
Dokter Tama pun langsung pergi setelah memperiksa keadaan Tina, Tina pun tidak diperbolehkan oleh ayah dan bundanya untuk pergi. Ia hanya berbaring saja di tempat tidur, dan orang tuanya melarang ia untuk pergi ke kampus. Ayah Tina langsung segera menelpon Wildan, untuk memberitahukan kalau Tina sedang sakit.
" Halo Wildan, ini om ayah Tina." ucapnya.
" Iya om, ada apa ya?" tanya Wildan.
" Om cuma mau bilang, Tina hari ini nggak masuk kampus. Dia jatuh di kamar mandi tadi." jelas pak Ahmad.
" Yuada gpp om, yang penting Tina cepat sembuh." jawab Wildan.
" Kalau gitu, terimakasih Wildan." ucapnya.
"Iya om." jawabnya, kemudian pak Ahmad langsung menghentikan sambungan telepon.
Tiba-tiba saja, Rio datang. Ia yang penasaran dengan siapa yang baru saja menelpon, akhirnya memutuskan untuk bertanya.
" Siapa yang telpon?" tanyanya.
" Om Ahmad, ayah Tina." jawabnya dan sontak saja Rio pun kaget.
" Ngapain om Ahmad telepon?" tanyanya yang penasaran.
" Oh tadi om Ahmad bilang Tina sakit..." ucapnya yang tiba-tiba saja terhenti.
" Apa, Tina sakit apa?" tanyanya yang cemas.
" Kau ini ya, aku tu belum siap ngomong. Main potong aja, kebiasaan kau." ucapnya yang emosi.
" Ya maaf Wil, jadi Tina sakit apa?" tanyanya kembali.
" Tadi sih kata om Ahmad, Tina jatuh di kamar mandi." jelasnya, dan membuat Rio kaget.
" Apa, aku nggak salah denger kan. Terus sekarang bagaimana keadaannya?" tanyanya.
" Alhamdulillah cuma keseleo si tadi kata om Ahmad." jawabnya.
__ADS_1
" Alhamdulillah kalau gitu, nanti siang kita kerumahnya ya." Ajak Rio dengan ekspresi memohon.
" Iya-iya, aman itu." jawabnya, kemudian mereka langsung pergi ke meja makan.
...----------------...
" Hana, ayo turun makan. Cepat sayang nanti terlambat." panggil bunda.
" Iya Bun." jawabnya sambil berlari menuju meja makan.
" Uda cepat sini makan."
" Iya bunda ku yang cantik, wah ada ayah gule kesukaanku." ucapnya dengan tersenyum dan langsung memeluk bundanya.
" Uda ayo cepat dimakan, nanti bisa terlambat loh." perintah Bunda.
Hana pun langsung duduk, dan ia langsung menyantap makanan yang ada di meja makan. Dengan semangat gembira ia menyantap makanan, dan tanpa terasa akhirnya makanan pun telah habis.
" Masakan Bunda memang paling enak deh, Hana jadi pengen tambah. Tapi sayangnya Hana harus berangkat sekarang." ucapnya dengan memeluk bundanya.
" Kok ada dua pun?" tanyanya yang heran.
" Iya yang satunya buat pemuda yang semalam ngantar kamu." ucapnya.
" Oh begitu ya Bun, ya uda nanti Hana kasihin ke Kak Wildan." ucapnya kemudian pergi meninggalkan bundanya.
Bunda mawar masih diam terpaku, jujur saja ia kaget mendengar nama pemuda itu. Ia menjadi mengingat putranya, yaitu Kakak dari Hana. Yang sebenarnya saat ini ia tidak tahu keberadaannya, karena sang mantan suami yang merupakan ayah dari Hana selalu berpindah-pindah.
Pikirannya pun mulai menebak-nebak, ia pun mulai penasaran dengan siapa pemuda kemarin. Tetapi ia tidak berani menceritakannya kepada Hana, karena Hana tidak mengetahui keberadaan Putra sulungnya itu. Hana hanya mengetahui kalau dia adalah anak tunggal dan ayahnya sudah meninggal dunia.
Sebelum menyampaikan kabar itu kepada Hana, ia ingin mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Agar kabar itu menjadi kabar bahagia, bukan menjadi kabar duka karena kandasnya hubungan mereka. Perlahan-lahan Bunda mawar mulai menyusun rencana, ia ingin mencari tahu kebenaran tanpa sepengetahuan Putri bensinnya itu.
" Hana sayang, andaikan kau tahu. Kalau kau masih memiliki seorang kakak, dan ayahmu juga masih hidup. Pasti kau akan sangat bahagia, dan tidak akan menderita ini sayang. Tapi maafkan Bunda, karena hingga kini Bunda masih belum bisa menemukan mereka. Bunda berjanji padamu, bunda akan berusaha menemukannya." batinnya dengan menatap kepergian Hana.
...----------------...
__ADS_1
Kini Wildan dan Rio telah sampai di kampus, mereka langsung menuju ke sekretariat presiden mahasiswa. Mereka mulai menyusun kekacauan yang terjadi, barang-barang yang masih berserakan. Mereka mulai menyusunnya satu demi satu, agar sekretariat mereka terlihat rapi.
Saat melakukan pembersihan, tiba-tiba saja Wildan menemukan sebuah buku. Dan ternyata buku itu adalah buku Tina, Wildan yang penasaran pun mulai membaca isi buku tersebut. Alangkah kagetnya ia ketika mengetahui isi buku tersebut, ia pun langsung menatap ke arah Rio. Dan ia mulai berpikir tentang sikap Rio tadi pagi, ia pun tidak mengatakan apa-apa. Tetapi ia terus menatap Rio, dan sebenarnya ia ingin mempertanyakan tentang kisah Rio dan juga Tina.
Tiba-tiba saja cahaya datang, ia pun langsung menarik tangan Wildan. Kemudian ia menceritakan apa yang sempat ia dengar tentang percakapan Hana dan juga teman-temannya, sontak saja Wildan kaget. Dan ia pun mulai berpikir, karena sudah mengetahui situasinya. Ia tidak bisa menggunakan cara biasa, karena akan sangat sulit.
Sebenarnya ia sudah mengetahui tentang kesulitan Hana, karena ia sudah menyadarinya kemarin. Di saat mereka sedang bersama di taman, dan Hana tiba-tiba saja hanyut dalam lamunan. Mungkin pada saat itu Hana juga sedang memikirkan kisah kehidupannya, yang tidak jauh berbeda dengan kehidupannya. Itulah yang berada di dalam benak Wildan.
" Makasih ya cahaya, ini adalah info yang sangat bermanfaat." ucapnya dengan mengacungkan jempol.
" Iya dong, lagian apa sih nggak aku lakukan buat sahabat aku." ucapnya dengan tersenyum kemudian pergi meninggalkan Wildan.
" Ye ini anak, sikapnya nggak pernah berubah. Selalu aja ninggalin, padahal belum siap ngomong." ucapnya dengan menatap ke arah kepergian Cahaya.
Wildan pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke sekretariat, tetapi tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya. Ia yang kaget pun berbalik dan menghadap kepada orang itu, dan alangkah kagetnya ia ketika melihat wajah orang tersebut.
" Hana." ucapnya kaget.
" Iya ini aku Kak, Kenapa Kakak kaget gitu?" tanyanya yang melihat ekspresi Wildan.
" Ya kagetlah, tiba-tiba aja ada yang jemput pundak aku. Tanpa suara gitu, untung aja manusia." ucapnya yang keceplosan dan kemudian menutup mulutnya.
" Ya ampun Kak, masih siang gini mana mungkin." jawabannya dengan menggelengkan kepalanya.
" Ya kan siapa." ucapnya dengan merasa.
" Ya ampun Kak Wildan, hal itu mustahil." jawabnya dengan menggelengkan.
" Iya-iya maaf, Oh iya ngomong-ngomong kau ngapain kesini?" tanyanya yang penasaran, kemudian sorot matanya melirik ke arah kantong plastik yang tengah dipegang oleh Hana.
" Oh soal itu ya, aku cuma mau ngasih ini buat kakak." ucapnya dengan tersenyum.
" Apa ini?" katanya Wildan yang penasaran.
" Oh ini bekal buatan Bunda aku, dimakan ya Kak!" ucapnya kemudian pergi meninggalkan Wildan.
__ADS_1
" Ternyata nggak cuma Cahaya aja yang tukang main kabur, eh rupanya Si Hana juga. Uda deh mending aku masuk, entah kenapa mencium aroma masakan ini aku menjadi lapar." ucapnya yang memperhatikan Hana kemudian segera berbalik menuju ke sekretariat.