Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 23


__ADS_3

" Apa itu Dan?" tanya Rio yang penasaran.


" Oh ini, ini makanan dari Hana." ucapnya dengan menunjukkan tong plastik tersebut.


" Wah-wah wah makin dekat aja nih." ledek Rio dengan mengedipkan sebelah matanya.


" Apaan sih, kebetulan aja mungkin." jawabnya dengan tersipu malu.


" Kebetulan apa kebetulan?" tanyanya dengan menyenggol bahu Wildan.


" Kebetulan, uda puas. Uda ayo makan, kalau nggak mau biar aku aja yang makan sendiri." ucapnya kemudian duduk di salah satu meja.


" Eh iya maaf, jangan marah dong. Aku kan juga mau nyobain." ucapnya dengan mengejar Wildan, kemudian duduk di sebelah Wildan.


Mereka berdua pun langsung membuka bungkusan tersebut, perlahan-lahan mereka mulai menyantap hidangan itu. Wildan pun menyantapnya dengan perlahan, ketika satu suapan sudah masuk ke dalam mulutnya. Dia merasakan rasa yang tidak asing, dan dalam sekejap air matanya pun menetes. Sontak saja Rio pun ikut kaget, ia menjadi khawatir dengan sikap sahabatnya itu.


" Wildan ada apa, jangan buat khawatir?" tanyanya yang cemas.


" Rasa masakan ini…" ucapnya yang terhenti namun tetesan air matanya tetap mengalir.


" Ada apa dengan rasanya, jangan buat panik." tanyanya kembali.


" Rasanya sama…seperti masakan bundaku." jawabnya dengan tetesan yang masih terus turun.


" Yang benar, Apa jangan-jangan tebakanmu itu benar." ucap Rio mengingatkan apa yang pernah dikatakan oleh Wildan sebelumnya.


" Ntahlah Rio, tapi aku menjadi ingin bertemu dengan Bundanya Hana." ucapnya dengan antusias, karena ia sudah sangat merindukan bundanya.


" Kalau gitu sekarang kita temuin Hana!" ajak Rio dengan menggenggam tangan Wildan, tetapi Wildan tidak kunjung bergerak dari tempat duduknya. Rio pun menjadi menatapnya dengan serius, ia tidak tahu apa yang sedang ada di dalam pikiran sahabatnya itu.

__ADS_1


" Kita tidak bisa menemuinya sekarang, hari ini adalah hari pertamanya memasuki bangku perkuliahan. Dan pastinya ia sangat sibuk, dan pastinya kita juga akan dimarahi oleh dosennya." jelas Wildan dan mendapat angkutan dari Rio.


" Yang kau bilang benar, lalu kapan kita akan menemuinya?" tanyanya yang antusias.


" Nanti saat jam pulang kampus, mudah-mudahan aja kita ketemu dia ya." ucapnya dengan percaya diri.


" Kalau kita nggak ketemu gimana?" tanya Rio.


" Ya tunggu sampai ketemu." jawabnya yang tidak pasti.


" Kalau begitu nggak pasti dong, dan itu pastinya akan sangat lama." ucap Rio yang kesal.


" Ya mau gimana lagi, yang penting kan kita masih tetap bisa bertemu. Ya memang sih, masih belum tahu kapan. Tapi setidaknya kemungkinan itu tidak berkurang, karena kita kan masih satu kampus." jelas Wildan dan membuat Rio menggunakan kepalanya.


" Ya udah deh terserahmu, Aku udah capek. Mending sekarang kita makan, kita bahas nanti aja. Kalau kita bahas sekarang, nanti nafsu makanku bisa hilang." jelas Rio dan wildan hanya tertawa saja.


" Hana Kau dari mana saja?" tanya Gina yang kesal karena temannya baru muncul.


" Iya maaf tadi ada urusan sebentar." jawabnya dengan lembut.


" Ya udah deh nggak usah dibahas lagi, ayo sekarang kita cek di mading. Karena hari ini adalah pengumuman pembagian kelas, mudah-mudahan aja kita satu kelas." jelas Dina dan ingin menarik Hana.


Saat mereka hendak menuju mading (majalah dinding), tiba-tiba saja mereka berselisihan dengan Dafa. Dafa pun menghentikan keduanya, sontak keduanya menjadi kesal. Kemudian Dafa menanyakan, kemana arah dan tujuan Gina dan juga Hana.


" Kalian mau ke mana?" tanyanya yang berdiri di hadapan Gina dan juga Hana.


" Kami mau ke mading." jawab Gina.


" Mau lihat masuk ke kelas mana ya?" tanyanya dan di jawab dengan anggukan.

__ADS_1


" Udah nggak usah lihat ke sana, tadi udah aku foto. Dan kebetulan kita satu kelas kok, jadi sekarang mending kita langsung menuju kelas." ajak Dafa dengan menggandeng kedua tangan Hana dan juga Gina.


Keduanya hanya pasrah saja, Daffa dengan perlahan membawa keduanya ke dalam ruangan. Dan kini ruangan itu sudah sangat penuh, bahkan juga sudah ada dosen yang menunggu untuk mengajarkan mereka. Melihat ruangan yang sudah penuh dan juga ada dosen, awalnya mereka enggan untuk masuk. Tetapi tiba-tiba saja dosen itu memanggil, dan memerintahkan mereka untuk masuk.


Daffa yang menyadari, kalau kedua temannya itu merasa tidak nyaman karena ditatap oleh dosen tersebut. Ia pun akhirnya memberi pertanyaan kepada dosen itu, agar dosen itu mengalihkan pandangannya dari kedua sahabatnya itu.


" Pak kami kan terlambat masuk tadi, jadi kami belum tahu nama bapak. Bisakah diulangi Pak?" tanyanya dengan tatapan sinis.


" Oke saya akan mengulangi Nama saya, nama saya Gilang Anthony. Saya sering dipanggil dengan nama pak Gilang." jelas Pak Gilang, dengan masih memandang Hana dan juga Gina.


Pembelajaran terus berlanjut, walaupun Hana dan Gina merasa tidak nyaman dengan tatapan dosen tersebut. Tak terasa jam pembelajaran pun selesai, semuanya satu demi satu pun keluar dari ruangan itu. Dafa yang merasa kalau dosen itu masih memperhatikan Hana dan juga Gina, ia pun menggandeng tangan Hana dan Gina.


Hana dan Gina awalnya merasa kesal dengan tingkah Dafa, tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Karena apa yang dilakukan oleh Dafa adalah untuk melindungi mereka, jujur saja mereka tidak nyaman dengan sikap dosen itu. Dan membuat mereka menjadi malas untuk masuk mata kuliah itu, tetapi itu tidak mungkin karena mereka masih awal masuk dan mereka tidak ingin membuat masalah yang akan berpengaruh suatu saat nantinya.


Mereka bertiga berkumpul di bawah DPR seperti biasa, dan membicarakan tentang sikap pak Gilang yang membuat mereka resah. Dafa tidak bisa membantu banyak hal, tetapi ia akan terus berusaha untuk melindungi kedua sahabatnya itu. Tiba-tiba saja ada seorang yang berasal dari kelas mereka tadi, ia dengan tidak sopannya menghina Hana dan Gina.


" Jadi cewek, harus tau diri dong." ucapnya dengan menatap ke arah Hana dan Gina.


" Eh, kau sedang ngomongin siapa." ucap Dafa yang emosi, dan langsung menemui wanita itu.


" Ya teman mu la, ganjen banget." ucapnya sambil melihat Hana dan Gina.


" Kalau ngomong jangan sembarangan ya, teman-teman aku nggak kayak gitu." bentak Dafa membela Hana dan Gina.


" Hala, nggak usa banyak omong deh. Lagian kalau mereka nggak ganjen, mana mungkin mereka mau berteman sama mu." ucap wanita itu.


Dafa tampak sangat kesal, dan ia ingin memukul wanita itu. Untungnya sebelum pukulannya mendarat di wanita itu, Hana dan Gina langsung menghentikan Dafa. Wanita itu langsung melarikan diri, karena ia takut akan mendapatkan serangan kembali.


" Hei, jangan kabur. Uda ngatain orang, bukannya minta maaf, eh malah kabur." ucapnya dengan berteriak, dan ia pun menjadi pusat perhatian. Bukan hanya mereka saja yang di lihatin tetapi wanita yang berlari itu juga.

__ADS_1


__ADS_2