
" Apa sih yang kalian tertawakan?" tanya Mami Riska yang sedang bingung.
" Ini Mi, tadi itu kami sedang ngomongin tentang Wildan dan juga seorang cewek." ucap Rio dan membuat Mami kaget.
" Mami nggak salah dengarkan?" tanyanya kembali untuk memastikan.
" Nggak Mi, si es batu ini memang lagi deket sama cewek." ucapnya dengan menyenggol Wildan.
" Wah kalau gitu bawa dong ke sini, Mami kan pengen kenalan sama dia!" perintah Mami dan mendapat anggukan dari Rio, tetapi tidak dengan Wildan yang tampak sedang kebingungan.
" Kenapa Wildan?" tambahnya yang merasakan tingkah Wildan aneh.
" gini nih, dekat aja belum. Mami udah minta bawa dia ke sini, kan jadi bingung Mi." jawabnya yang memang sedang bingung.
" Ya setelah jadian nanti lah, kalau belum jadian ya jangan." ucap sang Mami dengan mencubit lengan kedua pemuda itu.
" Kalau itu aman Mi." ucap Rio dengan menyenggol lengan Wildan.
" Yauda kalau begitu kalian lanjut, Mami mau keluar dulu." ucapnya dengan meninggalkan keduanya.
Setelah Mami Rio keluar, mereka pun berbincang hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan malam hari. Wildan pun akhirnya memutuskan untuk pulang, karena ia tidak tegah meninggalkan ayahnya di rumah sendirian.
" Rio aku pulang ya, uda malam. Kasihan ayah ku di rumah sendirian." ucapnya.
" Yauda, hati-hati ya." jawabnya, kemudian Wildan pun segera pergi meninggalkan rumah Rio dan kembali ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, ia langsung di sambut dengan wajah seorang wanita yang ia tidak kenal. Dan tampaknya wanita itu sangat dekat dengan sang ayah, ia pun bertanya kepada sang ayah. Siapakah wanita tersebut.
" Halo Wildan." ucap wanita tersebut dan langsung duduk di sebelah ayahnya.
" Halo, siapa Tante ini ayah?" tanyanya yang penasaran.
__ADS_1
" Namanya Tami, dia pacar ayah." ucap sang ayah, dan sontak saja membuat Wildan kaget.
" Ayah bercanda kan?" tanyanya untuk memastikan.
" Nggak Wil, ayah nggak bohong. ini memang pacar ayah, dan rencananya dalam waktu dekat kami akan menikah..." ucap sang ayah.
" Apa, yang benar saja ayah, ayah nggak pernah bilang punya pacar. Dan sekarang tiba-tiba ayah bilang mau nikah, ayah mikirin perasaan Wildan nggak si?" tanyanya, kemudian pergi meninggalkan meja makan dan pergi ke kamarnya.
" Wildan." teriak ayahnya.
" Mas Yuda, uda jangan gitu. Aku tau kok, Wildan hanya kaget aja. Mungkin nanti dia bisa terima, lagian kita juga yang salah. Kita nggak pernah bilang ke dia, dan tiba-tiba kita mau nikah tanpa sepengetahuan dia." jelas Tami.
" Yuada, yang kau bilang memang ada benarnya juga." ucapnya pasrah.
" Sekarang mas tenangkan diri dulu, nanti kalau uda tenang baru kita ngomong sama Wildan." jelasnya menenangkan.
Wildan di dalam kamar, ia meratapi nasibnya, setelah kepergian sang ibu dan adik. Kini ia sendirian, sang ayah yang tidak peduli. Kini mulai ingin membangun hubungan baru, tapi tanpa sepengetahuan ia.
...----------------...
Cahaya matahari masuk dan menyinari dari sela-sela, dan membangunkan Hana. Ia pun langsung melaksanakan rutinitas paginya seperti biasa, kemudian ia mengambil kue yang sudah ia siapkan bersama bundanya kemarin. Untuk ia bawak dan berikan pada Wildan.
" Bunda, Hana berangkat dulu." ucapnya dengan menyalim tangan sang bunda.
" Ia sayang, hati-hati ya." balasnya dengan tersenyum dan mengelus rambut putrinya.
Hana pun langsung pergi menuju kampusnya di jemput oleh ojek langganannya, sesampai di kampus. ia langsung menuju ke barisan para siswa, karena memang mereka sudah dikelompokkan. Hari ini adalah jadwal MPLS terakhir, dan yang memegang tanggungjawab adalah Presiden Mahasiswa.
Setelah semuanya berkumpul di lapangan, Wildan pum memberikan pidato singkat di atas podium. Kemudian setelah itu, mereka di bagi menjadi beberapa tim. Dengan satu tim berisi 20 orang, tim ini dibuat untuk agar lebih mempermudah saat berkeliling seluruh fakultas. Agar tidak ada yang hilang, atau ketinggalan.
Setelah pembagian, kini Hana pergi berkeliling ke arah fakultas teknik. Dan dengan dipandu oleh Wildan sendiri selaku ketua tim. Hana sangat bingung, karena ia tidak mengenal satu orangpun pun di dalam timnya.
__ADS_1
Wildan terus melihat kedepan, tanpa sekalipun melihat kebelakang. Hana merasa tidak nyaman, dan ia mulai mengingat kejadian kemarin. Dan ia menyangkut pautkan dengan sikap Wildan saat ini, Hana melamun hingga tertinggal rombongan. Untungnya ada satu orang yang menyadarkannya, dan ia langsung mengikuti rombongan kembali.
" Kau tadi kenapa?" tanya wanita itu pada Hana.
" Gpp, aku cuma lagi ada pikiran aja." jawabnya dengan tersenyum.
" Oh begitu ya, oh iya kenalin aku Bunga. Kalau nama kau siapa?" tanyanya dengan tersenyum dan mengulurkan tangannya.
" Aku Hana." jawabnya.
" Eh namanya kok sama ya, sama cewek yang ditaksir sama kak Wildan ya. Apa jangan-jangan memang dia." batin wanita itu.
" Eh, kau ngelamunin apa si?" tanya Hana dengan menggoyangkan bahu Bunga.
" Eh nggak, nggak ada apa-apa kok." jawabnya.
" Ah, mungkin cuma kebetulan aja." batinnya kembali.
" Oh iya, senang bisa berkenalan dengan mu. Mudah-mudahan kita bisa berteman ya." ucap Bunga dengan tersenyum.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan, hingga tanpa mereka sadari mereka sudah sampai di fakultas teknik. Dan Wildan pun mulai menjelaskan beberapa aturan yang ada di fakultas teknik, dan jujur saja mereka sampai keget mengetahui apa yang disampaikan Wildan.
Wildan yang mengetahui kekagetan semuanya, ia pun mengalihkan perhatian semuanya menuju ke arah kantin. Dan mereka semua beristirahat sejenak di kantin fakultas teknik, ada banyak dari mereka yang tersipu malu karena di gomballin sama seniornya. Tapi tidak dengan Hana dan juga Bunga yang tampak santai saja, bahkan tidak peduli dengan gombalan-gombalan yang ada. Dan hal itu membuat mereka semangkin tertarik dengan keduanya.
Bunga dan Hana, adalah wanita cantik yang terus di gosipkan oleh semuanya. Kedua tampak tidak peduli dan terus menyantap makanan tersebut, Wildan yang memperhatikan keduanya terus diperhatikan. Ia pun memutuskan untuk duduk di meja kedua wanita tersebut.
" Kalian lagi ngobrolin apa, tampaknya lagi seru banget?" tanyanya yang baru saja tiba.
" Nggak ada kok kak, cuma tentang kehidupan pribadi aja." jelas Bunga.
" Oh, kalau gitu boleh gabung nggak?" tanya Wildan sambil menatap dengan sinis orang-orang yang selalu melihat Bunga dan Hana sejak tadi.
__ADS_1
Para pemuda yang sejak tadi menatap Bunga dan Hana dengan sorot mata menginginkan itu, kini menjadi menunduk karena mereka takut dengan Wildan. Perlahan-lahan, mereka mulai meninggalkan kantin. Karena mereka takut dengan Wildan.