
" Kakak kenapa?" tanyanya.
" Kakak lagi bingung dek." jawabnya.
" Bingung kenapa kak?" tanyanya kembali.
" Bingung, mau magang dimana." ucapnya pasrah.
" Oh tentang itu rupanya." ucapnya.
" Adek kok santai, apa jangan-jangan adek punya rekomendasi tempat?" tanyanya.
" Nggak." jawabnya dengan menggelengkan kepalanya.
" Adek…" ucap yang sambil mencubit pipi Hana.
" Loh Adek kok dicubit Kak, memangnya adek salah apa?" tanyanya yang belum merasa tidak bersalah.
" Adek uda buat kakak kesal." jawabnya jujur.
" Orang memang adek nggak tau, jadi harus apa." ucapnya.
" Yauda lah dek, adek bawak apa itu?" ucapnya dengan menunjukkan ke arah kantong plastik yang di bawah oleh Hana.
" Oh ini, kakak mau?" tanyanya, dan Wildan hanya mengangguk.
" Yauda ini buat kakak, kalau gitu adek pergi dulu ya." ucapnya kemudian langsung pergi meninggalkan Wildan.
" Tampaknya enak." ucapnya dengan tersenyum dan menatap ke arah kepergian Hana.
Wildan pun segera masuk ke dalam sekretariat, ia pun langsung membuka bekal yang diberikan oleh Hana. Ia tampak sangat tergiur dengan makanan itu, dan ia pun menyantapnya dengan lahap. Tiba-tiba saja Rio pun muncul, dan ia mengganggu acara makan Wildan.
" Wah enaknya yang lagi makan, dapat makanan dari mana?" tanyanya yang langsung merusuh dan mengambil sendok dari tangan Wildan.
" Kamu ya Rio, ganggu aja orang lagi makan." ucapkan yang kesal.
" Habis kau makan nggak bilang-bilang, dapat rezeki nggak ngajak-ngajak." ucapnya.
" Kalau kau yang dapat makanan ini, itu baru namanya rezeki. Tapi ini kenapa yang dapat, jadi wajar dong." ucapnya dengan merebut kembali sendoknya.
__ADS_1
" Lah apa bedanya, orang sama-sama makanan?" ucapnya yang penasaran.
" Ya beda lah Rio, karena ini makanan dari adik aku." ucapnya dengan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
" Maksudmu si Hana, wah enak banget masakannya." ucapnya yang tidak percaya.
" Memang aku punya adik lain?" jawabnya dengan bertanya kembali.
" Nggak ada sih, tapi kalau kamu mau cari adik angkat aku bantuin." ucapnya dengan tersenyum.
" Nggak ah males, punya adik satu aja bingung. gimana misalnya kalau punya adik segudang." ucapnya dengan menggelengkan kepalanya.
" Kau ya Wildan, belum apa-apa sudah kau bayangkan. Gimana kalau bayanganmu tuh jauh dari eksplatasi, nanti kau malah jadi pening." ucapnya dengan menggelengkan kepalanya.
" Udahlah Rio, jangan buat masalah. Kepala aku ini udah pusing, eh ini kau malah tambah masalah." ucapnya yang kesal.
" Mikirin apa sih, sepertinya capek banget?" tanyanya dengan tampang tak berdosa.
" Pakai nanya lagi kau, ya mikirin mau magang di mana lah." ucapnya yang sudah kesal dengan Rio karena mencari masalah sejak tadi.
" Oh soal itu, nggak usah dipikirin kali. Nanti aku bilang deh sama papaku, biar kita bisa magang di tempat yang sama." ucapnya dan membuat senyum meluncur di wajah Wildan.
" Iya dong siapa dulu, Rio gitu loh." ucapnya dengan membanggakan dirinya.
" Ye dasar, dipuji dikit aja udah mulai." ucapnya dengan menggelengkan kepalanya.
" Biarin aja, yang penting aku happy." ucapnya dengan tersenyum dan merebut sendok dari tangan Wildan kembali, dan dengan sigap Ia pun melahap makanan yang ada di bekal Wildan.
" Happy sih happy, tapi nggak bakal aku juga kali diembat." ucapnya dengan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
" Maaf, habis masakan Hana enak banget." ucapnya dengan memberikan dua jempol.
" Ye dasar engkau, selalu saja begitu." Wildan pun menggelengkan kepalanya.
...----------------...
Kini Hana sudah berada di ruangan kelasnya, setelah kejadian sebelumnya. Hubungan Hana dan juga Gina menjadi renggang, mereka tidak bertegur sapa. Walaupun mereka berada di ruangan yang sama, para mahasiswa dan mahasiswi yang tidak mengetahui tentang hubungan keduanya yang sedang renggang. Mereka pun merasakan keanehan di antara keduanya, dan jujur saja hal itu membuat mereka tidak nyaman.
Keduanya tampak tidak perduli, mereka memperhatikan pembelajaran dengan sebaik mungkin. Tetapi suasana tegang di antara keduanya tidak bisa terhindarkan, bahkan dosen yang mengajar di ruangan itu juga merasakannya. Ruangan itu berubah menjadi sunyi senyap dan juga tegang, tanpa ada tawa dari keduanya..
__ADS_1
Dosen di ruangan kelas itu, merasakan hawa yang berbeda. Kemudian Ia pun mengamati sekeliling kelas, dan ia menemukan kalau dapat tidak hadir. Ia pun kemudian bertanya kepada Gina, tetapi Gina menjawab tidak tahu. Hana pun kemudian menjawab pertanyaan tersebut, dan sontak saja dosen dan juga Gina yang mengetahui kalau Dafa sedang sakit Mereka pun menjadi sangat kaget.
" Dafa sakit apa?" tanya dosen tersebut.
" Nggak tahu Bu, cuman kata umminya dia punya penyakit bawaan." ucapnya dan diangguki oleh sang dosen.
" Dafa punya penyakit bawaan, kok aku bisa nggak tahu ya." batin Gina.
" Ya udah kalau gitu, Ibu titip salam aja ya. dan juga bilang sama Dafa untuk cepat kembali ke kampus." ucap dosen tersebut, dan mendapat anggukan dari Hana.
Pembelajaran pun berlanjut kembali, kini mereka belajar dengan sangat antusias. Tanpa mereka sadari kini waktu jam pelajaran telah habis, dan ibu dosen tersebut pun keluar dari ruangannya. Hana pun segera keluar dari ruangan kelas itu, tetapi tiba-tiba saja Gina memanggilnya.
" Hana." panggilnya yang melihat Hana keluar dari kelas.
" Iya ada apa?" tanyanya dengan selembut mungkin, walaupun sebenarnya suasana hatinya sedang tidak menyenangkan.
" Dafa sakit apa?" tanyanya yang penasaran.
" Kan tadi udah aku jawab sama Bu dosen, Kalau aku nggak tahu Dafa sakit apa." ucapnya dengan jujur.
" Mendengar dari jawabanmu tadi, sepertinya kau sangat dekat dengan Dafa." ucapnya dengan ekspresi sedih.
" Aku nggak terlalu dekat kok dengan Dafa, cuma kebetulan umminya Dafa sama Bunda aku tuh temenan." jelasnya dan mendapat angkutan dari Gina.
" Oh kayak gitu." jawabnya kemudian pergi meninggalkan Hana.
" Ih dasar, tadi nanya tentang Dafa. Eh sekarang aku malah ditinggal sendirian." ucapnya yang kesal dengan menatap ke arah kepergian Gina.
Cahaya yang melihat Hana sedang kesal, ia pun menghampiri Hana untuk menenangkannya. Ia juga mengetahui penyebab dari kerenggangan hubungan Hana dan juga Gina, karena tadi malam ia sudah memaksa Dafa untuk menceritakan semuanya. Walaupun awalnya Dafa enggan untuk bercerita, tetapi akhirnya Dafa menceritakan semuanya kepada sang kakak.
" Hana." panggilnya dari kejauhan.
" Eh kak Cahaya." ucapnya dengan melihat ke arah sumber suara.
" Uda selesai belajarnya?" tanya Cahaya yang kini berada di hadapan Hana.
" Uda kak, ada apa ya?" tanyanya yang penasaran.
" Aku mau ngajak kamu ke rumah, ummi katanya kangen sama kamu." ucap Cahaya yang sebenarnya adalah kebohongan, karena sebenarnya ada maksud yang tersembunyi.
__ADS_1
Kira-kira apa ya maksud tersembunyi Cahaya?