
" Padahal itu sudah sangat jelas." jawab Rio dengan menggelengkan kepalanya.
" Jelas gimana?" tanyanya yang masih belum mengerti.
" Ya ampun Wildan, kenapa kau buat aku emosi." ucapnya yang sudah kesal.
" Nggak ada buat kau emosi, coba jelaskan dulu padaku." ucap Wildan.
" Apa yang kau rasakan itu namanya jatuh cinta, dan aku yakin ini baru pertama kali kau rasakan. Karena waktu kau awal bertemu dengan Hana, kau tidak ada mengatakan jantungmu berdebar. Kau hanya bilang seperti sudah sangat akrab, dan ya memang benar kau sangat akrab dengan Hana karena dia adalah adikmu." jelas Rio.
" Oh jadi ini yang namanya jatuh cinta, rasanya sungguh sangat berbeda." jawab Wildan dengan tersenyum.
" Tentu sangat berbeda, karena kau kan belum pernah merasakannya. Lalu bagaimana, apakah kau sudah memiliki rencana untuk mendekatinya?" tanya Rio untuk memastikan.
" Sebenarnya tadi aku sempat mengatakan kepada temannya kalau aku dan dia sudah pacaran." jelasnya dan membuat Rio tersenyum.
" Gercep juga kau, tapi kenapa kamu mengatakan seperti itu kepada temannya?" tanya Rio yang penasaran.
" Sebenarnya aku dan dia memiliki sebuah rahasia, karena itu tadi dengan seventeen aku mengatakan hal itu. Agar temannya tidak menggali rahasia tersebut, karena itu bisa fatal akibatnya." jelas Wildan dan membuat Rio penasaran.
" Rahasia apa, aku boleh tahu apa nggak?" tanya Rio.
" Karena kau sudah mengetahuinya sejak awal, maka aku akan memberitahumu." ucapnya.
" Eh tunggu, kau bilang aku sudah mengetahuinya sejak awal. Emangnya apa yang kau ketahui?" tanyanya yang tambah penasaran.
" Sebenarnya, cewek yang kuceritakan ini. Ia adalah adik sepupu dari Anas, dan kami juga memiliki rahasia itu semua atas permintaan Anas." jelas Wildan dan membuat Rio.
" Aku baru tahu kalau Anas punya adik sepupu, tapi tidak masalah. Yang terpenting bagiku adalah sahabatku dapat bahagia, karena aku tidak bisa memberikan apa-apa kepadamu aku hanya ingin melihat kau selalu berbahagia." ucap Rio.
" Amin, doain ya kebohonganku tadi menjadi kebenaran." ucapnya dengan tersenyum.
__ADS_1
" Tenang aja aku akan doain, tapi aku jadi penasaran deh dengan wajah perempuan itu." ucap Rio dengan mengedipkan matanya.
" Ya udah kau ikut aku aja, kebetulan nanti siang aku mau jemput dia. Karena aku ingin bertemu dengan Anas, dan membahas rencana selanjutnya." jelas Wildan dan Rio pun tersenyum.
" Nah ini yang sangat kutunggu, tapi aku ikut melihat dia aja ya. Kalau untuk membahas rencana selanjutnya aku nggak bisa ikut, biasalah aku ada rencana dengan Tina." ucap Rio dengan menyinggung bahwa Wildan.
" Iyalah yang lagi pacaran, pastinya ingin selalu bareng." ucap Wildan dengan mengedipkan matanya.
" Sebentar lagi kau juga akan seperti itu, dan mungkin kau akan lebih parah dariku." jelas Rio.
" Kalau begitu aku akan sangat menantikannya, aku sangat ingin merasakan apa yang namanya bucin. Biasanya aku cuma meledekin saja, tapi kali ini aku ingin merasakannya. Apakah seindah yang kau bilang, atau itu hanya omong kosong saja." jelas Wildan.
" Aku tidak pernah berbohong ya, apa yang kukatakan itu adalah kejujuran. Dan aku berharap kau akan segera melakukannya, dan kau bisa merasakannya sendiri. Seperti apa yang namanya bucin, dan kau tidak akan berani meledek diriku lagi." jelas Rio yang sangat menantikannya.
...----------------...
Gina kini sudah sangat kesal, hari ini ia sudah dikerjai oleh orang yang tidak dia kenal. Dan hal itu membuat bajunya kotor, dan akhirnya ia pun pulang lebih awal. Karena ia tidak ingin penampilannya yang acak-acakan itu dilihat oleh Dafa, dan akan membuat Dafa ilfil kepada dirinya.
" Lihat itu si Gina, sepertinya ia terkena azab." ucap seorang mahasiswi yang melihatnya.
" Eh kalau ngomong jangan sembarangan ya, anak sebaik dan secantik aku kena azab. Itu semua nggak mungkin, yang ada itu kalian yang suka ngomongin aku yang kena azab." ucapnya.
" Idih merasa jadi paling baik." ucap mahasiswi lain yang mendengarnya.
" Emang gue yang paling baik kok." ucapnya dengan tersenyum sombong.
" Sudahlah, percuma saja kau berbicara dengan dirinya. Toh dia selalu merasa yang paling baik, padahal yang paling baik adalah Hana. Dan aku tidak menyangka, bisa-bisanya hanya bisa saudaraan dengan dirinya." ucap mahasiswa itu kemudian pergi.
...----------------...
" Beb kita mau makan apa?" tanya Cahaya kepada Faldo yang kini baru saja tiba di kantin.
__ADS_1
" Kamu kepinginnya apa?" tanya Faldo.
" Aku maunya mie goreng." jawab Cahaya.
" Kalau gitu itu aja, aku yakin pilihan kamu pasti enak." ucapan Faldo dan membuat beberapa orang pemuda di sana menjadi terbatuk.
" Tolong dong, kalau pacaran ingat tempat. jangan buat kami yang jomblo ini jadi obat nyamuk." ucap seorang pemuda dan Faldo hanya tersenyum saja.
" Eh maaf, apa Kita pindah aja ya?" ucap Cahaya dengan mata berkaca-kaca menatap Faldo.
" Eh nggak gitu Cahaya, kalian duduk aja. Nggak papa kok kami jadi obat nyamuk, lagian sebentar lagi kami juga udah selesai." ucap seorang pemuda dan mendapat tatapan dari teman-temannya.
" Beneran, aku nggak enak lho sama kalian." ucap Cahaya.
" Iya nggak papa kok." jawabnya kemudian Cahaya pun duduk di meja yang yang dekat dengan mereka.
" Gerhana, apa-apaan sih kau." ucap salah satu temannya yang kasar.
" Kalian apa nggak lihat surat mata Faldo." ucap Gerhana.
" Alah nggak usah nambah-nambahin deh, kau bilang aja kalau masih suka sama Cahaya. Pakai beralasan dengan Faldo, kalau kayak gini kan kan yang anak harus jadi obat nyamuk." ucap salah satu dari mereka.
" Yang dikatakan sama Gerhana benar, tadi sorek mata Faldo memang sangat menyeramkan. Bisa saja akan terjadi sesuatu yang aneh pada kita, kalian kan tahu Faldo itu bucin akut." jelas Juan, dan mereka pun langsung merinding.
" Ya udah kalau gitu cepat kita habiskan makanannya, kemudian kita segera pergi dari sini." ucap Reza yang sudah merasa ketakutan.
Mereka pun segera menghabiskan makanan mereka, setelah itu mereka pergi meninggalkan kantin. Dan kini mereka duduk di bawah DPR, Mereka melihat mahasiswa dan mahasiswi yang sedang berlalu lalang. Tiba-tiba saja mereka melihat motor Wildan dan juga Rio yang lewat, mereka berdua menjadi sangat penasaran dan akhirnya mengikuti keduanya.
" Bukannya itu motornya Wildan dan juga Rio ya." ucap Gerhana dengan menunjuk ke arah keduanya.
" Oh iya benar, kalau gitu kita ikuti yuk." ajak Juan kepada teman-temannya.
__ADS_1