Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 66


__ADS_3

" Kendaraannya menuju ke arah fakultas pertanian dan juga fakultas teknik, kira-kira mereka mau ngapain ya?" tanya Reza dengan tetap mengikuti Wildan dan Rio.


" Sudahlah Reza, nanti kalau udah sampai juga tahu. Nggak usah banyak omong, nanti kita ketahuan." ucap Gerhana.


Mereka pun akhirnya mengikuti Wildan dan Rio, kini motor keduanya berhenti di fakultas teknik. Ketiganya yang mengikutinya merasa heran, karena Wildan dan Rio tidak pernah ke fakultas teknik. Mereka pun tambah penasaran, sebenarnya apa tujuan keduanya datang ke fakultas teknik.


Tiba-tiba saja muncul seorang cewek, ia melambaikan tangannya ke arah Rio dan juga Wildan. Ketiganya pun sontak saja kaget, mereka menjadi penasaran dengan status cewek tersebut. Cewek itu pun langsung berjalan menghampiri keduanya, kemudian ia langsung ditarik oleh Wildan ke dalam pelukannya.


" Wah-wah, sepertinya ini berita bagus. seorang presiden mahasiswa, yang tidak pernah terlibat tentang kasus pacaran. Akhirnya tertangkap sedang menjemput pacarnya, yang merupakan anak fakultas teknik." ucap Juan dengan tersenyum lebar.


" Sempat-sempatnya mikirin organisasi, dasar anak pers." ucap Reza yang merasa kesal.


" Macam dirimu nggak ada pres aja." ucap gerhana dan Reza pun tertawa.


" Sudahlah, sekarang kita harus mengorek informasi tentang cewek tersebut. Dan berita ini pasti akan booming, karena Wildan kan tidak pernah mengekspos pacarnya." ucap Juan yang sudah mulai memikirkan berita.


...----------------...


" Jangan ditarik, teman-teman aku lagi ngintip." ucap Intan dengan nada berbisik.


Wildan pun segera melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Intan, dan memang benar saat ini teman-teman Intan sedang ngintip.


" Udah lihat kan, tolong lepasin." ucap Intan dan wildan pun langsung melepasnya.


" Sebenarnya sejak awal aku sudah mengetahui keberadaan mereka, karena itu aku langsung menarikmu." batin Wildan.


" Malu ya deket sama aku?" tanya Wildan.


" Bukan seperti itu Kak, cuma nanti beritanya akan semakin cepat tersebar." jelas Intan.


" Itulah tujuanku sebenarnya." batin Wildan.


" Tampaknya ini anak sengaja, padahal dari tadi dia sudah mengetahui kalau kami diikuti oleh anak pers. Dan sepertinya dia memang ingin membuat berita yang sangat menggemparkan untuk esok hari." batin Rio dengan menepuk jidatnya.


...----------------...


" Wah pacarnya Intan ganteng banget." ucap seorang mahasiswi.


" Tapi tunggu, kenapa wajahnya seperti presiden mahasiswa kita ya." ucap mahasiswi itu yang baru menyadarinya.


" Aku baru aja ingin bilang seperti itu." ucap Nasyifa.

__ADS_1


" Itu memang presiden mahasiswa kita, coba kalian lihat yang di sebelahnya. Itu kan Rio wakil presiden mahasiswa kita, jadi itu sudah pasti presiden mahasiswa kita." jelas Pinka dan membuat semuanya kaget.


" Kalisa, kau kenapa tidak bilang?" tanya Nasyifa.


" Kalau bilang-bilang kan nggak seru, kalau seperti ini kan seru." ucap Kalisa kemudian pergi meninggalkan semuanya.


" Kalisa, kau mau ke mana?" tanya Pinka.


" Aku mau ke ruangannya Kaprodi, kalian mau ikut?" tanyanya dan semuanya pun menggeleng.


" Kalisa ini aneh, siapa juga yang mau ikut ke Kaprodi. Bisa-bisa kita di gas, karena kita berbondong-bondong ke ruangan Kaprodi." jelas Nasyifa dengan menggelengkan kepalanya.


...----------------...


" Oh iya, kenalin ini Rio." ucap Wildan memperkenalkan Rio.


" Hai aku Rio." ucapnya dengan menjabat tangan Intan.


" Aku ku Intan kak." jawabnya dengan tersenyum.


" Karena tadi Wildan memang sengaja, kalau gitu aku tambahin deh. Biar berita besok tambah booming, dan biar aja dia dikejar-kejar parah pers." batin Rio dengan tersenyum.


" Oh, jadi nama pacar presiden mahasiswa kita ini Intan." ucap Rio dengan sedikit berteriak dan terdengar ke Gerhana dan teman-temannya.


" Ia namanya Intan, namanya sama dengan wajahnya cantik." ucap Wildan dan membuat Intan tambah gemetaran.


" Apaan sih mereka berdua, nanti bisa-bisa terdengar anak pers. Aku masih belum siap jadi training topic untuk besok, tapi mau nggak mau aku harus siapin mental sepertinya." batin Intan dengan menunduk.


" Balik yuk!" ucap Wildan dan Intan hanya mengangguk kemudian langsung naik ke motor Wildan.


Mereka pun segera pergi meninggalkan Fakultas Teknik, kini ketiganya semakin berteriak kegirangan. Karena mereka mendapat berita eksklusif, yang pastinya akan menggemparkan satu universitas.


" Udah dicatat semua?" tanya Gerhana.


" Tenang aja, berita ini pasti akan booming. Dan pastinya semua anak-anak akan mengerumuni mereka, tetapi untuk info lebih lanjut kita harus segera mencari narasumber." ucap Juan.


" Itu akan sangat sulit, mungkin kita besok saja tanyain langsung. Hari ini langsung tulis beritanya, nanti malam atau besok pagi langsung di update." ucap Gerhana.


" Tenang aja, aman itu." jawab Juan.


...----------------...

__ADS_1


Mereka langsung pergi ke tempat janjian dengan Anas, tetapi tiba-tiba saja telepon Wildan berdering. Dan Ia pun segera mengangkat telepon tersebut, dan ternyata yang menelpon adalah Anas.


" Halo Anas, kau di mana?" ucap Wildan untuk mengawali panggilan.


" Halo Wil, maaf ya pertemuan kita harus batal." ucapnya langsung to the point.


" Batal, kenapa harus batal?" tanya Wildan yang merasa heran.


" Yani aku harus survei lokasi, minggu depan aku udah harus mulai magang." jelas Anas.


" Emang kamu mau magang di mana?" tanya Wildan.


" Aku masih belum tahu, karena itu ini mau mencari. Kau tahu lah kami susah, di sini kan tidak banyak perkebunan." jelas Anas.


" Iyalah itu, yang anak pertanian." ucap Wildan.


" Eh bukan gitu, tapi aku memang belum dapat tempat magang." jelas Anas.


" Iya, aku ngerti kok. Santai aja, aku cuma bercanda kok." ucap Wildan.


" Kau ini ya, buat orang emosi aja." ucap Anas.


" Ya maaf, habisnya sangat menyenangkan melihat kau marah." ucap Wildan.


" Dasar kau ini, oh iya ngomong-ngomong kau sekarang lagi sama intan ya?" tanya Anas untuk mastikan.


" Iya, aku lagi sama intan ni. Kau mau ngomong sama dia?" tanya Wildan dan Intan sudah sangat berharap.


" Nggak, aku cuma nanya aja. Oh iya, kalau gitu aku titip intan ya. Jangan sampai ada lecet sedikitpun." ucap Anas memberi ancaman pada Wildan.


" Tenang saja, Intan aman sama ku." ucap Wildan.


" Thanks ya, maaf ni jadi ngerepotin." ucap Anas yang merasa bersalah.


" Santai aja bro, sekarang yang terpenting kau harus segera cari tempat magang." ucap Wildan.


" Kalau soal itu, kau tenang aja. Kini aku sedang berusaha." jawab Anas.


" Yauda, kalau gitu kau hati-hati dan semoga kau cepat dapat tempat magang." jelas Wildan


" Amin, mudah-mudahan ya. Kebetulan aku juga sudah capek, dimana-mana pasti ada universitas lain." jawabnya.

__ADS_1


" Ya mau gimana lagi, lagian ini itu waktunya semua mahasiswa magang." ucap Wildan.


" Yang kau bilang masuk akal juga, thanks ya infonya. Yang terpenting kau doain aja supaya aku dapat tempat magang." jelas Anas.


__ADS_2