
" Yang kau katakan memang benar Rio, tapi jujur aku masih takut. Apalagi sekarang di Angel sudah mulai mengganggu hidupku lagi, aku takut akan membahayakan Intan." ucapnya yang memang ketakutan.
" Kau tenang saja, sekarang kita akan urus mengenai Angel terlebih dahulu. Setelah itu kita baru urus mengenai hubungan kau dan Intan, yang terutama kita harus menyelesaikan tentang Angel agar dia tidak mengganggu hubungan kau dan Intan." jelas Rio.
" Yang kau katakan benar, kalau begitu maaf ya harus merepotkanmu lagi." ucap Wildan yang segan pada Rio.
" Apaan si kau Wil, kita itu uda lama bersahabat. Jadi kau tenang saja ya, urusanmu sudah menjadi urusanku. Dan aku nggak akan membiarkan kau menghadapinya sendirian, aku nggak akan setengah itulah." jelas Rio dan mereka pun berpelukan.
" Terimakasih ya, aku nggak nyangka akan menjadi seperti ini." ucap Wildan.
" Sudahlah, ini semua juga bukan salahmu. Sekarang mending kita buat rencana, agar mempermudah kita untuk menyelesaikan masalahmu." ucap Rio.
Mereka pun mulai memikirkan rencana, hingga tanpa terasa mereka pun tertidur. Kini pagi sudah menyapa mereka, cahayanya yang masuk dari sela-sela jendela membangunkan keduanya.
" Rio bangun, sudah pagi ini." ucap Wildan yang terbangun duluan.
" Nanti lima menit lagi, aku masih ngantuk." ucap Rio.
" Tapi ini sudah pagi lho, kita harus berangkat kuliah. Hari ini kan hari pembekalan untuk magang." ucap Wildan dan Rio pun tersentak, kemudian ia pun langsung terbangun.
" Maaf aku lupa, kau ternyata sudah rapi. Tunggu aku ya, kita berangkat bareng." ucap Rio yang langsung berlari ke kamar mandi.
" Kau ini selalu saja seperti itu, bagaimana kalau kau masuk ke dunia kerja nanti. Mudah-mudahan kau tidak sering terlambat, dan akhirnya gajimu di potong." ucap Wildan dengan sedikit berteriak.
" Diam kau Wil, lagian apa yang kau bilang nggak akan pernah terjadi." bentak Rio yang berada di dalam kamar mandi.
...----------------...
__ADS_1
Hana dan yang lainnya sudah selesai bersiap, kini mereka sedang makan di meja makan. Semuanya tampak sangat ceria, walaupun situasi sedang tidak berpihak pada mereka.
" Mawar, bisa kau ceritakan bagaimana kejadiannya semalam?" tanya Gayatri.
Mawar pun menceritakan semuanya, dari awal kedatangan Angel sampai akhirnya ia pergi dari rumahnya. Dan membuat anak-anaknya khawatir, Gayatri yang mendengar penjelasan dari Mawar sahabatnya itu ia pun tersentak. Ia sangat tidak menyangka kalau kejadiannya bisa sampai seperti itu, ia awalnya mengira hanya ada kesalahpahaman atau sesuatu yang tidak benar.
" Kalau dari cerita, ia datang secara baik-baik. Tapi nggak nyangka di ujungnya ia cukup mengerikan juga." jelas Gayatri.
" Ya begitulah, aku pun juga sempat kaget ketika mengetahui hal itu." jawab Mawar.
" Kalau begitu, untuk sementara kau tinggal di sini saja ya. Aku sangat khawatir denganmu." ucap Gayatri yang memang menghawatirkan sahabatnya.
" Ta-tapi aku nggak enak sama kau dan keluargamu." ucap Mawar.
" Kau tidak usah sungkan, lagian kita juga uda lama bersahabat. Jadi aku mohon kau di sini saja sampai situasi aman." ucap Gayatri.
" Bagaimana ya, aku masih segan sama keluargamu." ucap Mawar yang memang segan.
" Ya sudah kalau begitu, maaf ya jadi merepotkan keluargamu." ucap Mawar yang segan.
" Itu semua tidak masalah, yang terpenting kau aman dan damai di sini. Oh iya, kenapa kau sudah rapi jam segini?" tanya Gayatri yang memang penasaran.
" Aku mau berangkat kerja." jawab Mawar yang memang ingin berangkat.
" Apa tidak sebaiknya kau libur dulu, aku khawatir pada mu." ucap Gayatri.
" Tempat kerjaku sulit untuk minta libur, sudahlah nggak apa-apa. Aku akan jaga diri baik-baik kok." ucapnya dengan tersenyum.
__ADS_1
" Ya sudah kalau itu kemauanmu, tapi benar ya kau akan jaga dirimu baik-baik." ucap Gayatri untuk mengingatkan.
" Kau tenang saja Gayatri, aku hanya pergi untuk bekerja. Dan lagian di tempat kerja aku aman kok, aku bisa jamin anak itu tidak akan mengusikku." ucap Mawar dengan tegas.
" Sudahlah umi, biarkan saja Mawar pergi. Lagian mawar pergi hanya ingin bekerja, umi juga dengarkan Kalau di tempat kerjanya aman." ucap Aden, suami Gayatri.
" Kalau begitu aku pergi dulu ya." ucap Mawar kemudian ia segera pergi ke tempat kerjanya.
...----------------...
Kini Rio dan Wildan sudah sampai di kampus, mereka langsung pergi ke aula fakultas. Di sana sudah banyak berkumpul teman-teman mereka, dan juga sudah ada para dosen yang akan memberikan pembekalan. Mereka pun langsung duduk di dalam aula tersebut, tampak aula yang penuh dan membuat mereka mendapatkan tempat duduk di belakang.
Satu-persatu dosen mulai memberikan pengarahan, tak terasa waktu satu setengah jam sudah dihabiskan. Dan kini para dosen membagikan dosen pembimbing magang, Wildan dan Rio mendapatkan dosen pembimbing yang berbeda. Rio menjadi sangat kesal, karena ia mendapatkan dosen pembimbing yang terkenal cukup kiler.
" Kau kenapa Rio?" tanya Wildan yang menyadari sikap aneh temannya itu.
" Gimana aku nggak kesel coba, kita itu satu tempat magang. Tapi coba kau lihat ini, kau mendapatkan dosen yang cukup enak yaitu bu Hani. Sedangkan aku mendapatkan dosen yang cukup kiler, kau lihat saja ini nama pak Rino." ucapnya yang tidak semangat.
" Ya mau bagaimana lagi Rio, lagian yang menentukan juga bukan kita. Aku sih maunya satu dosen pembimbing denganmu, agar pekerjaan kita juga bisa selesai dengan cepat. Tetapi aku tidak menyangka kalau kita jadi beda dosen pembimbing, dan otomatis kita akan mengerjakan laporan kita masing-masing. Dan hal itu pasti memerlukan waktu yang sangat lama, karena kita tidak bisa kerja sama." Wildan juga ikut mengeluh.
" Yang kau katakan itu sangat benar Wil, aneh nih dosen udah tahu satu tempat magang tapi dosen pembimbingnya beda. Nggak tahu apa kalau kita pengennya satu dosen pembimbing, agar mempercepat pekerjaan kita." ucap Rio yang kesal.
" Ya sudahlah Rio, yang sabar aja. mungkin ada hikmahnya dari semua ini, dan dengan hal seperti ini kita juga bisa hidup mandiri." ucap Wildan dan Rio pun mengangguk.
" Yang kau katakan ada benarnya juga, mudah-mudahan aja pak Rino baik terus. Agar laporanku juga cepat selesai, aku sangat malas untuk merevisinya." jelas Rio yang memang sangat malas berhubungan dengan berkas.
" Amin." ucap mereka berdua serentak.
__ADS_1
" Sepertinya ada yang sedang pusing nih." ucap Tina yang tiba-tiba saja muncul.
" Gimana nggak pusing coba, aku dapat dosen pembimbing Pak Rino." ucap Rio dan Tina hanya menggelengkan kepalanya saja.