Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 92


__ADS_3

" Kau tenangkan dirimu terlebih dahulu Hana, aku akan selalu mendukungmu." ucap Arfi.


" Terima kasih Arfi, tapi aku masih sangat penasaran. Sebenarnya kau ini siapa, mengapa dengan mudahnya kau bisa mengadu ke pihak atas?" tanyanya.


" Hahaha." tawa Wita dan Anggrek secara bersamaan.


" Kenapa kalian tertawa?" tanyanya yang merasa heran.


" Ya lucu aja, kau lumayan dekat dengan Arfi. Tapi kau tidak mengetahui siapa Arfi sebenarnya." ucap Anggrek dan Wita pun mengangguk.


" Ai sepertinya kau bukan orang sembarangan, tapi beneran aku nggak tau." jawabnya.


" Yauda aku akan kasih tau, sebenarnya Arfi ini adalah anak dari dekan kita yaitu ibu Rani." ucap Wita.


" Benar itu Arfi?" tanya Hana yang masih tidak percaya.


Arfi tidak menjawab, ia hanya tersenyum saja. Han pun kini menyimpulkan kalau yang dikatakan oleh Wita dan Anggrek adalah benar.


" Kenapa kau tidak memberitahuku?" tanya Hana yang kesal.


" Ya karena kalau kau tau, pastinya kau akan menjauh dari ku. Karena dari dulu kau kan nggak pernah main berteman dengan orang yang memiliki pengaruh besar, apalagi aku adalah anak dekan di sini." jawabnya dan Hana pun tersenyum, sedangkan Wita dan Anggrek menjadi bingung.


" Aku nggak salah dengar kan?" tanya Wita.


" Kau tidak salah dengar, karena kita sama-sama mendengarnya." ucap Anggrek.


" Aku tidak menyangka ternyata Hana adalah orang yang seperti itu, biasanya orang selalu berlomba-lomba untuk dekat dengan orang yang memiliki jawaban agar jalannya bisa berjalan dengan mulus." ucap Wita.


" Kau tidak mengalami gangguan kan?" tanya Anggrek.


" Ya nggak la, aku cuma malas aja." ucapnya.


" Kalian ini, jangan mengambil kesimpulan secara sembarangan. Itu bisa jadi fitnah." ucap Arfi dan keduanya pun merasa bersalah.

__ADS_1


" Maaf Hana, kami tidak bermaksud." ucap keduanya serentak.


" Sudahlah, tetapi kau masih berhitung penjelasan Arfi." ucapnya dengan menatap sinis Arfi.


Wita dan Anggrek merasa takut melihat hal tersebut, keduanya pun melarikan diri. Keduanya tidak mau mendapatkan masalah, dan membiarkan Arfi saja yang menceritakan semuanya. Dan biar Arfi yang mendapatkan amukan dari Hana, sedangkan mereka menyelamatkan diri.


...----------------...


Gina datang ke kampus barunya bersama dengan maminya, kini ia langsung menuju ruang pendaftaran. Dan di sana sudah terlihat Damar yang sedang menunggu mereka, Gina tersenyum ketika melihat Damar.


" Damar." panggilnya.


" Selamat pagi tante." ucapnya yang langsung menyalami tangan Tami.


" Pagi juga Damar, ternyata ini kampusmu. Tau gitu dari awal aja tante masukan Gina ke sini, jadi nggak perlu repot-repot keluar uang banyak buat daftar kuliah." ucap Tami dengan menatap Gina.


" Ya namanya aku kan nggak tahu bakal begini ma, aku kira semuanya akan berjalan seperti saat aku masih sekolah dulu. Eh semuanya rupanya nggak berjalan sesuai rencana, dan kini semua orang malah mau tahu semua yang telah aku lakukan." jelasnya.


" Ya udah kalau begitu." jawab Tami.


Mereka pun segera memasuki ruang pendaftaran, alangkah kagetnya saat sang bendahara melihat wajah dari Damar. Ia kini tidak bisa berkata apa-apa, iya hanya bisa fokus kepada damar dan seorang wanita yang telah dibawanya. Tiba-tiba saja ia menyadari siapa wanita tersebut, tetapi ia tidak bisa berkata apa-apa karena kini yang berada di hadapannya adalah Damar.


Wanita itu pun mempersilahkan Gina untuk mengisi formulir, kemudian setelah mengisi formulir Gina pun mengembalikan formulir itu kepada wanita yang bertugas. Sang bendahara dan petugas TU hanya saling bertatapan, mereka tidak tahu harus berkata apa dan kini mereka diam membisu.


" Segera diproses ya Bu!" ucap Damar dan keduanya pun hanya bisa menuruti permintaan Damar.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya proses administrasi pun telah selesai. Kini petugas TU pun menyerahkan formulir pendaftaran itu kepada Gina kembali, dan Gina sangat gembira ketika melihat namanya sudah tercantum di fakultas ekonomi bukan lagi di fakultas pendidikan.


" Semua proses telah selesai, silakan melapor ke fakultas yang sudah didaftar." ucap sang bendahara.


" Terimakasih." ucap Damar kemudian mengajak Gina untuk langsung menuju ke fakultas.


" Kalau begitu mami pulang dulu ya, tante titip Gina ya Damar." ucap kami kemudian segera pergi meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


Kini keduanya segera pergi menuju fakultas ekonomi, mereka pun menyerahkan formulir yang telah diisi. Kini Gina pun langsung segera mengisi KRS, dan setelah itu langsung dibawa masuk oleh Damar ke dalam ruangan kelas. Awalnya situasi sedikit ricuh, tetapi lama-kelamaan situasi mulai menjadi tenang.


Hal itu terjadi bukan karena tanpa sebab, tetapi karena dosen pengampu mata kuliah telah memasuki ruangan kelas. Dan dosen tersebut terkenal sebagai dosen yang lumayan killer, dan juga ditakuti di kampus tersebut. dosen tersebut terkenal sebagai dosen yang berani memberi nilai E atau bahkan tidak lulus kepada para mahasiswanya, oleh karena itu tidak ada yang berani berkutik jika di hadapan dirinya.


" Saya dengar ada mahasiswa baru di ruangan ini." ucap Ridho sambil melihat ke sekeliling.


Damar pun langsung menyenggol Gina, ia kan langsung mempersilahkan Gina untuk maju ke depan.


" Saya mahasiswa barunya Pak, Nama saya Gina." jawabnya dan Ridho pun mengangguk.


" Apa alasan kamu baru masuk sekarang, walaupun kamu sini adalah kampus swasta. Dan walaupun kamu sini masih membuka untuk pendaftaran gelombang kedua, tetapi ini adalah detik-detik terakhir penutupan." jelasnya dan membuat Gina menjadi kebingungan.


" Izinkan saya untuk menjawab pertanyaan bapak." ucap Damar yang tiba-tiba saja berdiri.


" Saya yang memintanya untuk pindah ke sini Pak." ucap Damar dan dosen tersebut tidak mau bertanya lagi.


" Rupanya Damar yang membawanya untuk masuk ke sini, kalau begitu silakan duduk. Karena Damar yang membawa dirinya untuk masuk ke sini, maka tanyalah pembelajaran selama ini kepada Damar. Dan ada peraturan yang telah saya buat di dalam ruangan kelas ini, walaupun kamu baru masuk dan bertemu dengan saya kali ini. Tetapi saya tidak suka kalau ada yang melanggar peraturan yang telah saya buat, jadi jangan pernah membuat saya menjadi emosi." ucapan Ridho dengan memelototi Gina.


" Baik Pak saya akan mematuhinya." ucapnya dengan tersenyum palsu karena ia merasa takut dengan Ridho.


" Kalau begitu silakan duduk ke kursimu sendiri, kita akan memulai pembelajaran." ucap dosen itu kemudian segera mengeluarkan buku dari dalam tasnya.


" Baiklah karena ini bukan pertemuan pertama kita, dan kalian semua juga sudah memiliki buku seperti yang saya pegang kecuali Gina. Untuk hina secepatnya dicari ya, kalau begitu buka halaman 10." tambahnya.


# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.


1. Naura Abyasya


2. Rela Walau Sesak


3. Sepahit Sembilu


4. Azilla Aksabil yang

__ADS_1


__ADS_2