
Kini Hana menunggu Dafa di ruang utama, tetapi sebelumnya ia menelpon Dafa kalau dia berada di ruang utama. Setelah mendapat telepon Dafa pun dengan sigap segala turun untuk menemui Hana, tetapi ia merasa heran dengan tingkah Hana. Akhirnya ia yang penasaran pun mempertanyakannya.
" Kamu kenapa Beb?" tanya Dafa yang baru saja tiba di ruang utama.
" Bekal aku buat kamu diambil sama ummi." jawabnya dengan jujur.
" Lah kok bisa diambil sama ummi?" tanya Dafa yang merasa heran.
" Tadi waktu sampai aku jumpa umi, terus umi nanyain apa yang aku bawa. Ya aku bilang aku bawa makanan, siapa itu langsung juga kabur sama umi." jelasnya jujur.
" Terus kamu diam aja?" tanya Dafa dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Dia itu anteng banget, bahkan sampai kayak patung. sumpah lucu banget dek." jelas Cahaya yang baru saja tiba.
" Bener yang dibilang sama kakak aku?" tanya Dafa kemudian langsung duduk di samping Hana, Hana tidak menjawab pertanyaan tersebut ia hanya mengangguk saja.
" Ya udah maafin ummi aku ya." ucapnya dengan mengelus kepala Hana, Hana pun tidak menjawab ia hanya bisa mengganggu karena itu adalah perintah dari Dafa.
" Ya ampun nurut bener kau Han." ucap Cahaya, namun tiba-tiba saja Dafa menatapnya dengan sinis. Cahaya yang merasakan hawa tidak enak ia pun akhirnya memutuskan pergi, karena ia tahu ia akan kena masalah dengan adik kecilnya itu.
" Tapi aku nggak jadi bawa makanan, padahal itu request-an kamu." ucapnya dengan nada manja.
" Ya udahlah mau gimana lagi, lagian itu juga umi aku. Aku juga nggak bisa bertindak, bisa-bisa aku dicoret dari kakak." ucapnya dengan tersenyum.
...----------------...
" Masakan Hana memang enak banget, nggak salah tadi aku bawa kabur." ucap ummi, dengan menyantap makanan yang dibawa Hana tadi.
Tiba-tiba saja Abi pun datang, Abi yang melihat sang istri tercinta sedang makan. Akhirnya Abi menemui ummi, dan Abi mencium aroma masakan itu sangat lezat. Tanpa aba-aba Abi langsung mengambil makanan tersebut, dan sontak saja umi menjadi sangat kesal.
" Abi makanan umi Kenapa diambil?" ucap ummi yang kesal.
__ADS_1
" Makanan ini sudah bukan menjadi makanan ummi lagi, karena makanan ini sudah menjadi milik Abi." ucap Abi dengan pergi membawa makanan tersebut.
Kini Abi berlari hingga ruang utama, tatapan mata Hana tertuju kepada makanan tersebut. Dafa pun mengarahkan tatapannya juga ke makanan itu, dan akhirnya ia bertanya kepada abinya. Dari mana abinya mendapatkan makanan tersebut, walaupun sebenarnya ia sudah menduganya.
" Abi, itu makanan dari mana?" tanya Dafa.
" Oh makanan ini, Abi tadi rebut dari umi kamu. Habis wanginya enak banget sih, Abi kan jadi penasaran sama rasanya." jelas Abi.
" Abi sama ummi sama aja, makanan itu dibuat sama Hana buat aku. eh main direbut aja." ucap Dafa dengan nada lembut.
" Oh jadi ini masakan Hana, rasanya enak banget. Abi mau dong kapan-kapan dimasakin, kayaknya Abi jadi ketagihan nih." ucap Abi dengan tersenyum kemudian pergi membawa kotak makanan tersebut.
" Maafin Abi sama ummi aku ya, mereka mah gitu kalau ada makanan enak. Sampai lupa sama anak sendiri, tapi masakan kamu kayaknya udah pas deh di lidah Abi dan ummi aku. Makasih ya, sepertinya jalan kita akan mulus." jelas Daffa dengan tersenyum dan kini Hana menunduk, karena tersipu malu.
" Jalan mulus, jalan mulus. Nggak ada, nggak ada. Awas aja ya kalau kalian ngelangkahin kakak, yang anak pertama itu kakak. Jadi yang harus nikah duluan itu kakak." ucap Bayu yang baru saja muncul.
" Makanya cepet dibawa calonnya ke rumah Kak, kenalin Kak Abi sama ummi. Jadi kan nggak keduluan sama kami." ucap Dafa dengan merangkul bahu Hana kemudian membawanya pergi dari tempat itu.
" Males ah ngomong sama Kak Bayu, ceritanya galau mulu." jelas Dafa.
" Ye dasar ini anak, tapi yang dibilang bener juga sih. Kayaknya aku harus cepet, kalau nggak bisa-bisa aku ke duluan." gumam Bayu, yang tanpa saja terdengar oleh ummi.
" Kak Bayu udah punya pacar?" tanya ummi yang baru saja muncul.
" Eh rupanya Ada ummi, ummi ini ngagetin aja." ucap Bayu yang kini masih memegang dadanya karena sakit.
" Maaf deh, tapi Kak Bayu udah punya pacar kan?" tanya ummi kembali untuk memastikan.
" Iya umi Bayu udah punya pacar." jawabnya.
" Masih sama yang lama atau udah ganti?" tanya ummi dan membuat Bayu kebingungan.
__ADS_1
" Eh jadi umi udah tahu?" tanya Bayu yang kaget.
" Ya tahulah, tapi ummi nggak mau ya kalau kamu sama Riska. Ummi sama Abi nggak suka sama dia." ucap umi dengan nada tinggi.
" Tenang aja ummi, kali ini Kak Bayu nggak akan sama Riska. Karena Kak Bayu udah punya pacar baru, namanya Dea ummi. Dan kali ini Bayu yakin abi sama ummi pasti suka sama dia." jelas Bayu dan membuat umi menjadi penasaran dengan sosok Dea.
" Oke kalau gitu jemput dia sekarang, kalau mau ummi restuin." ucap ummi kemudian pergi meninggalkan Bayu.
Tanpa perlu aba-aba, Bayu pun segera pergi ke rumah Dea. Bahkan Dea pun sampai kaget ketika Bayu sampai di rumahnya, karena beberapa menit yang lalu Bayu baru saja pulang dari rumahnya. Dea yang penasaran akhirnya menanyakan kepada Bayu, apakah Bayu meninggalkan sebuah barang atau ada niatan lain.
" Mas Bayu Kenapa balik lagi, apa ada yang tertinggal?" tanya Dea yang merasa tingkah Bayu aneh.
" Se-sebenarnya, aduh gimana sih ngomongnya." ucap Bayu yang gugup dan juga kebingungan.
" Mau ngomong apa sih mas, ngomong aja langsung." ucap Dea meyakinkan Bayu.
" Sebenarnya, Abi sama umi aku pengen ketemu sama kamu." ucapnya dengan ekspresi cemas.
" Apa nggak terlalu cepat mas?" tanya Dea yang merasa terlalu cepat, karena mereka belum lama menjalin hubungan.
" Ya mungkin memang terlalu cepat, tapi kalau nggak sekarang hubungan kita nggak akan direstui kata ummi." ucap Bayu dan sontak saja membuat Dea terkejut.
" Kalau begitu Tunggu dulu ya mas, Dea ganti baju dulu." ucapnya kemudian berlari pergi menuju kamarnya.
...----------------...
" Sumpah aku kesel banget tau nggak sama si itu tadi." jelas Rio.
" Yang sabar yo, gimana udah dapet?" ucap Wildan.
" Udah, aku udah dapet namanya siapa. Dan aku jadi pengen bermain-main deh sama dia." jelas Rio dengan tatapan penuh misteri.
__ADS_1
" Rio kok nggak punya rencana aneh-aneh kan?" tanya Wildan yang merasa tingkah sahabatnya aneh.