
Setelah pergi, Wildan pun segera menghubungi ayahnya. Ia sangat tidak terima, ayahnya menikah tanpa persetujuan darinya.
" Ayah." ucapnya untuk mengawali telepon.
" Akhirnya kau menelepon ayah juga nak." ucap Yuda, ayah Wildan.
" Ayah, masih menganggap aku anak ayah. Ayah mau menikah saja tidak memberitahu ku, bahkan aku harus tau dari orang lain. Sungguh sangat mengecewakan." ucap Wildan.
" Maafkan ayah nak, bukan maksud ayah seperti ini. Hanya saja ayah tidak bisa menunggu lagi, bilang terlambat ayah tidak akan bisa bertemu dengannya lagi." jelas pak Yuda.
" Maksud ayah apa?" tanya Wildan yang penasaran.
...----------------...
" Mama turun." ucap Gina.
" Nggak mau, kalau mas Yuda memutuskan hubungan dengan mama. Lebih baik mama mati saja." ucap Tami, mama Gina.
" Ma, ingat ma. Masih ada Gina, kalau mama pergi Gina sama siapa." ucap Gina dengan mata berkaca-kaca.
" Nggak mau, kalau nggak ada mas Yuda. Aku nggak mau turun." ucapnya lagi.
" Yauda, Gina telpon om Yuda. Tapi mama jangan lompat." ucap Gina, dan ia pun segera menelpon Yuda.
" Om Yuda, om bisa ke rumah ku sekarang." ucap Gina yang panik.
" Gina ada apa, kenapa kau tampaknya sedang panik?" tanya pak Yuda.
" Mama, mama om." ucapnya yang masih panik.
" Jangan panik, sekarang coba ngomong pelan-pelan!" seru pak Yuda.
" Mama mau loncat dari lantai 3 om." ucap Gina.
" Apa." ucap pak Yuda yang juga kaget.
" Iya om, om cepat kesini. Gina takut om, heehee." ucapnya dengan menangis.
" Ok, om akan segera kesana. Kau coba tenangin mamamu dulu ya, secepatnya om akan sampai." ucap pak Yuda, kemudian sambungan telepon pun mati.
" Ma, jangan loncat. Gina uda telepon om Yuda, dan sekarang om Yuda sedang dalam perjalanan kesini." ucap Gina untuk menenangkan mamanya.
" Bener ya, kalau kau bohong mama akan langsung loncat." ucapnya dengan tatapan yang aneh.
" Iya ma, mama tenang dulu ya. Gina yakin secepatnya om Yuda pasti tiba." teriak Gina.
" Non, non yakin tuan Yuda akan datang?" tanya bibi pembantu.
" Iya bi, aku yakin. Om Yuda kan sangat sayang sama mama, jadi aku yakin om Yuda akan datang." ucap Gina.
" Ya sudah, mudah-mudahan saja tuan Yuda cepat datang." ucap bibi.
__ADS_1
15 menit kemudian…
Akhirnya pak Yuda pun tiba di rumah Gina, ia langsung memarkirkan mobilnya dan kemudian langsung berlari untuk menemui Gina. Alangkah kagetnya ia, ketika melihat Tami. Pacarnya yang sangat ia sayangi, kini berada di lantai tiga. Dan ingin melompat.
" Sayang, turun ya." bujuk pak Yuda.
" Nggak mau." jawabnya.
" Ingat, masih ada Gina yang membutuhkan mu." ucapnya.
" Nggak mau, aku akan turun dengan satu syarat." ucap Bu Tami.
" Apa syaratnya?" tanya Yuda.
" Aku mau mas Yuda menikah dengan ku." ucapnya.
" Tidak bisa, anakku menentang hubungan kita." jelas Yuda.
" Kalau begitu, lebih baik aku mati." ucapnya.
" Jangan ma, heemheem." ucapnya dengan menangis.
" Om tolong, aku cuma punya mama. Aku mohon om, bantuin aku." tambah Gina.
" Kasihan juga anak ini." batin pak Yuda.
" Ok baik, kita akan menikah." ucap pak Yuda.
" Iya, sekarang kau turun!" seru pak Yuda.
Ibu Tami pun segera melaksanakan perintah pak Yuda, ia pun segera turun dan menemui pak Yuda dan juga Gina. Sesampainya ia di bawah, ia langsung memeluk pak Yuda. Ia merasa sangat bahagia, karena ia akan segera menikah dengan pak Yuda.
" Terimakasih om." ucap Gina.
" Iya sayang." jawab pak Yuda dengan mengelus kepala Gina.
...----------------...
" Begitulah ceritanya nak." jelas pak Yuda.
" Ok, aku ngerti. Tapi setidaknya ayah kan bisa memberitahukan kepada kami terlebih dahulu, kan tidak etis kami tau dari orang lain. Bukan dari ayah sendiri, jujur kami sakit hati sama ayah." ucap Wildan.
" Maafkan ayah nak." ucapnya.
" Asal ayah tau, yang paling tersakiti itu bukan aku. Tapi Hana ayah, dia sudah lama tidak bertemu dengan ayah. Dan sekarang ayah ingin menikah lagi, dan tanpa izin darinya. Saranku lebih baik ayah temui Hana, sebelum Hana membenci ayah." jelas Wildan.
" Kalau begitu, kau bisa aturkan pertemuan ayah dengan Hana?" tanya pak Yuda.
" Yauda, aku aturkan. Tapi ayah harus janji, ayah nggak akan menyakiti Hana." ucap Wildan memperingatkan ayahnya.
" Iya, ayah janji. Tolong ya Wil, ayah sangat merindukan Hana." ucap pak Yuda.
__ADS_1
" Iya ayah, yauda nanti Wildan kabarin lagi. Assalamualaikum ayah." ucapnya.
" Waalaikumsallam." jawab pak Yuda, kemudian sambungan telepon pun mati.
" Sungguh kisah yang sangat membingungkan." ucapnya dengan menggelengkan kepalanya.
Tanpa Wildan sadari, kini sudah waktunya Hana pulang. Dan Hana pun pulang ke rumahnya, ia diantar oleh Dafa. Kini Hana sangat bahagia, karena ia bisa bertemu dengan bundanya lagi. Dan ia juga tidak sabar untuk menceritakannya kisah yang ia alami pada saat bundanya tidak ada.
Kini Hana sudah tiba di depan rumah, ia pun segera mengetuk pintu itu. Ia tersenyum ketika melihat wajah orang yang membukakan pintu untuknya.
" Bunda." ucapnya dengan langsung memeluk bundanya.
" Ye dasar ini anak, eh ada Dafa juga. Silakan masuk nak, maaf bunda baru pulang. Jadi rumahnya masih kotor." jelas bunda.
" Iya gpp bunda." jawabnya kemudian langsung masuk dan duduk di sofa.
" Sana buat minum dulu untuk Dafa!" seru bunda, dan Hana pun segera pergi ke dapur.
" Maaf ya nak Dafa, bunda jadi ngerepotin kau dan keluargamu." ucap bunda.
" Bunda apaan sih, bagi Dafa nggak repot kok. Bahkan ayah meminta Dafa secepatnya menikah dengan Hana." ucap Dafa, dan tanpa sadar ia pun tersipu malu.
" Kalau begitu silakan saja, tapi kau harus menemui ayah Hana dulu." ucap bunda.
" Kalau soal itu sulit bunda, seperti yang bunda tau. Beberapa hari yang lalu, pak Yuda sudah membuat Hana menangis. Dan jujur aku takut kalau Hana trauma." jelas Dafa.
" Yang kau katakan benar, tapi kau harus bertemu dengan Yuda jika kalian ingin secepatnya menikah." ucap bunda.
" Ya Dafa senang saja bunda, tapi Dafa ikut Hana saja. Karena Dafa ingin Hana bahagia." ucapnya dengan tersenyum.
" Anak ini memang baik, dan aku sangat bahagia karena Hana bisa dekat dengannya. Dan dia juga sangat menghargai Hana, Aden dan Gayatri memang pandai mengajari anaknya." batin bunda Mawar.
Hana pun datang dengan membawa minuman untuk Dafa, ia pun menyuguhkannya di meja kemudian ia pun duduk disamping bundanya.
" Sepertinya bunda dan Dafa asik sekali ngobrolnya, lagi ngobrolin apa sih?" tanya Hana.
" Kelanjutan hubungan kalian." Jawab bunda, dan Hana pun tersipu malu.
" Bunda apaan sih, kan kami masih kuliah." ucap Hana yang kini masih menunduk.
Sedikit pengenalan
Nama : Luhana
Karakter : Baik, lembut, pengertian dan sopan.
Hobby : Memasak
Makanan kesukaan : Mie goreng
__ADS_1
Minuman kesukaan : Jus jeruk