
" Maaf, habisnya baru kali ini aku lihat kamu begini. Dan sepertinya kamu sangat menyayangi kak Wildan, sampai-sampai kau tidak rela ditinggal olehnya." ucap Kalisa.
" Apaan sih kamu, daripada ngomongin kak Wildan. Mending kita bahas rencana kita selanjutnya, kalau kelamaan tertunda nanti bisa tidak jadi." ucap intan dan kini Kalisa bentar sadar.
" Ngomong-ngomong tentang itu ya, bukannya kak Wildan itu kakak sambungnya Gina ya. Terus gimana hubunganmu dengan kak Wildan, kalau nanti kak Wildan tahu kau berusaha untuk menyakiti adiknya." jelas Kalisa.
" Untuk urusan itu, lebih baik kita pikirkan nanti. Dan bila kawin dan tahu kebenarannya, aku yakin dia pasti akan bersama denganku." jelasnya dengan tatapan sayup.
" Kau yakin, bagaimana kalau kak Wildan malah justru berpihak kepada Gina. Dan akhirnya hubungan kalian yang baru saja dimulai ini, harus berhenti di tengah jalan. Aku tidak mau kau tersakiti, lebih baik aku saja yang melakukannya. Agar hubunganmu yang manis ini tidak tinggal nama saja, dan kalian hanya tinggal dalam bayang-bayang kenangan." jelaskan Kalisa dengan memikirkannya sebaik-baik mungkin.
" Tidak Lis, aku akan ikut bergabung. Aku akan terima konsekuensinya, walaupun nantinya hatiku tersakiti. Bagiku yang terpenting saat ini, adalah melihat dua wanita jahat itu hancur. Aku tidak ingin, bila ada orang lain yang merasakan sakit seperti diriku." jelasnya dengan berderai air mata.
" Kau memang wanita yang kuat, dan aku yakin. Dengan keteguhanmu, dan kerja keras kita bersama-sama. Maka semua usaha kita akan membuahkan hasil, dan tidak ada lagi yang mengalami nasib seperti pamanmu dan juga pamanku." jelas Kalisa.
" Iya benar, karena itu kita tidak boleh menyerah. Kita harus tetap berusaha, ingat masih banyak orang di luar sana yang bisa saja menjadi target mereka berdua. Dan akan ada banyak orang, yang menjadi seperti kita karena ulah mereka." jelas intan dan Kalisa pun mengangguk.
" Kalau begitu kita harus semangat." ucap Kalisa dengan tersenyum.
...----------------...
Jini Hana dan Dafa sudah keluar dari kelasnya, Mereka pun memutuskan untuk duduk di bawah DPR. Kini semuanya menghampiri keduanya, karena keduanya berhasil menaklukkan dosen killer tersebut. Dan semua mahasiswa di kelasnya menjadi penasaran, dan ingin menanyakan bagaimana caranya.
Keduanya pun menjadi kewalahan, hingga tiba-tiba saja Hana jatuh pingsan. Kejadian itu pun membuat semua mahasiswa dan mahasiswi itu kaget, Dafa yang cemas langsung membawa Hana ke UKS. Tetapi di dalam UKS tidak ditemukan dokter jaga, akhirnya Dafa pun membaringkan Hana di tempat tidur yang tersedia. Kemudian ia duduk di samping Hana, sambil menunggu Hana terbangun.
" Hana bangun, jangan tinggalkan aku." ucap Dafa yang kini berderai air mata.
Tiba-tiba saja, ada tangan yang menggenggam rambut Dafa. Dafa pun langsung mengangkat kepalanya, dan ia melihat Hana yang sedang tersenyum.
__ADS_1
" Hana, kau akhirnya sadar." ucapnya dan langsung memeluk Hana.
" Dafa, sebenarnya aku nggak pingsan. Aku cuma capek jadi biar mereka pergi aku pura-pura pingsan." ucapnya.
" Ya ampun, kenapa nggak janjian dulu sih. Kan aku jadi panik." ucapnya dengan menyentil hidung Hana.
" Maaf." ucapnya dengan menyatukan kedua tangannya.
" Yauda gpp, yang penting kau baik-baik saja." ucap Dafa dengan tersenyum.
" Maaf ya, kau pasti khawatir." ucapnya.
" Gpp, aku tetap sangat bahagia. Karena kau baik-baik saja, lain kali jangan begini ya. Jujur aku sangat takut kehilanganmu." ucapnya.
" Iya, aku janji nggak akan mengulanginya lagi." ucap Hana.
" Oke, aman itu." ucapnya dengan tersenyum dan membuka tanda ok dengan jarinya.
" Pasti kau sangat capek ya, yauda istirahat aja. Nanti aku bangunkan, tapi aku takut kabar kau pingsan menyebar. Dan sebentar lagi akan ada yang datang untuk melihatmu." ucap Dafa.
Dan benar saja, kini Wildan pun datang ke ruang UKM. Ia tampak sangat cemas, ia takut terjadi sesuatu dengan adiknya itu. Dan hal itu mengagetkan keduanya.
" Hana kamu tidak apa-apa?" tanya Wildan yang baru saja tiba.
" Hana nggak apa-apa kok kak." jawab Hana.
" Syukurlah, kakak sampai ketakutan. Untungnya kau tidak apa-apa dek, sebenarnya ada apa sih?" tanya Wildan.
__ADS_1
" Haduh, aku harus jawab apa ya." batin Hana dengan menatap Dafa.
" Hana tadi kecapean kak, kebetulan tadi ada banyak mahasiswa dan mahasiswa yang bertanya kepada kami. Habis adik kesayangan kakak ini pinter banget sih, sampai-sampai semua mahasiswa dan mahasiswi bertanya kepada dirinya." jawab Dafa yang mengatakan kejujuran walaupun tidak semuanya.
" Ngajarin temen sih boleh, tapi kau juga harus ingat kondisimu. Jangan sampai dirimu sakit, hanya demi untuk mengajari seseorang." ucap Wildan dengan mengelus kepala Hana.
" Iya maaf kak, janji deh nggak akan ada kata lain kali." jawabnya dengan tersenyum.
" Okelah kalau begitu, ingat jangan hanya mementingkan orang lain. Kau juga harus mementingkan dirimu, yang paling utama adalah dirimu dulu baru orang lain." jelas Wildan dan Hana pun mengangguk.
" Siap komandan, apapun perintahmu akan terlaksana." jawabnya dengan tersenyum.
" Dasar kau ini, ya sudah kalau begitu kakak kembali ke kelas dulu ya. Dafa, kakak titip Hana ya. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Hana, kakak tidak akan pernah memaafkanmu." ucap Wildan kemudian pergi meninggalkan keduanya.
" Maaf ya, karena aku kau jadi dimarahi kak Wildan." ucapnya dengan ekspresi sedih.
" Kau tenang saja beb, aku sudah biasa kok dimarahi sama Kak Wildan. Lagian kak Wildan marah itu semua demi kamu, kak Wildan itu sangat menyayangimu. Jadi bagiku itu tidak masalah, karena ia hanya ingin yang terbaik untuk dirimu." jawab Dafa dengan mengelus kepala Hana.
" Yang kau katakan cukup masuk akal, dan yang dilakukan oleh kak Wildan memang demi kebaikanku. Karena itu aku sangat menyayanginya, dan aku tidak ingin terpisah dengannya. Sudah cukup aku terpisah dengannya, dan aku tidak ingin kejadian itu terulang kembali." jawab Hana yang tanpa sadar meneteskan air mata.
" Sudahlah jangan menangis, nanti kalau kak Wildan lihat bisa gawat loh. Bisa-bisa aku dicincang, dan kau tidak akan bisa melihat wajah tampanku lagi." goda Dafa dan Hana pun tertawa.
" Iyalah tuh yang tampan, yang tampannya sangat kelewatan. Dan membuat aku terpanah, dan tidak bisa melupakan dirimu." ucapnya dengan tersenyum dan menggenggam jemari Dafa.
...----------------...
" Kenapa sih aku harus dikeluarkan dari kelas, padahal aku sedang asyik menikmati wajah tampan Dafa. Eh itu dosen sialan malah ngeluarin aku, buat kesel aja." ucapnya dengan berjalan menuju fakultas.
__ADS_1