Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 103


__ADS_3

" Halo Kak Yuprat dan Kak Deon." ucapnya dengan tersenyum.


Keduanya merasa familiar dengan senyum tersebut, mereka pun juga ikut tersenyum kemudian langsung ingin memeluk Hana. Tetapi untungnya Marcel menghentikan mereka, karena Marcel tidak ingin kalau Hana takut dan tidak ingin datang ke rumahnya lagi.


" Kalian berdua ini, mau ngapain coba mendekat?" ucap Marcell yang sedikit membentak.


" Kan dia anak angkat Papa, berarti dia juga adik kami. Kalau Kakak Adik kan wajar berpelukan, jadi nggak salah dong kalau kami mau peluk dia." jawab Deon dan Marcel pun langsung memukulnya.


" Yang kamu katakan emang tidak salah Deon, tetapi ini adalah hari pertama Hana datang ke sini. Jadi jangan berbuat tingkah yang aneh-aneh kepada dia, atau nantinya Hana tidak mau datang ke sini lagi." ucap Marcel.


" Yang Papa katakan benar juga, kalau begitu mari kita mulai saling mengenal. Dan aku harap kita bisa cocok, karena aku merasa kamu sangat familiar." jelas Deon dan Hana pun terus menatap keduanya dan entah kenapa ia juga menyukai keduanya.


" Entah kenapa aku juga merasa familiar dengan mereka, begitu juga ketika saat pertama kali aku bertemu dengan Papa. Ada apa sebenarnya ini, ketika aku bersama dengan Lucky aku tidak pernah merasakan hal seperti ini. Tetapi ketika aku bertemu dengan Papa dan juga kedua Kakaknya, aku merasa telah mengenal mereka." batinnya yang bimbang.


" Kamu sedang memikirkan apa sayang?" tanya Marcel yang menyadarkan lamunan Hana.


" Aku tadi sedang memikirkan sesuatu kok Pa, hanya saja aku belum terbiasa dengan suasana di sini." jelasnya dengan tersenyum.


" Nanti lama-lama kamu juga akan terbiasa, tadi dari Bunda kamu Papa tahu kamu sudah sarapan ya. Gimana kalau kita ngeteh di lapangan belakang, itu sih kalau kamu mau sayang." ucap Marcel dan Hana pun memikirkannya.


" Papa ini, ini itu masih pagi Pa. Jangan ajak Hana buat sarapan lagi, nanti ujung-ujungnya dia nggak mau ke sini lagi. Yang namanya anak cewek itu pasti sering diet, jadi Papa jangan buat dia makan karbo terlalu banyak." ucap Deon yang memang sudah mengerti tentang wanita.


" Yang dibilang sama Dion ada benarnya Pa, lagian pacarku juga kayak gitu. Walaupun sudah dikatakan kalau mereka itu nggak gendut, tetapi tetap saja mereka selalu derajat." jelas Yuprat.


" Aku nggak pernah diet kok Kak, jadi nggak masalah kalau memang Papa mau ngeteh." jelasnya dengan tersenyum.

__ADS_1


" Oh tidak bisa, walaupun kamu bilang kamu nggak pernah diet. Itu semua karena saat ini kamu masih belum memikirkan tentang hal itu, tetapi nantinya kamu bisa diet besar-besaran. Dan hal itu akan berdampak buruk bagi kondisi kesehatanmu, lebih baik mulai dari sekarang kamu kurangi hal-hal yang terlalu berlebihan." jelas Yuprat.


" Entah kenapa aku merasa nyaman bersama dengan mereka, walaupun ini adalah kali pertama aku menemui mereka. Tetapi aku merasa sudah lama mengenal mereka, apakah jangan-jangan aku sudah pernah bertemu dengan mereka. Hanya saja aku yang tidak menyadari kapan bertemu dengan mereka, karena hal ini tidak mungkin terjadi kalau aku memang belum pernah bertemu dengan mereka." batin Hana.


" Setelah memikirkan apa yang dikatakan oleh Kak Deon, ternyata yang dikatakannya benar Papa. Jadi lebih baik kegiatan itu kita hindari aja, karena hal tersebut bisa akan membuat Hana menyesal di kemudian hari." ucap Lucky yang mulai ikut-ikutan.


" Ya sudah kalau menurut kalian itu tidak bisa dilakukan, kalau begitu kita duduk saja di belakang sambil berolahraga. Itu sih kalau kalian mau menemani Papa bermain golf, kalau kalian nggak mau menemani…tahulah apa yang akan kalian dapatkan." ucap Marcel dan kini ketiganya pun menjadi ketakutan.


" Reaksi mereka bertiga sangat lucu, sebenarnya apa yang akan dilakukan oleh Papa ya. Enta kenapa aku menjadi penasaran dengan hal tersebut, tetapi aku tidak berani untuk bertanya kepada Papa." batinnya.


" Papa tenang aja ya, kami bertiga pasti akan menemani Papa bermain golf." ucap Yuprat.


" Kalau memang mereka tidak mau biar Hana saja Pa." ucapnya dan mengejutkan ketiganya.


" Tentu saja aku bisa melakukannya, kalau hanya sekedar bermain golf aku juga sudah sering melakukannya." jelasnya dan mereka semua pun terkejut.


" Aku tidak sedang salah dengar bukan, seorang Luhana Clarissa ternyata bisa bermain golf." ucap Lucky yang tidak percaya.


" Jadi ternyata namanya Luhana Clarissa, sepertinya sudah waktunya aku bertugas mencari identitas dia. Aku ku sudah tidak sabar menantikan kemungkinan yang terjadi, karena aku sudah sangat ingin mengetahui siapa dia sebenarnya." batinnya Deon.


" Tentu saja aku bisa melakukannya, aku juga sudah sering melakukan olahraga ini sejak aku masih duduk di bangku SMP." jelasnya dan membuat mereka terkejut.


" Kamu sudah sering melakukan olahraga ini sejak masih SMP?" tanya Marcel yang tidak percaya.


" Iya benar Pa, jadi aku sudah cukup mahir untuk bermain golf." jelasnya.

__ADS_1


" Kalau memang begitu ceritanya, kita bermain berdua saja di lapangan. Lagian mereka tidak bisa bermain golf, dan jujur saja aku menjadi kesal dengan hal tersebut." ucapnya dengan sedikit emosi.


" Papa jangan marah-marah dong, sekarang kan sudah ada aku." ucap Hana.


" Ya untungnya ada Hana." ucapnya kemudian mereka pun segera pergi ke lapangan belakang.


" Ayo Kak, kita susul Papa dan Hana." ucap Lucky.


" Kau duluan saja Lucky, kami berdua ada yang mau di bicarakan." ucap Yuprat.


" Yauda kalau begitu, aku pergi dulu ya Kak. Tapi nanti Kakak harus nyusul ya, takutnya Papa akan marah." ucap Lucky dan keduanya pun mengangguk.


Lucky segera menghampiri keduanya yang sedang bermain golf di lapangan, ia sangat senang melihat sang Papa tersenyum dengan sangat lebar. Ia sudah lama tidak melihat senyuman itu, dan sangat bahagia saat ini.


Yuprat dan Deon sedang berdiskusi, mereka berdua mencurigai status Hana. Dan mulai mencari tau siapa sebenarnya Hana, kini mereka mencurigai kalau Hana adalah adiknya. Karena wajah Hana sangat mirip dengan almarhum Mamanya.


" Cari tau tentang seorang cewek bernama Luhana Clarissa." ucap Yuprat.


" Kakak pasti sangat penasaran dengannya bukan." ucap Deon.


" Iya benar, aku memang sangat penasaran. Tetapi yang paling khawatirkan bagaimana kalau ternyata dia adalah Adik kita." ucap Yuprat.


" Iya benar, tapi kalau memang benar dia adik kita. Berarti pertemuan ini adalah takdir, dan aku sangat bersyukur Kak." ucap Deon.


" Aku pun juga begitu, tetapi kita harus memastikannya terlebih dahulu. Agar Papa dan Hana mempercayainya, karena hal ini sangat sulit untuk dipercaya." jelas Yuprat dan Deon pun mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2