
" Maafkan ayah sayang, tetapi ayah harus menikah dengan tante Tami." ucap pak Yuda.
" Kalau memang ayah sayang sama kami, kenapa ayah harus menantang kami dan menikah dengan tante Tami?" ucap Hana yang tanpa sadar meneteskan air mata.
" Ayah terpaksa melakukan ini semua." ucap pak Yuda dengan mengelus kepala Hana.
" Nggak usah alasan ayah, ayah kan memang sayang sama tante Tami. Dan ayah tidak peduli dengan kami, tidak usah beralasan dengan kata terpaksa." ucap Hana.
" Sayang, ayah benar-benar sangat menyayangimu dan juga Wildan. Ayah benar-benar terpaksa melakukan ini, karena tempat kami mengancam diri bunuh diri. Ayah tidak sanggup, bila karena ayah ada seseorang yang harus kehilangan nyawanya. Dan hal itu juga akan sangat menyakiti Gina, seperti yang kau tahu Ina hanya memiliki mamanya saja." jelas Pak Yuda.
" Apa, Tante tani mengancam bunuh diri, Ayah tidak sedang bercanda?" tanya Hana untuk memastikan.
" Ayo berbicara kebenarannya, karena itu Ayah harus menikahi tante Tami." jelas Pak Yuda.
" Kalau memang seperti itu ceritanya, Hana akan merestui ayah. Tapi Hana masih kecewa sama ayah, seharusnya ayah mengatakan yang sejujurnya kepada Hana dan juga kak Wildan. Bukan seperti ini, tiba-tiba saja kami mendapat undangan kalau ayah akan menikah. Jujur saja itu sangat menyakiti hati Hana, bahkan Hana sangat benci ini semua. Tapin ya sudahlah, kalau dengan mengikhlaskan ayah menikah dengan tante Tami ayah akan bahagia." jelas Hana dan Pak Yuda langsung memeluk Putri bungsunya itu.
" Terima kasih sayang, tapi ayah tidak berencana memberikan undangan kepada kalian. Ayah memang berencana malam ini untuk menemui kau dan juga Wildan, siapa yang sudah memberikan undangan itu kepadamu?" tanya ayah yang penasaran dan sangat heran.
" Hana mendapatkan undangan itu dari Gina ayah." ucap Hana dan membuat pak Yuda kaget.
" Sebenarnya apa tujuannya Gina, kenapa ia memberikan undangan kepada Hana. Apakah benar yang dikatakan oleh…tapi tidak mungkin." batin Pak Yuda yang sangat bimbang.
" Ayah sedang memikirkan apa?" tanya Hana yang memperhatikan ayahnya sedang melamun.
" Tidak sayang, ayah tidak senang memikirkan apa-apa." ucapan Yuda dengan setenang mungkin.
" Ayah tidak usah bohong, Hana bisa membaca dari raut wajah ayah. Ayah pasti sedang memikirkan sesuatu." ucap Hana dengan menatap ayahnya.
" Oke baik, Ayah memang sedang memikirkan sesuatu. Tetapi ayah masih belum bisa menceritakannya kepadamu, dan ayah harap kau dapat mengerti sayang." ucap pak Yuda.
" Iya, Hana mengerti ayah. Tapi jika ayah membutuhkan sesuatu hana akan siap membantu, ini nomor telepon Hana." ucap Hana dengan memberikan selembar kertas.
" Ok sayang, makasih ya uda mau mendengarkan cerita ayah." ucap pak Yuda.
" Itu sudah tegas Hana ayah, sebagai seorang anak Hana harus berbakti. Dan untuk pernikahan ayah, ayah tenang saja Hana akan tetap datang." ucapnya dengan tersenyum.
" Yauda, oh iya sayang. Ayah mau dong kenalan sama pacar mu, jujur ayah sangat penasaran dengannya." ucap pak Yuda yang memang penasaran .
__ADS_1
" Kalau begitu ayah tunggu dulu ya, Hana mau panggil dia." ucap Hana kemudian langsung pergi menjemput Dafa.
" Apakah yang dibilang Anas itu benar, tapi apa mungkin mereka begitu." batin pak Yuda.
" Eh lihat, Hana kesini." ucap Faldo, dan mereka semua langsung melihat ke arah Hana.
" Gimana beb, uda selesai urusan mu dengan Om?" tanya Dafa yang penasaran.
" Uda, urusan ku dan ayah sudah siap. Tapi…" ucap Hana yang tiba-tiba saja terhenti.
" Tapi apa?" tanya Dafa yang penasaran.
" Ayah ingin bertemu dengan mu." ucap Hana.
" Oh…apa, aku nggak salah denger?" tanya Dafa yang baru sadar.
" Nggak, ayah memang mau bertemu dengan mu." ucap Hana dengan tersenyum.
" Udalah Dafa, sana pergi. Kasihan calon ayah mertuamu." ucap Bayu meledak.
" Udalah Daf, kau apa nggak kasihan. Sana pergi temui." ucap Hana.
" Yauda ayo beb." jawab Dafa, kemudian mereka langsung menemui pak Yuda.
" Ayah, perkenalkan ini namanya Dafa. Dan dia adalah pacar Hana." ucap Hana dengan tersenyum.
" Oh jadi kau pacar Hana, siapa tadi namamu?" tanya pak Yuda yang melupakan nama Dafa.
" Nama saya Dafa om." jawabnya.
" Kau sedang gugup ya, hehehe." tanya pak Yuda sambil tertawa.
" Ayah…" ucap Hana yang kesal.
" Iya maaf, putri kesayangan ayah jangan marah dong." ucapnya.
" Nggak mau, ayah buat Hana kesal." ucap Hana.
__ADS_1
" Loh, putri ayah kok gitu. Ayah jadi sedih ni, masa putri ayah lebih membela pacarnya dari pada ayahnya." ucap pak Yuda dengan mata berkaca-kaca.
Hana yang melihat ekspresi sang ayah, ia pun langsung memeluk ayahnya. Dan Dafa sangat kaget, ia tidak menyangka ternyata ayahnya Hana sangat suka bercanda. Dan hal itu membuat Dafa tersenyum, karena bayangannya tentang ayah Hana sudah salah.
...----------------...
" Akhirnya ayah dan Hana baikan juga." ucap Wildan.
" Gimana, kau senang sekarang?" tanya Rio.
" Aku sangat senang, akhirnya ayah dan Hana baikan." ucapnya dengan tersenyum.
" Tapi ada yang aneh." ucap Rio yang menyadari keanehan.
" Keanehan di mananya?" tanya Wildan yang penasaran.
" Coba kau pikir baik-baik, tadi ayahmu sempat bilang tidak ada menyuruh memberikan undangan kepada dirimu dan juga Hana. Dan memang rencananya ayahmu akan berbicara hari ini kepada kalian berdua, tetapi Hana sudah mendapatkan undangan itu. Dan sepertinya memang ada yang ingin menghancurkan hubungan kalian dan juga ayah kalian." jelas Rio dan membuat Wildan berpikir kembali.
" Eh yang kau bilang benar juga ya, tapi apa tujuannya menghancurkan hubungan kami dan juga ayah kan?" tanya Wildan yang tambah penasaran.
" Ya mana aku tahu, tapi kita harus menyelidikinya. Karena bisa saja ini dapat berbahaya bagi keluarga kalian." jelas Rio dan Wildan pun mengangguk.
" Yang kau katakan memang benar, dan sepertinya malam ini juga kita harus mengikuti ayahku. Karena dari raut wajahnya, sepertinya ayahku mengetahui sesuatu." ucap Wildan dan Rio pun mengangguk pertanda setuju.
" Yang kau katakan memang benar, sepulang dari sini kita akan mengikuti ayahmu." jawab Rio.
...----------------...
" Sumpah ekspresi si Dafa lucu banget, dia itu takut-takut gimana gitu." ucap Bayu dengan tersenyum.
" Kak jangan diomongin, gitu-gitu Dafa adik kita." jawab Cahaya.
" Memang kakak yang budiman ya, di luar selalu bela adiknya. Tapi kalau di rumah, udah kayak Tom and Jerry." ucap Bayu dengan menggelengkan kepalanya dan sontak saja Dea dan juga Faldo tertawa.
" Namanya juga kakak adik beb, aku sama kakakku juga begitu." bocah Dea membela Cahaya.
" Wah-wah wah ada yang dapat dukungan nih, aku merasa disingkirkan." ucap Bayu dengan ekspresi sedih.
__ADS_1