Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 60


__ADS_3

" Ternyata cerita kehidupan kita hampir sama, hanya saja aku kehilangan adikku karena perpisahan kedua orang tuaku. Sedangkan dirimu karena ulah wanita jahat itu, dan kini aku semakin emosi karena wanita jahat itu." ucap Wildan.


" Ya begitulah, ini sudah takdir yang harus kujalani. Dan hingga kini aku masih mencari keberadaan adikku Melly, aku masih berharap kalau dia masih hidup." ucap Anas dengan tersenyum.


" Kau tenang saja, aku akan membantumu untuk mencari Melly. Tetapi, apakah kau memiliki petunjuk untuk mencari Melly?" tanya Wildan dan Anas mengangguk.


" Melly memakai sebuah kalung, kalung itu berbentuk love. dan di dalamnya ada foto ayah dan juga bunda." jelas Anas.


" kalau begitu, itu akan sangat memudahkan kita. mudah-mudahan saja, kita dapat secepatnya menemukan Melly." ucap Wildan dengan tersenyum.


" Ya, yang kau katakan sangat benar. dan aku berharap, aku dapat dengan cepat menemukannya. walaupun itu akan sangat sulit, karena aku sudah tidak mengenali rupanya lagi." jelas Anas.


" Kau tenang saja, kita akan bersama-sama mencarinya." ucap Wildan dengan menepuk bahu Anas.


...----------------...


" Sebenarnya aku masih belum yakin dengan apa yang dikatakan oleh Anas, tetapi untuk berjaga-jaga aku sudah melakukan yang terbaik untuk anak-anakku. Aku sih berharap, apa yang dikatakan oleh pemuda bernama Anas itu adalah kebohongan." ucap Yuda yang kini sedang mengelus kepala Tami yang sedang tertidur.


Tiba-tiba saja pintu diketuk, dan Yuda pun membukanya. Dan ternyata itu adalah Gina.


" Selamat malam om." ucap Gina.


" Kenapa panggil om, kan sekarang kau sudah menjadi anak ayah." ucap Yuda.


" Eh maaf om, eh maksudnya ayah." ucap Gina.


" Yuada gak apa-apa, ada perlu apa jam segini?" tanya Yuda.


" Ada yang mau aku bicarakan denganmu mama, apakah mama ada ayah?" tanya Gina dengan selembut mungkin.


" Mama kamu sedang tidur sayang, jadi besok aja ya ngobrolnya." ucap Yuda dan Gina pun segera kembali ke kamarnya.


...----------------...


Pagi yang cerah, hari ini Gina sangat bahagia. Karena akhirnya ia memiliki ayah, ia segera turun ke meja makan. Alangkah bahagianya ia ketika melihat mamanya dan ayah barunya.


" Selamat pagi mama, ayah." ucapnya dengan tersenyum.

__ADS_1


" Pagi sayang, ayo makan dulu." ucap Tami dan Gina segera duduk kemudian menyantap sarapan tersebut.


" Tampaknya kau sangat bahagia ya?" tanya Yuda.


" Ya tentu dong ayah, karena hari ini Gina merasa kalau keluar Gina sudah lengkap lagi." ucapnya dengan tersenyum.


" Sudah cepat sarapan, nanti kesiangan." ucap Tami.


Setelah selesai sarapan, Gina pun langsung berangkat ke kampusnya. Berbeda dengan hari biasa, hari ini Gina di antar oleh supir Yuda. Semua mata memandang Gina, mereka melihat perubahan Gina. Banyak yang memuji Gina, dan ada juga yang menghujat Gina.


" Lihat tuh, adik tirimu yang licik sudah datang." ucap Rio.


" Biarkan saja, untuk saat ini kita ikuti saja permainan ia dan mamanya." ucap Wildan dengan tersenyum.


" Aku jadi semangkin tidak sabar, kira-kira bagaimana perasaan dia ya ketika terbongkar nanti." ucap Rio dengan tatapan menanti.


" Aku juga sangat penasaran, tetapi yang jelas ia akan malu." jelas Wildan.


Tiba-tiba saja bel berbunyi, semua mahasiswa pun bergambar untuk masuk kelas. Begitu juga dengan Wildan dan Rio, Gina berlari menuju kelas. Dan ia pun duduk di dekat Hana dan juga Dafa, dosen pun menjelaskan materi hari ini. Hana dan Dafa tampak sedang serius memperhatikan dosen menjelaskan, tetapi tidak dengan Gina dan terus saja memandangi Dafa.


" Sekarang bapak akan memberikan pertanyaan, baik bapak akan memanggil dari NPM. Kalau begitu NPM 46, ada Gina Aulya." ucap dosen itu, tetapi Gina masih saja melamun.


Melihat tidak respon, dosen itu pun kembali memanggil nama Gina.


" Gina Aulya, yang mana orangnya?" ulang dosen itu.


Dafa yang melihat Gina sedang melamun, akhirnya ia pun menyadarkan Gina.


" Gina." ucapnya dengan menyenggol lengan Gina.


" Iya ada apa Dafa?" tanyanya dengan tersenyum.


" Kau di panggil tuh sama dosen." ucap Dafa.


" Gina Aulya." panggil dosen itu lagi.


" Iya, saya pak." jawabnya.

__ADS_1


" Dari tadi kemana aja." ucap dosen itu menggelengkan kepalanya, dan Gina hanya tersenyum.


" Yasudah, sekarang jawab pertanyaan saya. Sastra dibagi menjadi berapa, dan jelasnya contohnya." tanya dosen itu.


Gina tidak bisa menjawab, ia hanya melihat kanan dan kiri saja. Ia berusaha meminta jawaban, dan ia pun menyenggol Dafa. Dosen itu yang menyadari tingkah Gina, ia pun merasa tidak suka.


" Nggak usa tanya kanan dan kiri, jawab aku sendiri. Ketahuan kan kau tidak memperhatikan pelajaran saya, sekarang keluar dari kelas saya." ucap dosen itu.


" Sebel banget sama dosen itu, lagian kurang penting juga pelajaran dia. Malas banget aku, malah mereka nggak ada juga yang ngasih tau aku. Ini semua pasti karena sih Hana, dia sangat menyebalkan." batin Gina sambil berjalan keluar.


" Untuk yang lainnya, jangan sampai seperti itu. Saya sangat tidak suka dengan orang seperti itu, ini waktu belajar. Sedangkan dia ntah melakukan apa, sungguh sangat tidak bermanfaat." jelas dosen itu yang sudah kesal.


" Baik pak." jawab mereka serentak.


Gina yang dikeluarkan dari kelas, akhirnya ia pun pergi ke kantin. Ia tidak mau panas-panasan di depan kelas, dan ia pun tampak memesan nasi goreng dan juga jus jeruk. Ada seseorang yang melihatnya.


" Wah-wah, dia sedang enak-enakan makan." ucap seseorang kemudian mengirimkan foto Gina.


" Ternyata dia sedang di kantin, gimana kalau kita mulai rencana kita." ucap temannya.


" Aku setuju Mel, aku juga sudah sangat kesal dengannya." ucap intan.


" Kalau begitu, kau cari posisi yang bagus untuk memulai rencana kita." ucap Melisa, kemudian sambungan telepon pun mati.


" Wil, sepertinya orang itu ingin membuat masalah." ucap Rio, dengan menunjuk seseorang.


" Eh, sepertinya yang kau bilang bener. Ayo kita kesana." ucap Wildan, kemudian ia pun berlari menuju tempat orang tersebut.


" Hey kau, mau apa kau?" tanya Wildan ketika tiba di hadapan orang itu.


" Kau nggak usa ikut campur, aku lagi ada masalah dengan cewek itu." ucapnya dengan menuju Gina.


" Gina, kau mau buat masalah sama Gina?" tanya Wildan.


" Iya, kenapa kau tidak suka?" tanya orang itu.


" Aku akan sangat mendukung perbuatanmu, tapi tolong jangan di sini." ucap Wildan.

__ADS_1


" Alah, kau pasti hanya sengaja berkata seperti itu kan. Agar aku tidak melakukannya." ucapnya yang kesal, Wildan pun kemudian menariknya ke dalam sekretariat Presiden Mahasiswa.


Intan sangat kaget, ia tidak menyangka akan masuk ke dalam sakramen Presiden Mahasiswa. Ia pun mulai penasaran dengan siapa sosok lelaki yang ada dihadapan.


__ADS_2