
" Kau dengar itu beb, mereka jadi fans Wildan dan pacarnya." ucap Rio.
" Iya, aku juga mendengarnya. Dan jujur itu sangat lucu." ucap Tina.
" Sudahlah beb, mereka itu orang aneh. Tadi pagi aja menghina pacar Wildan, eh sekarang malah jadi pendukung mereka." ucap Rio dengan berbisik.
" Ya begitulah, tapi aku jadi penasaran dengan pacar Wildan." ucap Tina.
" Nanti yah Kita temui." ucap Rio dengan mengelus kepala Tina.
" Beneran ya, melihat dari foto saja tidak puas." jelas Tina yang memang sedikit dibesarkan.
" Iya kau tenang saja, kalau perlu kita double date." jelas Rio dan Tina pun tersenyum.
" Itu pun boleh." ucap Tina.
" Ya udah nanti kuatur." ucap Rio.
...----------------...
Kini Wildan sudah tiba di fakultas teknik, ja pun melihat Intan di tempat semalam mereka bertemu. Ia pun segera markirkan motornya, kemudian ia langsung membuat Intan.
" Kak jangan gitu, malu dilihat yang lain." ucap Intan tetapi Wildan tidak mau melepaskannya.
" Biarin aja, lagian mereka juga uda tau kalau kita pacaran." ucap Wildan.
" Iya sih, tapi ini masih di area kampus. Malu tau, jangan di sini ya." ucap Intan, kemudian Wildan pun langsung melepaskan pelukannya.
" Yauda, berarti di tempat lain boleh kan?" tanya Wildan yang pura-pura bodoh.
Intan tidak menjawab pertanyaan Wildan, ia hanya mengangguk saja. Mereka pun kemudian segera pergi, kini mereka sudah berada di perjalanan menuju rumah Intan.
" Ayah kamu orangnya seperti apa?" tanya Wildan.
" Kakak tenang aja, ayah aku baik kok. dia hanya selalu ingin yang terbaik untukku, dan dia akan selalu menghargai keputusanku." jelas Intan.
" Ya sudah, tetapi walaupun kau berbicara seperti itu. Aku masih saja gemetaran, aku takut ayahmu justru tidak merestui kita." jelas Wildan yang kini berusaha menahan emosinya karena sedang membawa motor.
Akhirnya kini mereka sudah sampai di depan rumah Intan, mereka pun segera masuk ke dalam. Dan benar saja, saat ini orang tua Intan sudah menunggu mereka. Wildan pun akhirnya masuk walaupun dengan tangan yang gemeteran, Iya masih takut untuk bertemu dengan orang tua Intan. Tetapi ia harus melakukannya, agar Intan tidak dijodohkan.
__ADS_1
" Selamat siang om." ucap Wildan.
" Ayah, mama. Perkenalkan ini Wildan, ia pacarku. Ucap Intan memperhatikan Wildan kepada kedua temannya.
" Oh jadi ini pacar kamu, punya ilmu apa kau untuk menjaga anak saya." tanya ayah Intan.
" Saya anak Pencatsilat sabuk putih om." jawab Wildan dan membuat semuanya kaget.
" Saya nggak salah denger kan?" tanya ayah Intan untuk memastikan.
" Tidak om, bahkan saya masih ada foto ketika menjuarai turnamen." jelas Wildan dengan memberikan handphonenya.
" Om kira kau bercanda, eh rupanya beneran." ucapnya dengan menggelengkan kepalanya.
" Kalau begitu, kita bisa tenang dong ayah menyerahkan Intan untuk di jaga olehnya." ucap seorang pemuda yang baru saja turun dari lantai 2.
" Kakak…" teriak Intan kemudian ia langsung memeluknya.
" Ih nggak malu, padahal ada pacarnya. Masih aja bertingkah seperti anak kecil, kau mau dengannya yang seperti bocil ini." ucap pemuda itu kemudian langsung melihat ke arah Wildan.
" Justru saya lebih menyukai sisinya yang itu kak." jawabnya dan membuat pemuda itu heran.
" Tentu saya tidak masalah, seorang adik perempuan pastinya akan lebih merasa aman dan nyaman ketika bersama dengan kakak laki-lakinya dari pada orang lain." jelasnya.
" Sepertinya kau sangat mengerti tentang itu ya?" tanya Wildan.
" Tentu kak, dan saya yakin sebenarnya kakak memiliki ketakutan yang sangat besar terhadap Intan. Dan pastinya akan merasa ia akan berubah, dan di hati Intan kakak nggak akan pernah tergantikan." jelasnya.
" Wah kau sangat mengerti, sepertinya kau memiliki adik perempuan yang memiliki sifat sama dengan Intan ya?" tanyanya kembali.
" Ya aku memiliki seorang adik perempuan, dan jujur aku tidak sanggup melepaskannya bersama orang lain. Hanya orang yang sudah lulus menurut ku saja yang bisa dekat dengannya, karena aku tidak ingin adik kecilku tersakiti." jelasnya.
" Oh begitu, jadi kau tau kan apa yang ku mau?" tanya pemuda itu.
" Saya akan berusaha yang terbaik, dan saya tidak akan menyakiti hati Intan kak." jawabnya.
" Aku pegang ucapan mu, jika sampai terjadi sesuatu dengannya awas saja kau." ucap pemuda itu dengan tatapan tajam.
" Baik kak, saya akan selalu menjaganya." jawabnya dengan tersenyum.
__ADS_1
" Oke, siapa tadi namamu?" tanya pemuda itu.
" Nama yang sangat bagus, perkenalkan namaku Bara." ucap Bara dengan mengundurkan tangannya untuk berjabat tangan.
" Terima kasih Kak Bara, saya akan berusaha menepati janji saya. Dan tidak akan mengecewakan Kakak dan juga keluarga kakak." ucap Wildan dengan tersenyum.
" Sudahlah, sekarang kalian duduk." ucap ayah Intan dan mereka pun langsung duduk.
" Bagaimana keadaan Mawar?" tanya mama Intan yang kelepasan.
" Tante kenal sama mama saya?" tanya Wildan yang kaget.
" Maaf saya salah pasang." ucapnya dengan tersenyum, dan ayah Intan hanya menggelengkan kepalanya saja.
" Bukan hanya mamanya Intan yang mengenal dengan bundamu, tetapi saya juga mengenal bundamu." jelas ayah intan dan sontak saja mereka tambah kaget.
" Ayah tidak sedang bercanda kan?" tanya Intan untuk memastikan.
" Ayah tidak bercanda, bahkan ayah masih ingat masa-masa dulu. Di saat mamanya Wildan sering menjadi obat nyamuk kami, itu adalah momen yang tidak bisa dilupakan." jelas Ayah Intan.
" Pantesan ayah tidak marah, padahal Intan baru pertama kali membawa lagi ke rumah ini." ucap Bara dengan menggeleng kepalanya.
" Kalau menyelidiki orang itu nggak boleh nanggung-nanggung, dan syukurnya asisten Ayah sangat tangkap. Awalnya hanya ingin mencari tahu siapa pacar Intan, nggak tahunya dapat semua datanya sampai nama ibunya." jelas Ayah Intan, dan sontak saja Wildan menjadi kaget.
Iya jadi berpikir yang aneh-aneh, jika suatu hari ia berbuat salah kepada Intan. Apakah yang akan ia dapatkan, kakaknya yang tampak sangat overprotektif. Dan ayahnya yang sangat mudah mendapatkan informasi akan seseorang, hal ini membuat Wildan sempat merasa takut. Tetapi ia mengingat kembali, kalau karena semua itu ia bisa dengan mudah dekat dengan Intan.
" Om dan tante ingin bertemu dengan bunda saya ya?" tanya Wildan.
" Iya benar, bisakah kau mempertemukan saya dengan sahabat saya." ucap mama Intan dengan antusias.
" Oh tentu tante, tetapi sebelumnya bolehkah saya mengetahui nama tante?" tanya Wildan.
" Oh tentu saja boleh, sampaikan saja ke bundamu. Kalau Dania teman sma-nya sangat merindukannya." ucap mama Intan.
" Baik akan saya sampaikan tante." ucapnya dengan tersenyum.
" Ayah, soal perjodohan bagaimana?" tanya Intan.
" Kau tenang saja, perjodohan sudah ayah batalkan." ucap sang ayah, dan Intan melompat kegirangan.
__ADS_1