
" Kalau soal itu aman, yang penting kau kuat menjalaninya." ucap Wildan.
" Iya, aman itu." jawabnya kemudian sambungan telepon pun mati.
" Itu kak Anas ya?" tanya Intan, dan Wildan pun mengangguk.
" Iya, yang telepon barusan itu Anas." jawabnya.
" Terus…? Tanya Intan.
" Dia ngebatalin perjanjian, katanya dia lagi nyari tempat buat magang." jelas Wildan.
" Terus kita gimana dong?" tanya Intan yang memang tidak tahu.
" Ya kita jalan-jalan aja ya, kan rencana kita udah batal." jelaskan dan Intan pun mengangguk.
" Ya udah kita jalan-jalan, kebetulan aku juga lagi males pulang ke rumah." jawab Intan.
Keduanya pun langsung pergi, mereka pergi mengitari sudut kota itu. Mereka sambil bercanda dan tertawa, dan bahkan juga membuat orang-orang yang melihat merasa iri. Tanpa mereka sadari, ada orang yang sedang memfoto mereka. Kemudian mengirim foto tersebut kepada ayah dari Intan.
...----------------...
" Pantas saja Ini anak tidak mau dijodohin, eh ternyata dia udah punya pacar." ucap Ayah Intan dengan menggelengkan kepalanya.
Iya pun akhirnya segera menghubungi bawahannya, dan meminta bawahannya tersebut untuk menyelidiki siapa itu Wildan.
" Yogi, selidiki siapa pemuda itu!" perintahnya, dengan mengirim foto Intan dan juga Wildan.
" Baik tuan." jawabnya.
Tiga puluh menit sudah berlalu, Yogi pun segera mengirimkan biodata tentang Wildan. Ayah Intan cukup terkejut, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang. Dan ia mencoba mengamati lagi, dan akhirnya ia pun jatuh hati kepada Wildan. Setelah membaca semua biodata tentang Wildan, ia pun mengetahui asal muasal Wildan. Bahkan di situ juga tertera nama kedua orang tua Wildan, dan ayah Intan cukup sangat gembira.
" Ternyata dia anaknya Mawar." ucap Ayah Intan.
" Sudah lama aku tidak bertemu dengan Mawar dan Gayatri, sepertinya bila mereka berdua berjodoh aku akan sangat bahagia." tambahnya kembali.
Tiba-tiba saja ada yang masuk, dan ternyata yang masuk adalah mama intan.
" Mas kenapa tersenyum?" tanya mama Intan yang merasa heran.
__ADS_1
" Coba kau lihat ini!" ucapnya dengan memperlihatkan handphonenya.
" Kalau begitu bagus dong mas, kita nggak perlu nyariin cowok buat dia. Selama ini kita kira dia bermasalah, ternyata dia sudah memiliki cowok." jelas mama Intan dengan tersenyum.
" Yang kau katakan itu memang benar, tetapi kau juga harus melihat ini." ucap ayah Intan dengan memberikan biodata tentang Wildan.
" Apa…aku nggak salah lihat ini, cowok itu anak dari mawar. Wah aku sudah kangen banget sama Mawar dan juga Gayatri, kira-kira aku bisa bertemu dengan keduanya tidak ya. Aku jadi inget deh masa-masa zaman dulu, waktu kita berdua menjadikan mereka sebagai obat nyamuk." ucap mama Intan dengan mengingat masa lalu.
" Iya aku juga teringat, momen saat itu adalah momen yang sangat berkesan." jelas ayah Intan.
" Aku jadi pengen deh cepat ketemu mereka." ucapnya dengan ekspresi sedih.
" Kau tenang saja, kita harus meminta Intan membawanya ke sini. Dengan seperti itu, kita bisa dengan mudah bertemu dengan Mawar." ucap ayah Intan.
" Kalau begitu, mas harus melakukannya secepatnya. Karena jujur aku sudah kangen dengan Mawar, dan aku sangat ingin meledek dirinya seperti dulu." ucap Mama Intan.
" Sayang, kau jangan banyak ngeledek dirinya. Kau belum baca biodata itu sampai habis ya, di sana sudah dijelaskan. Kalau Mawar sudah lama berpisah dengan suaminya, dan selama ini dia tinggal berdua bersama putri bungsunya. Dan mereka baru saja berkumpul beberapa bulan yang lalu, tetapi hubungan Mawar dan suaminya tidak bisa diperbaiki. Dan bahkan, beberapa hari yang lalu suaminya menikah lagi." jelas ayah Intan dan membuat mama Intan kaget.
" Oh tidak, aku tidak menyangka nasib Mawar seperti itu. Aku jadi ingin segera memeluknya, teman terbaikku kenapa dia bisa seperti itu." ucap mama Intan dengan berderai air mata.
" Iya sayang, kau sebagai temannya harus mengerti dia." ucap ayah Intan kemudian langsung memeluk istrinya.
" Iya sayang, besok mas akan meminta Intan untuk membawa pacarnya itu." ucapnya yang masih dalam pelukan isterinya.
...----------------...
" Kenapa perasaan ku nggak enak ya." ucap Wildan dengan memegang tengkuk lehernya.
" Kak Wildan kenapa?" tanya intan yang penasaran.
" Nggak tau, tiba-tiba perasaanku nggak enak." jelasnya.
" Karena kakak ngomong begitu, aku juga jadi kepikiran." ucap Intan yang kini merasa tidak enak.
" Kau kenapa?" tanya Wildan yang merasa Intan aneh.
" Sepertinya ada yang sedang membicarakan ku, eh nggak deh. Kayaknya lagi pada membicarakan kita." jawab Intan dan Wildan pun teringat dengan apa yang ia dan Rio lakukan di fakultas Intan tadi.
" Sepertinya yang kau bilang benar, oh iya sepertinya kau juga harus menyiapkan mental untuk besok." ucap Wildan dan membuat Intan kebingungan.
__ADS_1
" Memangnya apa yang akan terjadi besok?" tanya Intan yang penasaran.
" Aku nggak akan bilang, lebih baik kau siapkan mental aja." ucap Wildan.
" Yauda deh, tapi kenapa filing ku nggak enak ya." ucapnya dengan menatap Wildan.
" Uda nggak usa dipikirkan, lebih baik hadapi aja langsung." ucap Wildan dengan tersenyum dan membuat Intan kebingungan.
" Kakak kenapa sih?" tanyanya dengan memicingkan mata.
" Nggak ada kok." jawabnya dengan setenang mungkin.
" Perlu di curigai ini." ucapnya yang tidak percaya.
" Hahaha, kau ini lucu tau." jawab Wildan dengan tertawa dan membuat Intan menjadi kesal.
" Ih kakak nggak enak, aku mau pulang aja." ucapnya dengan beranjak dari kursinya.
" Eh jangan dong." ucapnya dengan menggenggam tangan Intan.
" Ih kakak apaan sih, lagian ini itu uda sore. Nanti aku dimarahi sama orang tuaku, kalau pulang kesorean." ucap Intan dan Wildan pun segera melihat ke arah jam tangannya.
" Oh iya, ternyata uda sore. Yauda aku antar pulang yuk." ucapnya dengan menggenggam tangan Intan.
" Nggak usa kak, aku ngerepotin aja." ucapnya yang merasa tidak enak.
" Kau nggak ngerepotin, lagian aku uda janji sama Anas. Jadi kau adalah tanggung jawabku, jadi sudah tugasku untuk mengantarmu pulang." jelas Wildan.
" Yauda deh kalau begitu." jawab Intan dan mereka pun segera menuju parkiran.
Kini mereka sudah sampai di depan rumah Intan, Intan pun langsung masuk ke dalam. Wajahnya kini masih tersipu malu, dan tiba-tiba ayahnya muncul. Kemudian langsung menarik Intan ke ruang kerjanya.
" Intan, ayah mau ngomong sama mu." ucap sang ayah.
" Mau ngomong apa?" tanya intan yang penasaran.
" Ini apa?" tanya sang ayah dengan menyodorkan sebuah foto.
" Eh ini." ucap Intan dengan cemas.
__ADS_1
" Pantas saja kau menolak perjodohan, ternyata kau sudah punya pacar." bentak yang ayah.