Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 69


__ADS_3

" Hiks, hiks…ini memang hal yang berat." ucapnya dan Wildan pun langsung memeluknya dengan erat.


" Kau tenang saja ya, aku ada di sini untuk melindungimu." ucap Wildan dengan mengelus kepala Intan.


" Tapi aku masih takut, mereka sangat menyeramkan." ucapnya dengan mengingat wajah orang yang menyerangnya tadi pagi.


" Kau tidak perlu memikirkan tentang mereka lagi, kini ada aku yang melindungimu. Aku akan selalu berusaha di sampingmu, agar tidak ada yang mengganggu dirimu." ucap Wildan dan Intan pun tersenyum.


Tiba-tiba saja senyum itu pun memudar, Wildan pun menyadari hal tersebut. Ia pun segera menanyakannya, karena ia takut kalau Intan sedang memikirkan hal yang sulit.


" Kau kenapa?" tanya Wildan dengan memegang pipi Intan.


" Aku tidak apa-apa kok." jawabnya yang justru membuat Wildan tambah cemas.


" Tolong beritahu aku, jangan membuat aku khawatir." ucapnya yang langsung memeluk Intan.


" Sebenarnya aku sedang bingung, dan aku tidak tahu harus berbicara bagaimana dengan kakak." jelasnya dan wildan pun segera melepas pelukannya kemudian menatap mata Intan.


" Katakan saja padaku, kau tidak perlu banyak berpikir. Aku akan melakukannya, bila itu memang bisa membuatmu tenang." jelas Wildan dengan sangat serius.


" Sebenarnya, aku dijodohkan oleh keluargaku kak. Dan aku berusaha untuk menentang itu, tetapi itu adalah hal yang sulit…" ucap Intan yang belum terselesaikan tetapi Wildan langsung memeluknya.


" Kenapa kau tidak bilang dari awal, aku tidak mau kehilanganmu Intan. Pertemuan denganmu, telah mengajarkanku mengenal namanya cinta." jelas Wildan.


" Maksud kakak, kakak telah jatuh hati padaku?" tanya Intan dan Wildan pun hanya mengangguk.


" Iya benar, dan aku tidak ingin kehilanganmu. Jadi apa rencanamu, aku akan membantumu agar aku tidak kehilanganmu." ucap Wildan.


" Terima kasih kak." ucapnya yang langsung memeluk Wildan, dan tanpa dengan sungkan Wildan pun membalas pelukan tersebut.


" Kau tidak perlu berterima kasih, justru aku yang harus berterima kasih. Karena kau telah mengajarkanku artinya cinta, dan membuatku tidak ingin kehilangan dirimu." jelas Wildan dengan mengelus kepala Intan.

__ADS_1


" Hanya ada satu cara untuk membatalkan perjodohan ini, yaitu dengan membawa kakak pulang ke rumah. Tetapi, apakah kakak sanggup bertemu dengan ayahku. Padahal kita baru kenal sebentar, tapi dengan semena-menanya aku justru meminta kakak untuk bertemu dengan ayahku." jelas Intan yang merasa tidak enak.


" Aku tidak masalah bertemu dengan ayahmu, semakin cepat semakin baik. Dan ini adalah jalan yang terbaik, karena bila aku terlambat maka aku akan kehilangan dirimu untuk selamanya." ucap Wildan dengan mengelus kepala Intan.


" Terima kasih kak." ucapnya kemudian langsung memeluk Wildan.


" It's manggilnya jangan kakak dong, kita kan udah pacaran. Jadi sekarang panggilnya sayang ya." ucap Wildan dan membuat Intan tersipu malu kemudian menyembunyikan wajahnya yang merah di dalam dada Wildan.


" Kamu malu ya." goda Wildan.


" Apaan sih kakak." ucapnya yang masih enggan.


" Kakak, perasaan di sini nggak ada orang asing deh sayang." ucap Wildan yang sengaja menggoda Intan.


" Ih kamu nyebelin." ucap Intan kemudian membalikan badan yang membelakangi Wildan.


" Jangan marah dong sayang." ucapnya yang kini memeluk Intan dari belakang.


" Biarin aja, ngapain juga kita pikirin mereka." ucap Wildan yang membuat Intan jadi kesal.


" Wah berita bagus tuh." ucap salah satu anggota pers mahasiswa yang baru saja lewat.


" Iya benar, ayo cepat ambil fotonya." ucap rekannya yang satu lagi kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.


Tiba-tiba saja bel pun berbunyi, Intan pun langsung berlari menuju kelasnya dan meninggalkan Wildan. Wildan tidak berkata apa-apa, ia hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah pacarnya tersebut. Kemudian ia segera kembali menaiki kendaraannya, dan kembali menuju fakultasnya karena ia juga ada kelas pagi ini.


Wildan kini sudah tiba di fakultasnya, ia pun langsung memasuki kelasnya. Ia pun mengikuti pembelajaran dengan sebaik mungkin, dosen tersebut menjelaskan pembelajaran dengan sangat antusias. Wildan yang sangat menyukai mata pelajaran tersebut, ia bahkan sangat aktif di dalam forum pembelajaran. Dan dosen itu menjadi senang dibuatnya, dan ia bahkan memuji Wildan.


" Kau memang sangat pintar Wildan, Ibu bangga denganmu." ucap dosen tersebut.


" Wildan memang sangat pintar, pacarnya pasti sangat bahagia." ucap salah satu temannya.

__ADS_1


" Oh iya ngomong-ngomong tentang pacar, pagi ini kan sedang heboh. Katanya Wildan mempunyai pacar anak teknik." ucap salah seorang mahasiswa.


" Ibu juga mendengar berita tersebut, apakah berita itu benar Wildan?" tanya dosen itu dan Wildan hanya tersenyum saja.


" Sepertinya tidak usah perlu ditanya lagi bu, ibu kan sudah melihat dari ekspresinya. Kalau begitu kita tunggu aja bu kapan jadinya, kami juga penasaran kira-kira kalau nanti mereka punya anak gimana ya." ucap seorang mahasiswa di belakang.


" Nggak secepat itu juga kali, lagian dia juga mahasiswa semester pertama." ucap Wildan yang keceplosan dan langsung menutup mulutnya.


" Cie yang jujur, kenalin dong ke kita-kita." ucap teman-temannya.


" Iya Wildan, yang dibilang temanmu ada benarnya juga tuh. Ibu juga penasaran dengan wajah pacarmu, kalau difoto enggak jelas. kalau kamu perkenalkan dengan kami, pasti kami akan terus mengujinya." ucap dosen tersebut.


" Ibu bisa aja, nanti dia jadi malu Bu." jawab Wildan yang jujur.


" Hahaha, baru kali ini saya melihatmu seperti ini. Cewek itu memang ya, si cowok es batu bisa luluh. Dia sangat hebat, tapi kira-kira cara dia gimana ya. Bisa dong di spilis dikit, ibu penasaran ini." ucap dosen itu yang menggoda Wildan.


Tiba-tiba saja bel pun berbunyi, dan mereka pun siap berhambur keluar kelas.


" Baik pembelajaran kita sampai di sini dulu, kita akan sambung di pertemuan berikutnya." ucap dosen tersebut kemudian langsung keluar kelas.


Semua mahasiswa dan mahasiswa itu pun segera keluar kelas, ada beberapa yang pergi ke kantin dan juga ada yang pulang. Karena hari ini hanya ada satu mata kuliah saja, Wildan pun segera menuju sekretariat presiden mahasiswa. Dan di sana ia bertemu dengan Tina, Tina kini tengah sibuk dengan pembelajarannya.


" Tina, kau sedang apa?" tanyanya ketika melihat Tina.


" Aku sudah mengerjakan tugas nih, sungguh aku tidak mengerti dengan pembelajaran ini." jelas Tina yang memang tidak mengerti.


" Ya udah sini aku bantuin, siapa tahu aku bisa." ucap Wildan yang kemudian langsung mendekati Tina dan melihat tugas Tina.


" Ya ampun Tina, tugas semudah ini pun kau tidak bisa mengerjakannya." ucap Wildan dengan menggelengkan kepalanya.


" Hehehe, aku tidak mengerti." Jawa Tina dengan tertawa.

__ADS_1


" Kapan ini akan dikumpul?" tanya Wildan untuk memastikan.


__ADS_2