
" Bunda." ucapnya dengan mengejar bundanya.
Kini keduanya sudah sampai di kamar Mawar, Mawar sangat kaget melihat kondisi putrinya tersebut. Putrinya kini sedang berderai air mata, dan dalam sekejap ia pun menjadi panik melihat kondisi putrinya.
" Apa yang terjadi padamu sayang?" tanya Mawar yang panik.
" Hana baru mengetahui sebuah rahasia bunda." jelasnya dan Mawar pun menjadi penasaran.
" Apa yang kau ketahui sayang?" tanyanya kembali.
" Ternyata tante Tami dan Gina tidak sebaik yang Hana kira, hiks…hiks." jawabnya dengan menangis.
" Apa yang telah mereka lakukan padamu?" ucap Mawar yang kini sudah emosi.
" Hana baru mengetahui satu hal, ternyata selama ini Gina selalu saja menjelek-jelekkan Hana di luar sana. Ia selalu saja membuat orang membenci Hana bunda, padahal Hana tidak berbuat salah kepadanya." jelasnya.
" Yang sabar ya sayang, mungkin Gina hanya iris aja kepadamu. Bunda yakin, Kalau Gina pasti akan berubah." jelas Mawar untuk menenangkan putrinya.
" Inilah salah satu hal yang aku takutkan, mudah-mudahan saja mereka tidak terlalu menyakiti Hana." batinnya dengan mengelus kepala Hana.
" Mudah-mudahan saja bunda, tetapi sepertinya banyak yang mereka sembunyikan. Dan aku juga mengetahui, ternyata Gina memiliki banyak musuh di luar sana. Aku tidak menyangka bunda, ternyata sikap Gina selama ini hanyalah akting semata." jelasnya.
" Kamu yang sabar ya sayang, bunda akan berusaha untuk menyelidiki semuanya. Bunda tidak ingin kamu tersakiti, kamu cukup duduk manis dan tidak perlu memikirkan hal tersebut." jelas Mawar.
" Bunda tidak perlu menyelidikinya, bunda cukup mendengarkan curhatan ku saja. Lagian kak Wildan juga sedang menyelidikinya, jadi bunda tidak usah ikut turun tangan. Takutnya mereka malah berbuat yang aneh-aneh kepada bunda, Hana tidak ingin kehilangan bunda." ucap Hana dengan langsung memeluk bundanya.
" Ya sudah kalau begitu, tetapi putri kecil kesayangan bunda jangan menangis ya." ucap Mawar dengan menghapus air mata Hana.
__ADS_1
" Hana janji nggak akan nangis lagi, tetapi Hana masih penasaran dengan tante Tami dan juga Gina bunda. mereka sepertinya menyimpan banyak rahasia, dan Hana takut itu akan melibatkan ayah." jelasnya yang khawatir kepada ayahnya.
" Kamu tenang saja Hana, bunda yakin ayahmu pasti sudah mengetahuinya. Dan ayahmu pastinya juga sudah menyusun rencana, agar tidak menyakiti dirinya dan juga kalian." ucap mawar untuk menenangkan Hana.
" Yang bunda katakan memang benar, bahkan tanpa kusadari ternyata ayah sudah mengirim bodyguard untuk menjaga ku." jelasnya dan Mawar pun tersenyum.
" Kalau begitu ceritanya, berarti ayahmu sudah menyadari semuanya. Karena itu ia mengirim bodyguard untuk menjagamu, agar mereka tidak bisa menyakiti dirimu. Jadi kamu tenang saja ya sayang, ayah kamu pasti akan baik-baik saja." jelas Mawar.
" Iya bunda, Hana akan baik-baik saja. Hana tidak akan terlalu memikirkan ayah, karena gini Hana tahu ayah sudah mengetahuinya." jelasnya.
" Berbicara mengenai hal tersebut, kakak kamu Wildan di mana?" tanya Mawar yang mencari putra sulungnya tersebut.
" Kak Wildan katanya ingin bertemu dengan seseorang, ia ingin membicarakan rencana selanjutnya untuk menghadapi tanta Tami dan juga Gina." jelas Hana.
" Ya sudah kalau begitu, lebih baik sekarang kita makan kemudian tidur." ucap Mawar.
" Jangan begitu dong sayang, nanti kamu sakit loh." ucap Mawar.
" Tolong jangan paksa Hana bunda, Hana sedang tidak berselera makan. Biarkan Hana selalu bersama bunda, Hana tidak ingin berpisah dari bunda." ucapnya dengan nada manja.
" Ya sudah kalau begitu, sini sama bunda kita tidur." ucap Mawar.
Mawar pun terus mengelus kepala Hana, hingga tanpa sadar Hana pun terlelap. Dan kini ia pun menyusul ke alam mimpi, karena ia juga sudah sangat mengantuk.
...----------------...
Sang surya bersinar dengan sangat benderang, tampak barisan mahasiswa dan mahasiswi yang sedang berlalu lalang. Berani dan arti kini sedang menunggu wakil dekan 3 dan juga Kaprodi fisika, kini mereka sedang berkumpul di ruang dekan. Tidak membutuhkan waktu yang lama, kini Deon dan Olivia sudah tiba di ruangan dekan. Kini mereka tampak sedang kebingungan, karena tidak biasanya Ibu Rani memanggil mereka.
__ADS_1
" Maaf sebelumnya Bu, ada apa ya Ibu memanggil kami?" tanya Olivia yang penasaran.
Rani tidak menjawab pertanyaan dari Olivia, iya hanya menyerahkan selembaran foto yang merupakan foto Gina.
" Ini maksudnya apa ya Bu?" tanya Deon yang penasaran.
" Kalian berdua mengenalnya?" tanya Rani.
" Tentu saja kami mengenalnya Bu, dia adalah mahasiswa fisika sama seperti Arfi anak ibu." jawab Deon
" Syukurlah kalau kau mengingatnya, kau mengetahui dia telah berbuat apa?" tanya Rani dengan nada yang tinggi.
" Memangnya dia telah berbuat apa Bu?" tanya Deon yang sahkan tidak mengerti.
" Sepertinya sikap dan karakter dia telat terdengar di telinga Ibu Rani." batin Deon.
" Kamu tidak usah berpura-pura Deon, berita tentang dia sudah tersebar ke penjuru kampus. Jujur saya sangat kecewa, saya mendengar kabar Ini bukan dari kamu dan juga dari kamu Olivia. Mengapa saya harus mendengar kabar ini dari orang lain, itu sangat mengecewakan bagi saya." ucap Rani dan keduanya pun menunduk.
" Maaf Bu, sebelumnya kami juga sudah mendiskusikan tentang Gina. Maaf kami tidak melibatkan ibu dalam forum diskusi kami, karena kami merasa kalau Gina masih bisa kami tangani. Tetapi kami minta maaf Bu, ternyata kami tidak bisa menanganinya dengan benar." ucap Olivia yang merasa bersalah.
" Karena kalian sudah memberikan peringatan pertama kepadanya, tetapi dia juga tidak bisa merubah sikapnya. Maka hari ini saya yang akan mengambil keputusan, saya tidak mau ia berada di kampus Ini lagi. Saya sudah bosan mendengar omong-omongan para mahasiswa dan mahasiswa yang lain, sikapnya sudah sangat keterlaluan dan bahkan kabar Ini juga sudah terdengar ke universitas luar." jelas Rani yang kini sudah emosi.
" Maksud ibu kita harus men-DO Gina?" tanya Deon untuk memastikan.
" Iya benar, kita tidak memiliki cara lain. Dia sudah menghancurkan nama universitas kita di luar, dan saya tidak ingin nama universitas kita semakin hancur karena ulah dirinya." ucap Rani ya memang khawatir.
" Tetapi dia merupakan anak pak Yuda Bu, salah satu pejabat tinggi di kota kita ini." ucap Deon yang merasa dirinya paling tahu.
__ADS_1
" Saya mengetahui hal itu, tetapi dia bukanlah anak kandung dari Yuda. Yuda paling menyetujui hal ini semua, karena Yuda sangat membenci orang yang telah menyakiti anak kandungnya sendiri." jelas Rani dan keduanya pun merasa heran, karena memang tidak ada yang tahu siapa anak kandung dari Yuda.