Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 31


__ADS_3

Keesokan paginya, Hana terbangun dengan tenang. Karena beban yang ia pikirkan sedikit menghilang, setelah ia bercerita dengan Chika sahabatnya. Kemudian ia melakukan rutinitas seperti biasa dan berangkat ke kampus.


Hari ini suasana hati Hana sudah mulai membaik, hal itu dapat terlihat dari wajahnya yang dipenuhi dengan senyuman. Dafa dan Gina yang melihat Hana mereka juga merasakan terasa sangat hati Hana sudah membaik, mereka pun menghampirinya dan mencoba mencari tahu apa alasan dari Hana meurung semalam.


" Hai Hana, bagaimana keadaanmu?" tanya Daffa yang baru saja tiba.


" Aku baik-baik saja, memangnya kenapa denganku?" tanya aja nggak usah heran.


" Semalam kan kau murung, jadi Kami khawatir." ucapnya dengan kebingungan.


" Oh soal itu, iya aku semalam memang lagi tidak enak hati. Tapi sekarang aku sudah baik-baik saja kok, jadi kalian gak usah khawatir." jelasnya.


" Syukurlah kalau begitu, kami jadi tenang." ucap Gina dengan melawan napas.


" Ya ampun, nggak usah sampai segitunya juga kali." ucapannya dengan menyebut pundak Gina, kemudian pergi meninggalkan mereka.


Keduanya merasa heran dengan sikap Hana, tetapi mereka tidak berani bertindak sendiri. Kini mereka semakin membulatkan niatnya untuk bertanya kepada Wildan, tentang mengapa sikap anak bisa berubah. Hana yang mereka kenal tampak seperti Hana yang berbeda, Hana yang tidak banyak omong dan selalu mempertimbangkan ucapannya. Kini berubah menjadi anak yang asal bicara, dan tidak memperhatikan pola kata bicaranya.


Keduanya langsung berlari ke arah sekretariat presiden mahasiswa, dan mereka sungguh bersyukur karena bertemu dengan Wildan. Mereka langsung melihat ke arah sekitar, dan kemudian menatap Wildan dengan serius.


" Ke Wildan Ada yang ingin kami tanyakan." ucap Dafa dengan menata Wildan.


Wildan tampak santai, dan dia sudah menebak kalau kedua teman dari Hana pasti akan datang menemuinya. Ia langsung membawa Dafa dan Gina ke dalam sekretariat presiden mahasiswa, dan di situlah mereka memulai perbincangan mengenai Hana. Keduanya pun menceritakan tentang kejadian kemarin, yang di mana saat itu Hana terus saja termenung.

__ADS_1


Tetapi sikap anak hari ini justru tambah membuat mereka terheran, Hana yang mereka lihat hari ini sangat jauh berbeda dengan Hana yang mereka kenal. Karena itu mereka memutuskan untuk bertemu dengan Wildan, Wildan kini belum ada bersuara sama sekali. Ia masih menanti ucapan dari Dafa dan Gina yang menceritakan tentang Hana, Dan kini ia harus menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang kakak.


" Syukurlah kalau hari ini dia telah tersenyum." ucap Wildan dengan tersenyum.


" Tapi dia tampak aneh Kak." ucap Dafa yang sambil memikirkan tingkah dari Hana tadi.


" Kalian tenang saja ya, perlahan-lahan sikap Hana pasti akan kembali seperti semula. Mungkin saja kini ia masih belum menerima kenyataan yang baru saja ia dapat." ucap Wildan dan sontak saja keduanya merasa heran.


" Maksud dari Kak Wildan apa ya?" tanya keduanya serentak.


" Kalau untuk itu aku tidak bisa bercerita, mungkin kalian bisa bertanya kepada Hana untuk lebih jelasnya." ucap Wildan dan membuat keduanya tambah penasaran.


" Nggak usah main rahasia-rahasiaan deh Kak, jujur kami jadi penasaran nih loh." ujar Dafa dengan menatap Wildan sangat tajam.


" Ya sudah kalau begitu kak, terima kasih kalau sudah mau mendengarkan kami. Dan kami akan bertanya kepada Hana tentang kejelasannya, agar hubungan kami dan juga hubungan kakak dan Hana tidak akan renggang." ucap Dafa kemudian pergi meninggalkan sekretariat presiden mahasiswa.


Mereka pun langsung pergi menuju ruangan kelas, kini pandangan mereka langsung tertuju ke arah Hana. Mana yang menurut mereka memiliki sifat yang berbeda dari biasanya, walaupun sifatnya kini bagus karena lebih ceria. Tetapi sikapnya kini berubah menjadi ceplas-ceplos, dan itu sangat berbeda dari Hana yang mereka kenal.


Mereka pun menghampiri Hana, mereka langsung duduk duduk di sebelah Hana. Kemudian mereka menerima pembelajaran dari dosen. Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, Hana kini tidak banyak bicara. Ia langsung keluar dari kelas.


" Ayo we." Ajaknya.


Dafa dan Gina hanya menurut saja, kemudian mereka pergi ke kantin. Karena Hana sudah merasa lapar, tiba-tiba telpon Hana berdering dan ternyata ayah yang menelpon ia. Dengan sigap ia pun segera mengangkat telepon dari sang ayah.

__ADS_1


" Halo ayah, ada apa ya?" tanyanya untuk memulai panggilan.


" Halo juga sayang, kau saat ini dimana?" ucap pak Yuda yang bukannya menjawab pertanyaan dari Hana, ia justru bertanya.


" Hana di kampus ayah, memangnya ada apa?" tanyanya yang merasa heran.


" Nggak apa-apa, ayah hanya ingin mengajak mu jalan-jalan." ucapnya dan dalam seketika Hana langsung tersenyum, karena akhirnya ia bisa merasakan jalan-jalan berdua dengan sang ayah.


" Hore, yang benar kan ayah?" tanyanya untuk memastikan kembali.


" Iya sayang, ayah mana mungkin bohong. Ayah akan jemput adek. Sekitar 30 menit ayah akan sampai di kampus adek ya." ucap sang ayah.


" Iya Ayah, adek tunggu ya." ucapnya kemudian sambungan telpon pun mati.


Dafa dan Gina masih penasaran dengan perubahan sikap Hana, dan sekarang Hana memanggil seseorang dengan sebutan ayah. Hal itu juga membuat Dafa heran, karena Dafa sudah menyelidiki tentang Hana. Dan dari data yang ia temukan, Hana adalah anak tunggal yang tinggal dengan bundanya. Walaupun ada juga yang mengajarkan, Hana adalah korban blog in home.


Dafa masih sulit untuk mencerna perkataan Hana, lain dengan Gina yang tidak tau menahu. Dan ia pun langsung memeluk Hana. Ia yang melihat wajah gembira itu juga menjadi gembira, Gina memang aneh. Tetapi keanehannya selalu bisa membuat mereka tertawa.


" Cie yang mau di jemput sama ayahnya, pasti senang banget." goda Gina, dan Hana pun tersenyum dengan lebar.


" Apaan sih kau Gina." balasnya.


" Hala nggak usah bohong, orang terlihat dari wajahmu kalau kau lagi sangat bahagia." ucap Gina dengan menyenggol badan Hana.

__ADS_1


" Dasar kau ya Gina, nta kenapa aku bisa berteman dengan mu. Padahal kau selalu buat aku emosi, karena tingkah mu itu. Tapi jujur tingkah mu, membuat aku juga merasa nyaman. Dan selalu membuat tawa keluar dari mulutku, dan membuat perutku sakit. Terkadang aku berpikir, kau ini manusia atau malaikat yang dikirimkan oleh sang pencinta untuk menghiburku dikala aku sedang bersedih." ucapnya dengan meneteskan airmata, sontak saja Gina langsung memeluk Hana. Walaupun ia merasa Hana saat ini aneh, tetapi ia tidak masalah selagi Hana masih mau berteman dengannya.


__ADS_2