Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 72


__ADS_3

" Akhirnya tawa bahagia yang ku rindukan muncul kembali." ucap Bara.


" Ya tentu saja muncul, kan yang ditakutkan telah pergi." batin Intan.


" Dia cantik sekali." batin Wildan.


" Mengapa aku seperti obat nyamuk ya?" ucap Bara yang kesal kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.


" Hahaha, kalau begitu ayah sama mama juga pergi dulu." ucap ayah.


" Eh, kami kok di tinggal." teriak Intan kemudian ia tertawa tanpa suara dan melihat ke arah Wildan.


" Sudahlah, mungkin orang tua mu capek." ucap Wildan, dan Intan pun langsung mengiyakan.


" Iya benar kak, kalau gitu kakak duduk dulu. Aku mau ambil minuman di dapur dulu." ucapnya kemudian langsung pergi meninggalkan Wildan.


" Dia sangat lucu." batin Wildan dengan tersenyum.


Intan pun segera menyiapkan minuman, kemudian ia segera kembali untuk menemui Wildan. Ia merasa kesal dengan keluarganya, Karena anggota keluarganya meninggalkan ia dan Wildan berdua saja. Walaupun ia merasa senang, tetapi ia merasa tidak enak dengan Wildan.


Setelah sudah puas dengan pemikirannya sendiri, kini Intan pun segera kembali ke ruang utama. Dan kini ia membawa dua gelas berisikan es sirup, ia pun langsung meletakkannya di atas meja. Kemudian ia langsung duduk di samping Wildan, dan ia pun dia membisu.


" Maafkan keluarga aku ya." ucap Intan memulai percakapan.


" Nggak apa-apa kok, aku mengerti kok dengan apa yang mereka lakukan." jawab Wildan.


" Tetapi aku merasa tidak enak, ayah bahkan sampai menyelidiki dirimu." ucapnya yang memang merasa tidak enak dan wildan pun kini menggenggam tangan Intan.


" Kau tidak usah pikirkan itu lagi, apa yang dilakukan keluargamu adalah yang terbaik. Aku tidak masalah dengan itu semua, yang terpenting aku bisa melihat kau bahagia." jelas Wildan dan tanpa sadar Intan pun berderai air mata.


" Jangan menangis, aku akan ikut bersedih nanti." ucapnya dengan mengalap air mata Intan.


" Makasih ya." ucapnya yang kemudian langsung mengambil, dan dalam sekejap Wildan pun tersipu malu.

__ADS_1


Bara kakak Intan, ia tertawa hingga terpingkal melihat reaksi Wildan. Ia tidak menyangka orang yang tadinya tampak cuek dan juga kuat itu, ternyata memiliki karakter yang sangat lucu ketika bersama dengan adiknya. Bara pun segera memfoto wajah Wildan, dengan niatan akan menunjukkan kepada Intan nanti setelah Wildan pulang.


Setelah puas mengambil foto Wildan, Bara pun segera pergi ke kamarnya. Ia pun segera menghubungi kakak pertamanya, karena ia ingin memberitahu kalau adik kecil mereka sudah memiliki kekasih.


" Halo kak, kakak ada di mana?" tanya Bara untuk mengawali percakapan.


" Tentunya kakak ada di rumah lah, memangnya kenapa?" tanyanya dari seberang telepon.


" Hari ini ada kabar mengejutkan di rumah kita." ucap Bara dan pemuda di seberang sana merasa khawatir.


" Tidak terjadi apa-apa dengan ayah dan mama kan, atau mungkin pada Intan?" tanyanya yang khawatir.


" Tidak terjadi apapun pada keluarga kita kak, hanya saja tadi ada yang datang ke rumah kita." ucapnya dan membuat pemuda itu kesal.


" Ya ampun, kau ini buat aku khawatir aja." jawabnya yang kesal.


" Kakak penasaran nggak sama berita yang mau aku sampaikan?" tanyanya dan membuat pemuda yang di seberang sana menjadi penasaran.


" Memangnya ada hal mengejutkan apa?" tanyanya yang kini penasaran." ucapnya dengan santai.


" Apa, aku tidak sedang salah dengar kan? lalu kenapa kau bisa sesantai itu menyampaikannya kepadaku." jawabnya yang kesal.


" Kakak tenang saja, ayah sudah menyelidiki latar belakang pemuda itu. Dan bahkan Kalau ia langsung menikah pun ayah sudah menyetujuinya." jelasnya dan membuat pemuda itu kaget.


" Kau jangan bercanda, Intan itu adik kecil kesayangan kita. Dan ia juga merupakan putri satu-satunya di keluarga kita, jadi kalau ngomong jangan sembarangan." jelas pemuda itu.


" Ngapain juga aku bohong, lagian nggak ada gunanya juga. Asal kakak tahu ya, ternyata mama dari pemuda itu adalah obat nyamuknya mama dan juga ayah sewaktu masih pacaran." jelasnya dan membuat pemuda itu kaget.


" Jangan bilang, kalau pemuda itu adalah anak dari tante Mawar." ucapnya.


" Ih kakak mengetahuinya, kakak mengetahui nama tante Mawar dari mana?" tanyanya yang penasaran.


" Ya tentunya dari mama dan juga ayah lah, kau ingat tidak kalau mama sering tiba-tiba menangis. Dan mama selalu menangis di hari yang sama, yaitu pada tanggal 26 Agustus." jelas pemuda itu.

__ADS_1


" Eh yang kakak aku katakan benar, terus apa hubungannya tante Mawar dengan tanggal 26 Agustus?" tanya Bara yang penasaran.


" Ya adalah, apalagi tanggal 26 Agustus adalah tanggal ulang tahunnya tante Mawar." jelas pemuda itu dan membuat Bara kaget.


" Apa, aku tidak sedang salah dengarkan kak?" tanya Bara untuk memastikan.


" Tentu saja tidaklah, tetapi sesuai dengan apa yang kau katakan tadi. Aku jadi mengerti kenapa kau mengatakan kalau ketika Intan langsung menikah dengannya pun tidak masalah, ya tentu saja tidak masalah karena dia akan menjalin hubungan dengan anak dari sahabat mama." jelas pemuda itu.


" Ya begitulah jak, tetapi aku yakin setelah mendengar ini pasti kakak menjadi tenang." ucap bara.


" Ya tentu saja lah, karena kita sudah mengetahui identitasnya dengan jelas dan juga siapa keluarganya. Jadi kita juga bisa dengan tenang melepaskannya, dan aku rasa bodyguard yang mengikutinya juga sudah tidak diperlukan lagi." ucapan muda itu.


" Yang kakak katakan benar juga sih, tapi aku masih khawatir dengannya kak." ucap Bara.


" Ya sudah, kalau begitu kita tanyakan pada ayah saja. Karena Intan masih tanggung jawab ayah." jelas pemuda itu.


" Yang kakak katakan benar. Oh iya, kakak nggak ada rencana untuk ke sini?" tanya Bara.


" Ada, tapi kakak harus konsultasi dengan kakak iparmu dulu. Agar kami bisa sama-sama izin kerja, dan bisa sama-sama enak." jelasnya.


" Kalau begitu aku titip salam nih buat kak Emi." ucap Bara kemudian langsung mematikan sambungan telepon.


...----------------...


Tanpa mereka sadari hari sudah mulai petang, kini Wildan pun memutuskan untuk pulang. Intan pun segera memanggil kedua orang tuanya, karena Wildan ingin meminta izin untuk pulang.


" Sudah sore nih." ucapnya dan Intan pun melihat jam tangannya.


" Oh iya sudah sore, kakak mau pulang ya?" tanya Intan.


" Iya aku mau pulang, tapi aku mau izin dulu sama kedua orang tuamu." ucapnya.


" Ya sudah kalau begitu, aku panggilkan kedua orang tuaku dulu." jawabnya kemudian langsung pergi mencari kedua orang tuanya.

__ADS_1


Kini ayah Intan pun turun, ia yang awalnya hendak ke dapur tiba-tiba saja dipanggil oleh Intan.


" Ayah." panggil intan dan ayahnya pun menoleh.


__ADS_2