
Bunga dan Hana merasa heran, sejak kedatangan Wildan di meja mereka. Sontak saja orang-orang yang berada di dekat keduanya perlahan-lahan mulai pergi. mereka sebenarnya ingin menanyakan pada Wildan, tetapi mereka takut. Bunga, yang sebenarnya sangat akrab dengan Wildan pun juga tidak berani. Karena ia sudah membuat kesepakatan dengan Wildan dan juga Rio, untuk tidak memberi tahukan pada semua siapa sebenarnya ia.
Setelah selesai makan, mereka semua pun melakukan perjalanan. Dan kini mereka menuju fakultas hukum, yang merupakan fakultas Bunga. Bunga pun menceritakan apa ia tau tentang fakultasnya, dan juga prestasinya. Dan sontak Hana kaget dengan prestasi yang sudah di raih oleh fakultas tersebut.
Mereka berdua terus bercerita, hingga mereka tidak menyadari kalau mereka telah selesai berkeliling. Kemudian mereka pergi menuju fakultas lain, dan mereka sangat takjub dengan beberapa fakultas. Hingga mereka tidak bisa melupakan ciri khas bangunannya.
Tanpa terasa mereka sudah selesai mengelilingi semua fakultas, karena waktu yang sudah menunjukkan sore hari. Mereka diistirahatkan sejenak, dan mereka dipersilakan untuk makan bila ada yang ingin makan. Setelah itu para panitia berkumpul di lapangan, mereka mulai menyiapkan kayu-kayu bakar untuk membuat api unggun.
Mereka mulai menyusun satu demi satu, dan tidak memperdulikan pandangan yang ada di sekitar mereka. Mereka terus saja menyusun, hingga akhirnya mereka selesai. Setelah selesai mereka meminta para mahasiswa baru, untuk berkumpul di pinggiran api unggun.
Kemudian para mahasiswa baru diminta mengucapkan janji-janji untuk universitas, dan tidak akan mencoreng nama universitas demi kepentingan pribadi. Dan merusak nama universitas yang mereka cintai tersebut, dan bilang mereka melanggar janji tersebut. Maka, mereka bersedia menerima sangsi-sangsi yang telah tertulis di surat perjanjian yang telah mereka baca siang tadi.
Setelah selesai membacakan janji atau sumpah, semua mahasiswa baru di panggil satu persatu ke tengah lingkaran. Tepatnya di dekat api unggun, dan mereka di pakaikan almamater satu demi satu. Sorak bahagia dan tepuk tangan mengerumuni pada saat di pakaikan almamater.
Mereka terus melakukan kegiatan itu, hingga pukul 6 pagi. Hal ini bisa terjadi hingga pagi, karena begitu banyaknya mahasiswa pada stambuk tahun ini. Dan para panitia atau anggota presiden mahasiswa dan juga jajaran, kini kelelahan dan tertidur di sekretariat masing-masing ORMAWA (Organisasi Mahasiswa) yang mereka ikuti.
Hana yang sudah kelelahan, ia sampai melupakan ingin memberikan makanan kepada Wildan. Ia pun memutuskan langsung pulang, karena mulai besok mereka sudah resmi menjadi mahasiswa di universitas itu. Dan itu adalah hal yang sangat menggembirakan baginya yang sangat menginginkan masuk ke universitas tersebut.
Saat di parkiran, tiba-tiba saja Hana bertemu dengan Wildan. Karena ia sudah menemukan Wildan, akhirnya ia memutuskan untuk langsung memberikan kue tersebut pada Wildan. Dan juga berniat untuk meminta maaf, tentang kejadian yang sempat di alami oleh Wildan tempo hari dirumahnya.
__ADS_1
" Eh kak Wildan, mau pulang ya?" tanyanya yang kini berada di dekat Wildan.
Sontak saja Wildan kaget mendengar suara itu, dan ia sempat berpikir kalau ia sedang berhayal. Padahal yang ia dengar memang adalah suara Hana, akhirnya ia memutuskan untuk berbalik dan melihat siapa orang tersebut. Ketika ia melihat wajah Hana, sontak saja ia bahagia dan langsung memeluk Hana.
Wildan yang baru menyadari, kalau ia sedang memeluk Hana. Ia pun langsung melepaskan pelukannya, dan meminta maaf pada Hana. Karena mereka menyadari sudah menjadi sorotan, akhirnya Wildan langsung membawa Hana pergi menaiki motornya.
Wildan tidak langsung membawa Hana untuk pulang, ia mengajak Hana untuk pergi ke sebuah taman. Dan kini mereka berbincang-bincang berdua, dan banyak yang mengira kalau mereka sedang pacaran. Hana hanya diam saja, karena ia melihat Wildan tampak sedang ada masalah.
Hana yang sudah penasaran dengan sikap Wildan, akhirnya ia memberanikan diri untuk menanyakannya. Walaupun nantinya ia di bilang lancang dan suka ikut campur, kini ia tidak peduli. Dan terus melakukan niat awalnya, karena ia sudah sangat penasaran.
" Kak, kakak nggak apa-apa?" tanyanya.
" Hana, aku sedang bingung. Dan nggak tau harus cerita ke siapa, jadi tolong kau mau dengerin keluhanku kan." ucapnya dengan memohon, dan Hana hanya mengangguk saja.
" Aku lagi bimbang, aku sayang dengan ayahku. tapi aku masih belum bisa menerima kehadiran sosok baru yang akan menjadi pengganti ibu ku." ucapnya, dan sontak mengagetkan Hana.
" Ayah kakak menikah?" tanyanya yang tidak percaya.
" Iya
__ADS_1
" Beneran, pantas kakak terlihat tidak enak dari semalam." ucapnya sambil mengingat sikap Wildan semalam.
" Kau memperhatikan ku sejak semalam." ucapnya dengan raut wajah kaget.
Hana tidak menjawab, ia hanya mengangguk saja. akhirnya mereka memulai perbincangan, dan Wildan menceritakan semuanya dengan jelas. Bahkan mengenai hubungan keluarganya yang sudah hancur, dan ia yang selalu mencari keberadaan Bunda dan juga adiknya.
Hana yang mendengar cerita tentang kehidupan Wildan, ia pun turut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Wildan. Dan ia pun menjadi teringat dengan kisah kehidupannya yang hanya tinggal berdua dengan sang bunda saja, tanpa kehadiran sang ayah. Yang hingga kini ia tidak tau siapa, dan dimana keberadaannya.
Hana sebelumnya juga ingin cerita, tapi ia masih tidak nyaman untuk memberi tahukan pada Wildan tentang kisah kehidupannya yang tidak jauh berbeda dengan Wildan. Wildan yang menyadari perubahan di wajah Hana, ia mulai merasakan kejanggalan. Ia berniat untuk bertanya, tetapi ia masih ragu. Tetapi, karena rasa penasarannya yang begitu kuat, akhirnya ia mulai sekedar basa-basi saja.
" Kau kenapa Hana?" tanyanya.
" Nggak, nggak apa-apa." ucapnya yang baru sadar.
" Oh yauda, gpp kok kalau nggak mau cerita." ucap Wildan.
Setelah puas menumpahkan air matanya, Wildan pun mengantar Hana untuk pulang. Kini Wildan mengantar tepat di depan rumah Hana sama dengan semalam, tetapi saat ingin melangkahkan kakinya. Tiba-tiba saja Hana teringat dengan kue yang ingin ia berikan, ia pun kembali ke hadapan Wildan. Kemudian langsung membuka tasnya, dan langsung mengeluarkan kue tersebut.
" Kak, ini kue buat kakak." ucapnya dengan menyerahkan kue tersebut.
__ADS_1
Wildan pun tersenyum menerima kue tersebut, dan sontak saja hal itu tampak terlihat dari jendela oleh sang Bunda. Sang Bunda sangat bahagia, ketika ia melihat interaksi putrinya dan juga pemuda tersebut. Tetapi sang Bunda merasakan hal yang aneh, ia merasa kalau ia mengenal pemuda tersebut. Tetapi ia tidak tahu pernah bertemu di mana dengan pemuda itu.