa Intan?" tanya ayahnya.
" Kak Wildan katanya mau pulang." ucapnya kemudian Wildan pun segera menemui ayah Intan.
" Cepat sekali mau pulang nak." ucap sang ayah.
" Iya paman, udah petang. Kasihan bunda di rumah sendirian." jawabnya dengan tersenyum.
" Ya udah hati-hati ya, naik motornya jangan kebut-kebutan. Anak muda zaman sekarang kalau naik kereta kan sukanya kebut-kebutan, bahaya itu." ucap ayah intan dan wildan pun mengangguk.
" Om tenang saja, saya akan hati-hati." jawabnya dengan tersenyum kemudian langsung menyalami ayah Intan.
" Ya udah hati-hati, om balik dulu ya ke dalam." ucap ayah Intan kemudian langsung pergi meninggalkan mereka.
" Iya om." jawab Wildan dengan tersenyum.
Kini keduanya juga berjalan menuju depan rumah, Wildan pun mengajak acak rambut Intan sebelum ia pulang.
" Aku pulang dulu ya." ucap Wildan dengan mengacak-acak rambut Intan.
" Ih rambut aku jangan di acak-acak." ucapnya.
" Biarin aja." ucap Wildan dengan tersenyum, kemudian ia segera pergi menaiki motornya.
" Cie yang lagi kasmaran." ucap Bara yang mengagetkan Intan.
" kak Bara, kakak ini ngagetin aja." ucapnya yang kesal kemudian langsung pergi menuju kamarnya.
" Waduh jangan sampai dia ngambek, bisa-bisa aku dihabisi sama ayah dan mama." ucap Bara kemudian berusaha mengejar Intan.
...----------------...
Ini Wildan sudah berada di hadapan rumahnya, Iya langsung saja masuk karena pintu rumahnya tidak dikunci. Ia gini melihat bundanya sedang mengobrol dengan seseorang, alangkah terkejutnya Iya ketika mengetahui siapa wanita itu.
__ADS_1
" Angel, kau ngapain di sini?" kayaknya dengan nada tinggi.
" Nak, jangan ngomong seperti itu dengan tamu." ucap Mawar menasehati.
" Maaf bunda, tapi orang seperti dia nggak pantas dibagi." ucapnya dan bunda Mawar menjadi kesal.
" Ada apa denganmu nak, kenapa bersikap kasar?" tanya Mawar yang merasa sikap sang anak sangat aneh.
" Dia itu orang jahat bunda, dia udah pernah mencelakai Hana. Dan aku sangat benci dengannya, aku tidak pernah suka dengan dia." ucap Wildan dan membuat Mawar kaget.
" Apa yang kau katakan, bukannya dia pacarmu?" tanya Mawar.
" Mampus aku, bisa-bisa rencana aku juga batal ini." batin Angel kemudian ia berusaha untuk mendekati Wildan agar Wildan tidak menceritakan semuanya kepada bundanya.
" Sayang jangan gitu dong, aku tahu aku salah. Aku minta maaf ya, kamu jangan marah lagi ya sama aku." ucapnya dengan sambut mungkin kemudian menggandeng tangan Wildan.
" Apa-apaan sih kamu, kita itu nggak pernah ada hubungan. Kenapa sih kamu selalu ngejar-ngejar aku, aku peringatkan ya sama kamu sampai kapanpun kita nggak akan pernah ada hubungan." jelas Wildan.
" Jadi dia bukan pacar kamu nak?" tanya bunda Mawar yang kaget.
" Mulutmu memang manis, tapi ternyata hatimu busuk. Pergi kau dari rumahku, dan bawa semua barang-barang yang kau bawa ke sini. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah merestui kau bersama dengan Wildan, apalagi kalau telah menyakiti putri kecilku." usir Mawar dengan emosi.
Angel pun segera pergi dari rumah tersebut, kini ia menjadi sangat kesal karena telah diusir oleh bunda Wildan. Kini ia semakin bertekad untuk mendapatkan Wildan, walaupun dengan tanpa restu dari bundanya. Ia masih saja berusaha untuk mendekati Wildan, walaupun ia sudah mendapatkan banyak halangan bahkan dari keluarganya sendiri.
" Bunda tidak menyangka dia sejahat itu nak." ucap Mawar yang kini berderai air mata kemudian memeluk putra sulungnya itu.
" Sudahlah bunda, lebih baik kita lupakan saja mengenai wanita itu. Karena saat ini Wildan punya kabar bahagia untuk bunda, dan mungkin setelah ini bunda akan melompat-lompat kegirangan." ucap Wildan dan membuat Mawar penasaran.
" Memangnya kau ingin mengatakan apa?" tanya mawar yang penasaran.
" Assalamualaikum." ucap Hana yang baru saja pulang.
" Waalaikumsallam." jawab keduanya serentak.
__ADS_1
" Cie yang baru punya pacar, kenalin dong ke adek." ucap Hana dan membuat Wildan tersipu malu.
" Oh jadi anak bunda ini udah punya pacar, siapa pacarnya. Kalau bisa jangan memiliki hati yang busuk kayak wanita tadi ya, bunda kesal banget sama dia." ucap Mawar dan membuat Hana bertanya-tanya.
" Memangnya siapa yang datang?" tanya Hana.
" Angel tadi datang ke sini." jawab Wildan dan membuat Hana merinding.
" Nenek sihir itu ngapain ke sini." ucapnya yang memang tidak menyukai Angel.
" Kakak juga nggak tahu, Kakak pulang dia udah ada di sini." ucap Wildan dan Hana pun mengangguk.
" Kalau begitu dia berarti bertemu dengan bunda dong, dia nggak ada apa-apain bunda kan?" tanya Hana yang kemudian langsung mendekati Mawar.
" Bunda nggak apa-apa sayang, lagian awalnya tadi dia ke sini datangnya baik-baik. Terus kau tahu nggak, dia ngaku sama bunda kalau dia itu pacar kakak kamu." jelas Mawar.
" Apa, kalau kak Wildan pacaran sama dia ana akan usir kak Wildan dari rumah." ucap Hana dan ekspresi Wildan pun langsung berubah.
" Kakak pun nggak akan pernah pacaran sama dia dek, dia itu orangnya sangat berbahaya. Kakak aja masih nggak terima dia pernah nyakitin kamu, ini dia malah datang ngaku-ngaku jadi pacar kakak. Rasanya mau ke bijak-bejek tahu nggak dia, tapi gitu-gitu anak dosen kakak." ucap Wildan dan Hana hanya tersenyum saja.
" Yang sabar aja kak, tapi kayaknya kita harus hati-hati. Saat ini dia sudah mengetahui rumah kita, dan aku yakin pasti ia akan menyusun banyak rencana agar bisa jadian sama Kakak." ucap Hana.
" Kalau begitu kita harus memberi pengawasan kepada bunda, agar suatu saat bila dia datang dia tidak akan macam-macam pada bunda." ucap Wildan dan Hana pun mengganggu.
" Tidak usah seperti itu juga sayang, Bunda bisa jaga diri kok." jawab Mawar dengan tersenyum.
" Tidak bisa begitu bunda, Angel itu orangnya nekat. Dan ia bisa berbuat apapun, asalkan apa yang ia inginkan tercapai." jelas Wildan dan Mawar pun menjadi merinding.
" Ternyata dia sama ngerikan itu, bunda tidak menyangka kalau dia bisa seperti itu." ucap Mawar yang kaget.
" Ya begitulah bun, mulai sekarang pengawasan bunda harus diperketat." ucap Wildan.
" Tapi siapa yang akan jaga ibunda ketika kita sedang kuliah?" tanya Hana yang penasaran.
__ADS_1
" Yang kau katakan benar juga dek, kakak belum kepikiran sampai sana loh." jawab Wildan yang memang belum memikirkan sejauh itu.
" Gimana kalau bunda di rumahnya umi Gayatri?" tanya Hana.