
" Kalau begitu aku pulang dulu, kalau butuh apa-apa tolong kabarin aku ya." ucap Yuda dengan lembut, kemudian ia menghilang dari pandangan.
Kini semuanya melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing, dan mereka melarang Mawar untuk bertindak. Karena mereka tidak ingin Mawar kecapean, mereka sangat menyayangi Mawar. Oleh karena itu mereka tidak ingin Mawar lelah, dan hanya mereka berdua yang mengerjakannya.
Kini Yuda sudah sampai di rumahnya, alangkah kagetnya Tami ketika melihat Yuda. Awalnya Tami mengira kalau Yuda akan lama, ternyata Yuda pulang dengan sangat cepat.
" Cepat sekali pulangnya mas, bukannya lagi bantuin Hana dan Wildan pindahan rumah?" tanyanya dengan lembut.
" Iya, tadinya memang masih lama di sana. Tapi karena kau telepon, mereka langsung memintaku untuk pulang." jawab Yuda.
" Oh begitu ya mas." jawabnya dengan tersenyum.
" Untungnya tau diri mereka, kalau nggak uda ku basmi." batin Tami.
" Padahal aku kasihan sama Wildan harus kerja sendiri, tapi nggak enak juga kan sama kamu dan tuan rumah." jelas Yuda.
" Ya begitulah, kau tenang saja mas. Kalau mereka sudah berkata begitu, pastinya mereka sanggup melakukannya." jawabnya.
" Oh iya, Gina pergi kemana?" tanya Yuda yang penasaran dengan keberadaan putri sambungnya itu.
" Aku juga kurang tau mas, katanya dia pergi sama teman-temannya tadi." jawabnya yang sudah bingung.
" Jangan-jangan si Hana uda ngasih tau kalau Gina di keluarkan dari kampus lagi, bisa bahaya ini. Mas Yuda bisa tau kalau Gina sering membully Hana, dan pastinya Gina akan mendapat hukuman dan mungkin saja mas Yuda tidak mau menguliahkan dia lagi." batin Tami yang cemas dengan putrinya.
" Kau kenapa?" tanya Yuda yang memperhatikan tingkah aneh istrinya itu.
" Aku nggak apa-apa kok mas." jawabnya.
" Kau yakin dengan jawabanmu?" tanyanya yang penasaran.
" Tentu saja aku yakin mas, ngomong-ngomong tadi di sana Hana nggak ada ngomong apa-apa sama mas?" tanyanya untuk memastikan.
" Memangnya ngomong apa, perasaan si Hana nggak ada ngomong apa-apa deh. Memangnya kau tau sesuatu?" tanya Yuda yang merasa heran.
" Nggak kok mas, aku cuma penasaran aja. Siapa tau dia curhat sama mas, walaupun aku cuma ibu sambungnya. Tetapi aku kan juga ingin tau apa yang ia butuhkan, agar aku dan dia semangkin dekat." jelas Tami yang mencari alasan.
" Oh kalau tentang itu, kau tenang saja sayang. Hana nggak ada cerita apa-apa, karena kau bilang seperti itu aku jadi teringat sesuatu." ucap Yuda dan membuat Tami menjadi khawatir.
__ADS_1
" Mas ingat apa?" tanyanya yang sudah cemas.
" Sebentar lagi adalah ulang tahun Hana." jelasnya dan Tami pun bersyukurlah, karena sang suami hanya mengatakan ulang tahun. Bukan apa yang sedang ia pikirkan.
" Kapan itu mas?" tanyanya dengan antusias untuk menutupi kecemasannya.
" Minggu depan, tanggal dua puluh satu November." jawabnya.
" Kalau seperti itu, kita masih bisa beli barang online mas." ucapnya.
" Ya benar, tapi aku kurang tau barang kesukaan Hana. Oh iya aku baru ingat, Gina kan satu kampus dengan Hana. Kita tanya aja sama Gina, kan mereka cukup dekat." jelas Yuda dan Tami menjadi tambah bingung.
" Dekat apanya, mereka berdua saja musuhan." batin Tami dengan menggelengkan kepalanya.
" Ada apa?" tanya Yuda yang heran.
" Aku cuma sedang berpikir aja mas, kalau kita tanya ke Gina. Nanti dia justru bertanya balik ke Hana, jadinya hadiah kita ketauan sama Hana." ucapnya beralasan.
" Yang kau katakan memang benar, yauda kalau gitu aku tanya sama Mawar aja. Dia kan ibunya Hana, jadi sudah pasti ia mengetahuinya." jelasnya.
" Sebenarnya aku tidak suka mas Yuda dekat dengan mantan istrinya, tetapi aku juga tidak bisa membiarkan mas Yuda tau tentang hubungan buruk Gina dan juga Hana putrinya." batinnya.
" Yang kau katakan benar, dan dari Mawar kau juga bisa mengenal Hana. Yauda nanti aku kirimkan nomor teleponnya, biar kalian bisa saling berkomunikasi." ucap Yuda kemudian langsung pergi untuk membersihkan diri di kamarnya.
" Syukurlah mas Yuda nggak curiga, jangan sampai mas Yuda tau kalau Gina di keluarkan." ucapnya yang panik.
...----------------...
" Kau sedang kenapa Gina?" tanya seorang pemuda.
" Aku sedang frustasi Damar." jawabnya.
" Apa yang terjadi pada mu, kau tidak seperti Gina yang ku kenal." ucapnya dengan melihat Gina keseluruhan.
" Aku di keluarkan dari kampus, dan akan sangat berbahaya jika ayah tiriku mengetahuinya." jelasnya.
" Yauda, nggak usa frustasi. Pindah aja ke kampus ku, gitu aja kok susa." jawabnya santai.
__ADS_1
" Nggak segampang itu Damar, aku itu di keluarkan dari kampusku. Pastinya banyak kampus yang nggak mau menerima aku." jawabnya.
" Kau lupa ya, aku ini ada yayasan di kampusku. Jadi ya semua itu gampang aja, sekarang tinggal kau mau apa nggak." ucapnya dan Gina pun tersenyum dengan sangat lebar.
" Eh iya juga ya, kalau gitu aku mau. Dari pada nantinya aku bisa bahaya sama ayah tiriku." ucapnya.
" Kau sepertinya sangat takut dengan ayah tirimu, kau tenang saja nggak usa takut kali. Lagian dia itu bukan siapa-siapa mu, jadi santai aja. Jadilah kau yang dulu, aku sangat menyukai kau yang dulu." ucap Damar dengan tersenyum.
" Ya kau bilang masuk akal juga, thanks ya Damar." jawabnya dan keduanya pun berpelukan.
" Santai aja, gimana tentang perjuangan mu untuk cowok yang namanya Dafa itu?" tanya Damar yang penasaran.
" Sudahlah nggak usa di bahas lagi, aku sudah capek. Padahal aku sudah menyakiti pacarnya agar mereka putus. Eh malah hubungan mereka mangkin dekat, aku sudah malas dengan semua ini." ucapnya yang memang sudah malas.
" Sejak kapan Gina muda menyerah." ucapnya.
" Sudahlah, ini itu ada hubungannya dengan ayah tiriku. Aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaan mami ku." jelasnya dan Damar pun menjadi penasaran.
" Bagaimana bisa ada hubungannya dengan ayah tirimu?" tanyanya.
" Ya karena pacar si Dafa itu anaknya anak tiriku, dan untungnya dia tidak mengaduh pada ayahnya. Kalau sampai ia mengadu, aku nggak tau bagaimana kehidupanku dan mami ku." jelasnya dan Damar pun mengangguk.
" Aku jadi penasaran dengan anak ayah tirimu itu, kau punya fotonya tidak?" tanyanya yang penasaran.
" Ada ni." ucapnya dengan menyerahkan handphonenya.
" Hana." batinnya yang kaget.
" Ada apa dengan ekspresi mu, apakah kau kenal dengannya?" tanya Gina.
" Tentu saja aku sangat mengenalnya, bahkan aku masih sangat mencintainya. Meskipun cintaku tidak terbalaskan." batinnya.
# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.
1. Naura Abyasya
2. Rela Walau Sesak
__ADS_1
3. Sepahit Sembilu
4. Azilla Aksabil Husna