Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 79


__ADS_3

" Ya sudah kalau gitu kemauan kakak, lagian kakak juga sudah menyusun rencana yang matang bukan. Kalau begitu aku percaya kepada kakak, tetapi Kakak harus menjaga diri kakak dengan sebaik-baik mungkin." ucapnya yang khawatir.


" Iya sayang, kau tenang saja ya. Kakak akan menjaga diri kakak dengan sebaik-baik mungkin, dan kakak janji kakak tidak akan terluka sedikit pun." ucapnya dengan tersenyum.


" Kalau begitu aku bisa tenang kak, semoga saja rencana kakak dan teman-teman kakak berhasil. Dan hal yang tidak aku ketahui saat ini, bisa terselesaikan dengan damai." jelasnya dan Wildan pun mengganggu.


" Iya." jawab Wildan.


Tiba-tiba saja telepon Wildan berdering, dan ternyata yang menelpon adalah Intan. Wildan tampak tersenyum ketika melihat nama yang tertera, Hana pun menjadi penasaran dengan siapa yang menelponnya. Dan akhirnya adapun mengambil telepon genggam milik kakaknya itu, kemudian Ia pun langsung mengangkat panggilan tersebut.


" Halo kakak ipar." ucap Hana untuk mengawali panggilan telepon, dan Intan yang mendengarnya pun tersentak.


" Halo juga, ini Hana yang angkat telepon?" tanya Intan untuk memastikan.


" Iya benar kak, ini aku Hana." jawabnya.


" Suara kamu sangat merdu ya." ucap Intan memuji Hana.


" Kakak bisa aja mujinya, maaf ya kak aku harus ganggu kakak dan juga kak Wildan. Habisnya aku penasaran dengan siapa yang menelpon, kakak tahu nggak tadi kak Wildan itu senyum-senyum waktu lihat nama yang tertera loh." jelas Hana dan membuat Intan tersipu malu.


" Masa sih Wildan seperti itu, kayaknya itu Nggak mungkin deh." jawab Intan.


" Kakak nggak percaya, padahal hal itu sangat wajar loh. Apalagi ketika sang kekasih yang menelpon, semua beban di pundak bisa saja menghilang dalam sesaat." ucapannya dan membuat Intan tambah tersipu malu.


" Kau ini bisa saja Hana." ucap Intan.


" Sudahlah, sini kembalikan handphone kakak." ucap Wildan yang kesal dan langsung menarik handphonenya.

__ADS_1


" Ih kakak nggak enak banget deh, padahal aku lagi ngomong sama kak Intan." ucap anak kemudian datang pergi meninggalkan Wildan.


" Maafkan Hana ya." ucap Wildan.


" Nggak apa-apa kok, lagian Hana tidak melakukan kesalahan apapun." jawabnya.


" Syukurlah kalau kau menganggapnya seperti itu, oh ya hari ini aku akan bertemu dengan Anas. kamu mau ikut tidak?" tanya Wildan.


" Tentu aku akan ikut, kebetulan aku dengar si Gina buat masalah lagi ya." ucapin Tan yang membuat Wildan kaget.


" Apa yang kau dengar?" tanya Wildan yang penasaran.


" Aku dengar kemarin dia membuat masalah, dan dia hampir saja membuat nama baik Hana tercoreng. Aku dengar dia menjelek-jelekan Hana di depan publik, untungnya para mahasiswa dan mahasiswi di sini tidak ada yang percaya dengannya." jelas Intan dan membuat Wildan tambah marah.


" Itu anak sepertinya sudah tidak bisa didiamkan, kalau dibiarkan terus-menerus bisa berbahaya. Aku tidak masalah dia mengganggu siapapun, tetapi aku tidak terima bila dia mengganggu adikku. Adikku yang cantik dan tidak mengetahui apa-apa, semoga sehat ia harus terlibat masalah ini." jelas Wildan.


" Itulah yang sedang aku pikirkan saat ini, dan karena itu aku ingin bertemu dengan Anas. Agar kami dapat membahas kelanjutannya, aku sangat takut bila dia melakukan sesuatu kepada Hana." jelasnya.


" Yang kau katakan sangat benar, kalau begitu nanti jemput aku di depan fakultas ya. Biar kita bisa menemui kak Anas bersama-sama, aku juga akan membantu urusan kalian." jelas Intan dan Wildan pun mengangguk.


" Baiklah, saya pulang kampus nanti aku akan menjemputmu di fakultas." ucap Wildan kemudian mematikan sambungan telepon.


Kini ia sudah sangat cemas, sepertinya Gina sudah merencanakan sesuatu yang akan membahayakan Hana. Ia takut kalau akan terjadi sesuatu kepada Hana, walaupun sang ayah sudah mengirim bodyguard untuk menjaga Hana, tetapi tetap saja ia merasa takut.


Ia kini sedang dalam pikiran yang kalut, tetapi ia tetap berusaha tenang. Agar para teman-temannya tidak mengetahui suasana hatinya, dan apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Tiba-tiba saja Wildan pun bertemu dengan Rio, Rio pun merasa heran dengan tingkah sahabatnya itu.


" Ada Wil?" tanya Rio yang penasaran.

__ADS_1


" Sepertinya aku harus bergerak cepat, sih Gina membuat masalah pada Hana." ucapnya.


" Memangnya apa yang dilakukan oleh Gina?" tanya Rio yang penasaran.


Membantu menceritakan apa yang ia dengar, dan Rio pun juga kaget mendengarnya. kini Rio semakin membenci Gina, anak yang terlihat cantik dalam penampilannya itu ternyata memiliki sifat yang sangat buruk. Dan kini amarah Rio semakin memuncak, awalnya ia mengira kalau hanya ibunya saja yang bertingkat jahat tetapi ternyata anaknya juga.


" Dia sudah sangat keterlaluan, sepertinya kita memang harus memberi pelajaran kepadanya." ucap Rio yang sudah terbakar api emosi.


" Karena itu aku berniat untuk bertemu dengan Anas, aku ingin membahas tentang rencana selanjutnya. Aku tidak ingin bila Ia terus menyakiti adikku, aku tidak ingin adikku tersakiti." ucap Wildan dan Rio pun mengangguk.


" Kalau seperti itu ceritanya, aku juga ingin mengetahui kelanjutan berikutnya. Aku akan pergi bersamamu untuk menemui Anas, karena anak itu sudah tidak bisa dibiarkan lagi." ucap Rio.


" Tentu saja, tetapi aku akan membawa Intan untuk bertemu denganmu juga." ucap Wildan dan membuat Rio terkejut.


" Untuk apa kamu bawa Intan kepada Anas, urusan ini tidak baik Kalau orang luar mengetahuinya. Bisa-bisa bahaya akan semakin mengancam kalian, ya walaupun Intan adalah pacarmu tetapi kita harus tetap mengantisipasinya." jelas Rio yang memang tidak mengetahui siapa sebenarnya Intan.


" Kau tenang saja Rio, Intan akan ikut membantu. Intan juga sudah mengetahui semuanya, dan sebelum aku berkenalan dengan Anas Intan juga sudah lama mengenal Anas." jelasnya dan membuat Rio heran.


" Apa maksudmu Wildan?" tanya Rio yang tidak mengerti.


" Sebenarnya aku tanpa sengaja bertemu dengan Intan, dan kejadian itu berlangsung karena ia mengerjai Gina." jawabnya dan membuat juga kaget.


" Jadi maksudmu Intan juga membenci Gina, tapi untuk apa ya juga bertemu dengan Anas?" tanya Rio yang tambah sebenarnya.


" Iya, pacarku Intan sangat membenci Gina. Dan kau bertanya kan, mengapa ia harus bertemu dengan Anas. Karena alasan ia membenci Gina, itu semua berkaitan dengan Anas. Intan adalah sepupunya Anas, dan awal mula kamu dikira pacaran adalah karena kami menemui Anas." jelasnya dan membuat Rio hanya menghilangkan kepalanya saja.


" Dunia ini sangat sempit, bahkan karena sebuah alasan kalian bisa dipertemukan." ucapnya yang tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2