
" Tante dapur di mana ya?" tanyanya dengan lembut.
" Mau ngapain ke dapur?" tanya ummi seakan-akan dia tidak tahu.
" I-itu Tan." ucapnya yang kebingungan.
"Ngapain, jawabnya kok gugup itu sih?" tanya ummi.
" Ini ummi, sebenarnya Dafa mau minta makan." ucapnya dengan gugup.
" Oh mau makan, kalau gitu ayo ummi anterin ambil makana." ucap ummi dengan menggandeng tangan Hana.
Hana diam sejenak dan mengikuti langkah ummi menuju dapur, sesampainya di dapur. Ia pun merasa bingung, dan tidak tau harus berbuat apa. Ia terdiam dan memikirkan apa yang harus ia katakan pada ummi. Ummi pun terus memperhatikan Hana, dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Hana. Karena sebenarnya ummi sudah mengetahuinya, tetapi berpura-pura tidak mengetahuinya.
Karena sudah lama menunggu, tetapi tidak mendapatkan jawaban. Akhirnya ummi pun memutuskan untuk memulai percakapan, karena ia juga melihat tingkah Hana yang tampak seperti kebingungan.
" Kenapa tidak langsung di ambil sayang?" tanya ummi.
" Em, begini ummi. Sebenarnya Dafa minta Hana buat masak." ucapnya dengan gugup.
" Oh kenapa nggak bilang dari tadi sih, yauda dia mau makan apa. Perlu ummi bantu nggak?" tanya ummi.
" Nggak ada permintaan si Tante, jadi masih bingung." jawabnya dengan jujur.
" Gimana kalau sup, kebetulan ada ayam di kulkas." jelas ummi.
" Ide bagus Tante, kebetulan aku juga bingung mau masak apa. Hehehe."ucap nya sambil tertawa.
" Yauda, sini ummi bantu." ucap ummi.
" Kalau nyiapin aja boleh ummi, tapi masak jangan ya ummi." ucapnya dengan nggan.
" Kenapa?" tanya ummi.
__ADS_1
" Nggak apa-apa Tante, cuma takutnya nanti Dafa tau itu masakan Tante. Dan Dafa malah nggak mau makan." ucapnya.
" Eh masuk akal juga." jawabnya.
Kemudian ummi dan Hana segera menyiapkan bahan-bahan yang akan di pakai, setelah semua bahan terkumpul di atas meja. Ummi pun segera pergi meninggalkan dapur, dan membiarkan Hana untuk menguasai dapur. Sebenarnya ia masih tidak percaya Hana bisa memasak, tetapi demi putranya ia membiarkan Hana masak sendiri.
Hana pun memasak sup ayam, dengan bumbu yang sudah di ajarkan oleh bundanya. Aroma masakan nya pun tercium, semua yang mencium aroma masakan Hana menjadi penasaran dengan rasa masakan Hana. Bahkan mereka sampai menemui Hana di dapur, karena mereka sudah sangat menantikan masakan Hana.
Hana pun memasukkan masakannya ke dalam mangkuk, kemudian ia pergi menuju kamar Dafa. Tiba-tiba ia bertemu dengan ummi dan yang lainnya, sontak saja Hana kaget. Tetapi dengan melihat ekspresi di wajah mereka semua, Hana sudah mengerti apa yang membawa mereka menghampiri Hana di dapur.
" Makanannya ada di panci, tadi masih banyak Hana tinggalkan di dapur." ucapnya kemudian meninggalkan semuanya pergi.
Semuanya langsung pergi ke dapur, karena mereka sangat penasaran dengan rasa masakan Hana. Dan benar saja, sesuai dengan yang dikatakan oleh Hana. Di dapur, tempat panci masih banyak di tinggalin oleh Hana. Mereka pun mengambil mangkuk, untuk mencicipi masakan Hana. Dan alangkah kagetnya mereka, rasa masakan Hana sungguh pas di lidah mereka.
...----------------...
" Masakan sudah siap." ucapnya yang kini masih berada di pintu dan berjalan menghampiri Dafa.
" Wah wangi banget, aku jadi nggak sabar ni." ucapnya dengan menatap Hana.
Hana pun langsung menyuapi Dafa, dan alangkah terkejutnya Dafa. Ia tidak menyangka kalau masakan Hana seenak itu, awalnya ia mengira akan merasakan rasa yang sangat aneh. Tapi karena kepingin, dan itu adalah masakan Hana. Ia pasti akan tetap memakannya, walaupun ia akan merasakan rasa yang belum pernah ia rasakan.
Hayalan Dafa berubah ketika ia mencicipi masakan Hana, rasa yang belum pernah ia rasakan. Ya rasa yang sangat ingin ia rasakan sejak dulu, tak di sangka ternyata ia dapat merasakannya di tangan Hana pacarnya.
" Sayang Hana hanya pacar pura-pura ku saja, aku akan menunggumu membuka hati untukku. Walaupun aku sudah mendengar perkataanmu, tapi aku tidak ingin merasa terpaksa." batin Dafa dengan menatap Hana.
" Gimana, enak nggak. Dafa, Dafa, is dari tadi di panggilin nggak ngejawab." ucapnya yang kesal.
" Eh maaf, aku nggak nyangka masakan mu sangat enak." ucapnya yang baru tersadar dari lamunannya.
" Syukurlah kalau enak, aku takut nggak sesuai sama selera mu." ucapnya.
" Apapun yang kau masak, pasti akan menjadi seleraku." ucap Dafa dan membuat Hana tersipu malu.
__ADS_1
" Kau bisa aja." ucapnya masih dengan menunduk.
" Lucu banget Hana kalau lagi malu." batin Dafa dengan memandang Hana dan tersenyum.
Tiba-tiba saja terdengar suara pintu, dan ternyata dari tadi Bayu kakak dari Dafa sedang mengintip. Dafa dan Hana pun kaget, Hana menjadi semangkin menundukkan wajahnya. Tapi berbeda dengan Dafa, ia menatap sang kakak dengan sinis. Dan Bayu pun ketakutan, dan akhirnya memutuskan untuk keluar.
" Kenapa keluar kak?" tanya Cahaya.
" Ternyata adik mu itu kalau marah serem juga." ucap Bayu dan Cahaya menjadi penasaran, dan ingin mengintip.
" Eh mau kemana, mending nggak usa ganggu orang pacaran. Sana cari pacar aja." ucap Bayu dan membuat Cahaya kesal, dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamarnya.
" Eh main pergi aja, mau kemana?" ucapnya dengan menatap kepergian Cahaya.
...----------------...
" Uda angkat kepala mu, sudah ku usir kak Bayu."ucapnya dengan menatap Hana, Hana yang mendengar itu ia langsung mengangkat kepalanya. Kemudian ia memastikan kembali dengan mengecek di pintu, dan menoleh ke kanan dan kiri.
" Mangkin lucu aja." batin Dafa dengan tersenyum.
" Akhirnya uda nggak ada." ucapnya dengan berjalan ke arah Dafa.
" Kan uda ku bilang, uda nggak ada siapa-siapa." ucap sang dengan menggelengkan kepalanya.
" Ya kan aku mastiin lagi, nanti kalau tiba-tiba ada yang muncul lagi kan gawat." ucapnya dengan ekspresi takut.
" Iya juga ya, maaf ya mereka buat kau nggak nyaman. Jiwa kepo mereka lagi melanda soalnya, dan kau malah jadi sasaran." ucapnya dengan lembut dan menggenggam tangan Hana.
" Iya gpp, aku ngerti kok." jawabnya dengan tersenyum.
" Andai aja kita pancaran beneran, aku pasti seneng bang…" ucapnya tiba-tiba terhenti, karena ia keceplosan. Hana yang menyaksikan menjadi ingin tertawa.
" Memang aku uda mulai buka jalan buat mu Dafa, dan ternyata bersama mu membuat aku bahagia." batin Hana dengan menatap Dafa.
__ADS_1
" Wah, wajahnya deket banget. Jantung ku jadi dag, dig, dug." batinnya yang merasa tidak nyaman karena jantungnya berdebar dengan sangat cepat.
Mereka terus saling menatap, hingga tiba-tiba ada suara yang mengganggu. Sontak saja keduanya langsung tersadar, dan kini kedua menatap ke arah pintu yang ternyata belum di kunci oleh Hana.