Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 77


__ADS_3

" Yang sabar beb, lagian pak Rino juga nggak semengerikan itu." ucap Tina dan membuat Rio sedikit kesal.


" Memangnya dosen pembimbing mu siapa beb?" tanya Rio yang penasaran dengan dosen pembimbing Tina.


" Dosen pembimbing ku itu Bu Karmila, hehehe." ucapnya sambil tertawa.


" Ya ampun, ternyata lebih parah lagi dosen pembimbing mu." ucap Rio dengan menggelengkan kepalanya.


" Ya begitulah, dosen paling mantap kan." ucapnya dengan tersenyum.


" Kau bilang dosen paling mantap, nanti kau bisa habis di bantai lho beb." ucap Rio dengan menggaruk kepalanya.


" Ya mau gimana lagi, semuanya bukan kemauan kita. Jadi ya biarkanlah, mudah-mudahan aja ibu itu baik padaku." ucapnya dengan tersenyum.


" Tampaknya lagi pada seru ni, lagi ngomongin apa sih?" tanya Faldo yang tiba-tiba saja muncul.


" Lagi ngomongin tentang dosen pembimbing." jawab Tina.


" Oh iya, kalian mau magang ya." ucap Faldo yang baru teringat.


" Ya begitulah, kau kapan magang?" tanya Rio.


" Aku kan anak Fkip, jadi aku magang di semester 7. Alias tahun depan, hehehe." ucap Faldo yang kegirangan.


" Awas ya kau Faldo, kami doain dosen pembimbing mu nantinya dosen paling kiler di fakultas mu." ucap Rio yang kesal.


" Jangan la we, nanti laporan ku nggak siap-siap." ucap Faldo yang tiba-tiba saja teringat dengan magang ia yang sebelumnya.


" Biarin aja, biar kapok kau." ucap Rio kemudian mengajak keduanya pergi dan meninggalkan Faldo sendirian.


" Ya mereka nggak enak, bisa gawat kalau sampai aku mendapatkan dosen pembimbing yang kiler nantinya." ucap Faldo yang menyesali perkataannya.

__ADS_1


...----------------...


" Kau kenapa beb?" tanya Dafa yang melihat Hana sedang murung.


" Tidak apa-apa, aku hanya sedang memikirkan tentang keluarga ku. Seperti yang kau tau, saat ini sih Angel sedang mengganggu kami." ucap Hana.


" Kau jangan memikirkan hal itu, sekarang lebih baik kau tenangkan diri dulu. Aku yakin kak Wildan pasti sedang mencari jalan keluarnya, dan kau nggak usa mikirin tentang hal tersebut." ucapnya untuk menenangkan Hana.


" Mudah-mudahan aja apa yang kau katakan benar beb, aku juga berharapnya sih kayak gitu. Tapi gak itu sangat sulit, apalagi dia adalah orang yang sangat nekat. Aku tidak ingin membuat keluarga mu juga ikut terseret, dan akhirnya juga ikut celaka." jelas Hana dengan berderai air mata.


" Aku tidak masalah tentang hal itu, yang terpenting kau baik-baik saja. Aku akan selalu mendukungmu, dan menempati janjiku pada kak Wildan untuk selalu menjagamu." jelasnya dengan mengelus kepala Hana.


" Terimakasih ya." ucapnya dengan memeluk Dafa yang berada di sampingnya.


" Tidak masalah, yang terpenting kau dalam keadaan baik-baik saja." jawabnya.


" Drama apa sih, mengapa aku harus melihatnya." ucapnya yang kesal.


" Awas minggir, aku mau lewat." ucapnya dengan memberikan jarak di antara Hana dan juga Dafa.


" Ya suka-suka aku lha, memangnya ini sekolah bapakmu." ucap Gina yang menantang mahasiswa itu.


" Wah dia nggak tau aja, bisa-bisa ini adalah hari terakhir ia kuliah di kampus ini." ucap mahasiswa yang di belakang.


" Makasih ya Arfi, tapi kau tidak usa bertengkar. Karena itu hanya akan menyia-nyiakan waktu mu, biar aku dan Hana saja yang menyelesaikannya." ucap Dafa.


" Tidak masalah Dafa, kau dan Hana adalah sahabatku. Jadi aku akan membantu kalian membantai pengganggu yang nggak penting." ucap Arfi dengan menatap ke arah Gina.


" Apa kau bilang, aku itu bukan pengganggu. Aku ini saudara tirinya Hana, jadi suka-suka aku kalau mau mengusik dia. Lagian mereka juga nggak marah, jadi disini yang orang luar itu kau." ucapnya dengan menunjuk Arfi.


" Oh jadi ini yang namanya Gina, ternyata sangat tidak tau malu." ucap Arfi dengan meninggikan suaranya.

__ADS_1


" Apa kau bilang, aku ini mahasiswi terbaik di sini ya." ucapnya yang menentang.


" Terbaik saat mendapatkan hukuman." ucap Arfi dan semuanya pun tertawa.


" Diam kalian, kau itu nggak tau apa-apa tentang ku. Jadi nggak usa sok tau deh, siapa sih kau. Palingan bentar lagi kau juga akan di keluarkan dari kampus ini, aku itu Gina. Anak dari bapak Yuda, salah satu pengusaha hebat di kota ini." jelasnya yang menyombongkan diri.


" Wah, anak tiri aja menyombongkan diri. Yang anak kandung malah tidak pernah berbuat seperti itu, bahkan ia tampil dalam kesederhanaan." ucapnya dengan menatap tajam.


" Hei kau, siapa sih kau. Aku pastikan kau nggak akan ada di kampus ini lagi besok." ucap Gina kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.


" Thank ya Arfi, sebenarnya aku juga uda sangat gedek sama dia. Tapi aku hanya berusaha menghargai dia sebagai saudara tirinya Hana, tapi semangkin hari ia semangkin sering membuat masalah. Dan selalu saja mengganggu hubungan ku dan juga Hana." jelasnya.


" Tenang aja bro, dia nggak akan bisa mengganggu kalian lagi. Kau sih memiliki rupa yang cukup tampan, makannya ia berusaha untuk menghancurkan hubungan kalian." jelas Arfi dan membuat Hana tersentak kaget.


" Jadi maksudnya, dia suka sama Dafa gitu. Makannya ia selalu menganggu hubungan ku dan Dafa gitu." ucap Hana yang kini sudah naik emosinya.


" Kau tenang saja Hana, kalian berdua santai saja. Dalam waktu dekat ia juga akan keluar dari universitas ini." jelasnya dan membuat keduanya kaget.


" Kau kalau bicara jangan membuat kaget kenapa, lagian kita nggak bisa membuat dia di keluarkan dari kampus." ucap Hana yang tidak mengetahui siapa itu Arfi.


" Ya ampun Hana, aku tuh punya hak. Yang terpenting aku memilih bukti perbuatan dia." ucapnya dengan mengeluarkan alat perekam yang ia simpan di kantongnya sejak tadi.


" Kau merekamnya?" tanya Hana yang terkejut.


" Tentu saja Hana, dan lagian aku memang di tugasnya untuk melindungi mu." ucap Arfi dan membuat Hana bingung.


" Apa maksud mu?" tanya Hana yang tidak mengerti dengan maksudnya.


" Kau pasti bingung ya, baik aku akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Perkenalkan namaku Arfi, dan aku adalah anak dari Bu Rani." jelasnya dan Hana pun menjadi teringat dengan Bu Rani.


" Kalau begitu, berarti kau…" ucapnya yang terhenti.

__ADS_1


" Iya benar, tapi masih banyak yang belum mengenaliku. Jadi biarkan saja waktu yang akan memberi tahu publik, tentang siapa aku sebenarnya." jelasnya dan Hana pun mengangguk saja.


" Wah, aku sangat heran. Biasanya kalau anak orang besar pasti akan sombong, eh ini kau justru sebaliknya. Terimakasih ya Arfi, kalau bukan karena kau. Aku pastinya ia akan membuat keributan di sini.


__ADS_2