Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 36


__ADS_3

" Hai calon adik ipar." sapa Wildan dengan memeluk Dafa.


" Wildan kenapa kau panggil dia adik ipar, seharusnya kau marah karena ia mengambil gebetan mu." ucap seorang mahasiswa.


" Apa maksud mu, siapa gebetan ku?" tanya Wildan, dan semua mahasiswa yang ada pun kaget.


" Ya Hana la, siap lagi." ucap mahasiswa itu kembali.


Wildan tidak menjawab pertanyaan mahasiswa itu, ia hanya tertawa saja mendengar ucapan mahasiswa itu.


" Bungsu, gimana ini kita di kira pacaran. Nanti kau yang enak sudah ada pacar, eh malah kakak mu ini yang jadi bujang lapuk." ucap Wildan dan membuat semua mahasiswa dan mahasiswi yang ada menjadi kaget.


" Apa maksud mu Wildan?" tanya mahasiswa itu.


" Kau punya adik satu ayah dan ibu nggak?" tanya Wildan.


" Punya, terus apa hubungannya dengan kau dan Hana?" tanya mahasiswa itu.


" Kau bisa menikah dengannya tidak?" tanyanya kembali.


" Ya tentu aja nggak la, kan kami saudara kandung." jawab mahasiswa itu.


" Nah itu kau tau, begitu aku dan Hana. Kamu kakak adik kandung." jelas Wildan dan membuatnya semuanya kaget.


" Ha, kau sedang bercanda kan Wildan?" tanya seseorang yang baru saja muncul.


Belum sempat Wildan menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba saja bel berbunyi. Semua mahasiswa dan mahasiswi pun pergi menuju kelasnya, karena jam pembelajaran sudah di mulai. Dan mereka juga tidak ingin terlibat masalah Wildan dan juga Hana yang selalu menjadi perbincangan.


" Sorry Faldo, aku ceritanya nanti aja ya. Sekarang sudah waktunya untuk masuk kelas." jelas Wildan dan langsung pergi meninggalkan Faldo.


" Sebenarnya apa sih yang terjadi, aku jadi penasaran." ucapnya dengan memandang kepergian Wildan.

__ADS_1


Mereka pun langsung pergi menuju kelasnya masing-masing, begitu juga dengan Faldo. Ia lebih memilih masuk, dan akan mempertanyakannya nanti setelah jam pelajaran selesai. Faldo sedang belajar di ruangannya, tetapi pikirannya masih memikirkan apa yang sempat dikatakan oleh Wildan tadi. Ia terus aja mengingat itu, hingga ia tidak memperhatikan pelajaran dengan baik.


Bel pun akhirnya berbunyi, kini Faldo langsung pergi menuju sekretariat presiden mahasiswa. Karena ia sudah sangat penasaran, dengan apa yang dikatakan oleh Wildan tadi pagi. Akhirnya, Faldo pun bertemu dengan Wildan, walaupun ia harus menunggu kedatangan Wildan. Ia langsung menarik Wildan, dan menanyakan apa yang membuat ia penasaran sejak tadi pagi.


" Wil, aku sudah sangat penasaran ni. Sebenarnya apa sih maksudmu tadi pagi?" tanyanya yang penasaran.


" Oh tentang itu ya, sebenarnya…gimana ya jelasinnya." ucapnya yang kebingungan dan tidak tau harus memulai dari mana.


" Uda ceritain aja, jangan buat penasaran Wil." ucapnya yang sudah sangat menantikannya.


" Sebenarnya, Hana adalah adikku." jawabnya dan membuat Faldo kaget.


" Aku nggak salah denger ni?" tanyanya yang masih dalam kebingungan.


" Nggak, dia memang adikku. Beberapa hari lalu aku sudah bertemu dengan bunda, dan bunda yang bilang kalau Hana itu adikku." jelasnya.


" Terus gimana?" tanyanya yang sedang menanti sambungan dari cerita Wildan.


" Kau kan dekat dengan Hana, dan bahkan kami juga berraut menyatukan kalian." ucapnya yang dan membuat Wildan tersentak.


" Kalau saat ini adalah beberapa hari yang lalu, aku akan sangat berterima kasih. Tapi kini aku nggak bisa bilang itu, aku hanya akan mengatakan pada kalian. Untuk menghentikan semuanya, karena percuma saja. Karena itu semua akan percuma." jelasnya dan mendapatkan anggukan.


" Ya sudah, ya sabar ya Wil. Aku minta maaf ya, aku nggak tau. Aku dan anak-anak akan menghentikan misi kami." jawabnya dengan mengelus pundak Wildan.


" Kalian nggak salah kok, ini semua bisa terjadi karena ketidak saling tahuan di antara kami. Sepertinya yang sudah pernah ku bilang, aku sudah lama berpisah dengan adik ku. Jadi wajar aja sih hal ini terjadi, ya walaupun menyakitkan." ucapnya.


...----------------...


Tak terasa waktu pulang kampus pun tidak, kini Dafa membawa Hana kerumahnya untuk di perkenalkan pada kakaknya. Ia dengar perlahan dan penuh kehati-hatian membawa motornya, karena ia takut akan terjadi sesuatu kepada dan Hana. Hana awalnya merasa heran dengan tingkah Dafa, tetapi ia berusaha untuk biasa saja.


Tak terasa, akhirnya mereka tiba di rumah Dafa. Hana sangat kaget ketika melihat rumah Dafa, ia tidak menyangka kalau Dafa ternyata adalah anak orang berbeda. Dan Dafa tidak pernah cerita padanya, kini Hana menjadi takut. Ia takut berasakan sesuatu hal yang pernah ia lihat di film, yang menceritakan hubungan beda status sosial. Dan ia akan di usir oleh keluarga Dafa, karena ia hanyalah orang biasa.

__ADS_1


" Dafa, ini beneran rumahmu?" tanyanya untuk memastikan, dan terus membayangkan hal-hal yang mungkin akan menimpanya.


" Iya ini rumah ku, ayo masuk." ajak Dafa dengan menggenggam tangan Hana.


" Ta-tapi.…" ucapnya yang terhenti karena ia merasa takut.


" Uda tenang aja, kakakku baik kok. Jadi nggak usa takut, lagian kan ada aku." ucapnya dengan tersenyum, dan langsung membawa Hana masuk kerumahnya.


Sesampainya di dalam, Dafa dan Hana langsung di persilahkan untuk duduk di sofa ruang utama. Kemudian pembantu itu langsung memanggil Bayu dan juga kedua orang tua Dafa, Dafa awalnya mengira hanya Bayu saja yang akan muncul. Tetapi ia tidak menyangka kalau ternyata sang Abi dan ummi sudah pulang, dan hal itu membuat ia menjadi berdebar.


" Hai sayang sudah pulang, dia siapa?" tanya ummi pura-pura tidak tau.


" Eh uda pulang, mana pacarmu kakak mau lihat." ucap Bayu yang baru saja muncul.


" Loh jadi dia pacar kau." ucap ummi, kemudian langsung menghampiri Hana.


" Hadu, kenapa bisa ada ummi. Jangan-jangan Abi juga ada di rumah." batin Dafa, dan benar saja Abi pun turun dari lantai dua.


" Wah cantik banget." batin Bayu dengan menatap Hana.


" Ummi, tolong jangan buat Hana gugup. Dan kenapa Abi sama ummi di rumah, bukannya baru akan pulang Minggu depan ya?" tanyanya yang penasaran.


" Takut, memang dia ummi makan. Dan kau Abi dan ummi pulang bukannya senang, ini malah seperti tidak senang." ucap ummi dengan menatap mata Dafa tajam.


" Eh bukan gitu ummi, Dafa cuma kaget aja Abi sama ummi uda pulang." ucapnya dengan tersenyum dan langsung berniat untuk memeluk ummi nya.


" Awas, sana kau. Ummi cuma mau sama calon menantu ummi." ucap ummi dengan menggandeng Hana.


Bayu pun dengan sigap langsung membawa Dafa pergi dari ruangan itu, ia tau kalau sang ummi pastinya akan mengintrogasi pacar Dafa. Dan hal itu sudah terlihat dari sorot matanya.


" Nama mu siapa nak?" tanya ummi dengan ramah dan membuat Hana merinding.

__ADS_1


__ADS_2