Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 42


__ADS_3

" Kak Cahaya bukannya aku baru dari rumah kakak semalam ya, terus kenapa umi Kakak udah kangen sama aku?" tanya Hana yang merasa heran.


" Maaf ya Hana, Kakak terpaksa ngomong seperti itu. Kakak udah tahu semua ceritanya, karena itu kakak nggak ingin bila kamu tiba-tiba bertengkar dengan temanmu itu. Jadi Kakak nggak punya alasan, karena itu kakak asal ngomong aja tadi." ucap Cahaya jujur, dan sontak saja Hana menjadi tertawa hebat.


" Kenapa kau tertawa?" tanyanya yang merasa heran dengan tingkah Hana.


" Habis Kakak lucu tahu, tapi makasih ya. Kakak baik banget sama aku, bahkan sampai berbohong demi melindungi aku." ucapnya dengan tersenyum kemudian memeluk Cahaya.


" Apa sih yang nggak akan aku lakuin, demi adik ipar kesayangan aku." ucapnya dengan mengelus rambut Hana.


" Ih kak Cahaya ini loh, aku sama Dafa belum nikah kali Kak. .ain enak aja bilang adik ipar." ucapnya yang kesal dan memajukan bibirnya.


" Ih manja ya, tapi nggak apa-apa. Dari sini kakak semakin tahu, kenapa Dafa bisa suka sama kamu." ucapnya dan membuat Hana semakin penasaran.


" Apa Kak?" tanyanya yang tidak sabar menanti jawaban.


" Nau tahu, mau tau aja apa banget." ucapnya kemudian meninggalkan Hana.


" Ih kak Cahaya nyebelin banget, aku masih penasaran malah ditinggal." ucapnya dengan menatap ke arah kepergian Cahaya.


...----------------...


Wildan dan juga Rio sedang mengurus berkas, mereka sedang mengurus berkas-berkas untuk persiapan magang. Mereka telah menyemangati akan magang di kantor papi Rio, dan untuk agar tidak keduluan dengan mahasiswa yang lain. Mereka pun segera mengurus data-data mereka, agar tidak ada kisah mengenai mentang-mentang anak pemilik perusahaan bisa sok.


Setelah perjuangan beberapa jam, akhirnya mereka pun telah selesai. Dan kini mereka berniat langsung pergi ke kantor papi Rio, Mereka pergi dengan mengendarai motor Rio. Wildan kini tidak membawa motor, karena ia tidak pulang ke rumahnya. Dan memutuskan untuk menginap di rumah Rio untuk beberapa saat, orang tua Rio sih merasa. Karena mereka berdua juga sudah menganggap Wildan sebagai anak mereka, itu karena Wildan dan Rio sudah bersahabat sejak lama.


" Akhirnya sampai juga di kantor papi, ayo cepat kita ajukan ke resepsionis." ucap Rio kemudian langsung berlari menuju resepsionis.


" Kau ini ya Rio, main tinggal aja." ucapnya yang kesal dengan sahabatnya itu.


" Maaf deh Wil, habis aku kangen banget sama papi. Karena aku dengar hari ini papi aku pulang, Dan kini ia sedang berada di kantor." ucapnya dengan jujur.

__ADS_1


" Ya udah deh nggak apa-apa, ayo cepat kita masuk. setelah itu aku temani deh jumpain papi kamu." ucap Wildan.


" Kau memang best friend ku." ucapnya dengan meninju bahwa Wildan.


" Ya iyalah, kita itu udah lama bersahabat. masak tiba-tiba lupa, kalau lupa namanya aku nggak tahu diri." jelas Wildan.


Mereka pun langsung menuju ke meja resepsionis, kemudian mereka memberikan berkas kepada meja resepsionis tersebut. Tetapi tiba-tiba saja muncul seseorang yang sok belagak memiliki segalanya, dia datang dan mengganggu Rio dan juga Wildan.


" Eh ternyata di sini ada dua anak kumuh, yang merupakan budak kampus." ucap seorang pemuda yang baru saja datang dan membuat Rio menjadi kesal.


" Siapa yang kamu bilang anak kumuh?" tanyanya dengan nada kesal.


" Ya kalian lah, siapa lagi." ucapnya dengan sangat bersemangat.


" Mulutmu itu kayak nggak pernah di sekolahin ya, kalau ngomong itu dipikir." balas Rio kembali.


" Terserah deh kau mau bilang apa, tapi asal kalian tahu ya. Kalian itu nggak akan menang buat magang di sini, karena yang magang di sini itu aku." ucapnya dengan sombong.


" Aku itu anak manajer di sini, jadi aku mah aman kalau mau di sini. Nggak kayak kalian yang anak miskin, jadi siap-siap aja cari tempat magang yang lain." ucapnya kemudian pergi meninggalkan Rio dan juga Wildan.


" Masih jadi anak manajer aja, Aku kira tadi dia manajernya loh. Tapi sayang Itu nggak mungkin, lihat aja penampilannya begitu." ucap Rio kemudian mereka memperhatikan kepergian pemuda itu, sontak saja mereka pun tertawa.


" Belum tahu aja dia kalau lu itu siapa." ucap Wildan dengan menggelengkan kepalanya.


" Bener banget itu, tapi aku jadi penasaran siapa sih sebenarnya ya dia?" ucap Rio dengan memikirkannya dengan seksama.


" Kamu nanya?" ucapnya kemudian berlari keluar.


" Wildan, kau ini ya buat aku emosi aja." ucapnya dengan mengejar Wildan keluar.


" Ya habis dirimu nanya hal-hal yang aneh, dia mana ku tahu dia anak siapa. Yang punya perusahaan juga bokap mu, dan kau malah nanya sama aku." jelasnya.

__ADS_1


" Masuk akal juga sih yang kau bilang, kalau gitu nanti temenin aku ngomong sama bokap aku ya." ucapnya dengan menggenggam tangan Wildan.


" Males, nanti aku ikut ditanya yang aneh-aneh." jelas Wildan yang memang benar-benar malas.


" Ayolah Wildan, nggak enak tahu bertemu cuma berdua aja." ucapnya.


" Ya udah deh, tapi tunggu kenapa nanti, bukannya sekarang ya?" ucapnya yang merasa heran dengan perkataan Rio.


" Bokap gue lagi keluar kantor, Jadi disuruh nemuin di rumah aja." jelasnya dan Wildan hanya mengangguk.


" Oh gitu ternyata, ngerti aku sekarang." balasnya.


...----------------...


" Assalamualaikum ummi." ucap cahaya dengan menyalami umminya.


" Waalaikumsalam, eh ada Hana juga rupanya." ucap ummi yang gini langsung memeluk Hana.


" Ummi, yang anak umi itu aku bukan Hana. Kenapa ummi malah nyuekin aku sih." ucapnya yang kesal dengan tingkah umminya.


" Kau kan memang anak ummi, tapi kalau Hana calon menantu ummi." ucap ummi dan membuat Hana tersipu malu, Cahaya yang sempat melihat warna merah merona di wajah Hana. Ia pun ingin tertawa, tetapi ia menahannya dan kemudian langsung pergi menuju kamarnya.


" Sayang itu apa?" tanya umi yang melihat ada kantong plastik di tangan Hana.


" Oh ini makanan umi, tadi malam Dafa sempat telepon. Dan Dafa bilang dia nggak mau makan kalau nggak makanan aku, awalnya sih aku nggak percaya. Tapi akhirnya tetap kubuatkan ummi." jelas Hana.


" Maaf ya anak bontot ummi jadi ngerepotin." ucap ummi dengan ekspresi tidak enak.


" Apa kok umi, lagian Hana nggak ngerasa direpotin." ucapnya dengan tersenyum.


" Oh kalau gitu sering-sering ya." ucap ummi kemudian membawa pergi ke antum plastik tersebut.

__ADS_1


Hana hanya diam mematung, ia tidak menyangka kalau calon ibu mertuanya itu bisa seperti itu. Cahaya yang masih melihat Hana dari lantai dua, ia pun tertawa dengan sangat keras. Hingga suara itu terdengar ke telinga Hana, Hana kini menatap cahaya dengan sangat menyeramkan. Dan sontak saja cahaya yang merasa takut, langsung masuk ke kamarnya.


__ADS_2