
" Untuk saat ini kakak tidak bisa bertemu dengan ayahmu, tapi Kakak janji suatu saat nanti kakak akan bertemu dengan ayahmu. Kakak hanya tidak ingin menyeret kalian dalam urusan kehidupan kakak, dan pastinya akan membuat kalian menjadi susah." jelas Anas.
" Ya sudah kalau itu keputusan kakak, tetapi bila kakak memang merindukan kami. Setidaknya hubungi kami melalui telepon kak, agar kami bisa tenang dan tidak cemas." ucap Intan.
" Baiklah, kalau begitu catat nomormu di handphoneku." ucap Anas dengan memberikan handphonenya.
Intan pun segera mencatat nomor teleponnya, kemudian ia langsung meng- miscall teleponnya. Hari ini ia sangat senang, karena sejak sekian lama akhirnya ia dapat bertemu dengan Anas. Dan sebenarnya ia ingin memberitahukan kepada dunia, kalau iya sudah menemukan Anas.
Niat awalnya harus terhenti, ia tidak bisa membeberkan kepada dunia tentang keberadaan Anas. Sebenarnya ia cuma rasa heran dengan hal itu, tetapi ia tak masalah selagi ia sudah bertemu dengan Anas. Baginya apa yang dikatakan Anas adalah kebenaran, dan untuk alasan kelanjutannya ia sangat enggan untuk bertanya.
Mereka pun menyantap makanan dengan sangat khusyuk, hingga akhirnya makanan di meja pun telah habis. Dan kini mereka memutuskan untuk pergi dari sana, Anas pun mengusap-ngusap kepala Intan sebelum ia pergi. Dan kini Intan kembali bersama dengan Wildan, dan ia pun segera bertemu dengan Kalisa sahabatnya.
" Aku pulang dulu ya, Wildan aku titip Intan." ucapnya kemudian pergi meninggalkan keduanya.
" Makasih ya, berkat kakak aku dapat bertemu dengan kak Anas." ucap Intan dengan tersenyum.
" Ini semua adalah suratan takdir, pertemuan kita juga sudah dituliskan oleh takdir. Dan aku berharap, bila masalah ini selesai nantinya. Kau tidak akan pergi meninggalkanku, dan kita masih berteman." jelas Wildan.
" Yang kau katakan memang benar, Ini semua adalah suratan takdir." ucapnya.
" Sebenarnya aku berharap, kita bisa lebih dari sebatas teman." batin Intan.
" Ya sudah ayo kita kembali ke kampus, kebetulan aku ada jam perkuliahan setelah ini." ucapin dan Intan pun mengangguk.
Mereka pun segera kembali ke kampus, dan wildan pun segera kembali ke fakultasnya.
__ADS_1
" Cie yang baru aja boncengan sama cowok, Siapa cowok itu? pacarmu ya, kenalin dong." ucap Kalisa menggoda Intan.
" Itu tadi Wildan, presiden mahasiswa kita." jawabnya dan membuat Kalisa kaget.
" Itu tadi Wildan, aku nggak salah dengar kan?" tanya Kalisa untuk memastikan.
" Nggak Kalisa, itu tadi memang adalah Wildan." jawabnya.
" Wah-wah, kalian ketemu di mana?" tanyanya yang masih tidak percaya.
" Apa yang harus kuceritakan kepada dirinya ya, sebenarnya aku sangat ingin menceritakan tentang kak Anas. Tetapi tadi kak Anas mengatakan untuk tidak bercerita kepada siapapun, aku jadi bingung harus berkata apa." batin Intan yang sedang bimbang.
" Cie, jangan-jangan udah jadian nih." goda Kalisa dengan menyenggol bahu Intan.
" Nggak ah, aku nggak jadian sama kak Wildan. Kebetulan aja tadi aku jumpa sama kak Wildan, dan aku numpang deh." sangkalnya.
" Iya aku dan Intan sudah jadian." jawab Wildan dengan merangkul Intan.
" Ih dasar, tadi bilangnya nggak sengaja ketemu. Eh sekarang rupanya udah jadian, Ya udah deh aku nggak akan ganggu." ucap Kalisa kemudian pergi meninggalkan keduanya.
" Kak Wildan kenapa balik?" tanya Intan yang heran.
" Handphoneku ketinggalan di tasmu." ucapin dan Intan pun segera membuka tasnya.
" Eh iya, maaf ya kak." ucapnya dengan lembut.
__ADS_1
" Aku kali yang harus minta maaf, udah aku nitip. Aku juga yang lupa, kan aku yang ngerepotin kamu kenapa kamu yang minta maaf." ucap Wildan dengan mengelus kepala Intan.
" Nggak kak, seharusnya aku yang mengingatkan kakak. Lagian aku hari ini sangat gembira, kalau bukan karena kakak. Mungkin hari ini aku tidak akan bisa bertemu dengan kak Anas, dan aku juga sangat berterima kasih pada kakak. Kalau bukan karena kakak tadi hadir, mungkin aku juga tidak tahu harus mengatakan apa kepada Kalisa. Tetapi kalau begini, pasti kabar ini akan menyebar ke seluruh fakultas kak. Apakah kakak tidak masalah, dan bagaimana kalau pacar kakak nanti marah." jelasnya dengan memikirkan kejadian-kejadian yang akan terjadi.
" Kau tidak usah memikirkan itu, aku tidak memiliki pacar. Jadi kau tidak perlu takut akan ada yang melabrak dirimu, dan juga tadi aku yang mengatakan seperti itu kepada Kalisa. Jadi aku juga sudah memikirkan konsekuensinya, jadi kau tidak usah memikirkannya lagi. Sekarang yang harus kau pikirkan apa yang dikatakan oleh Anas, dan bila kau ingin bertemu dengan Anas. Jangan pergi sendiri, kau telepon aku terlebih dahulu dan kita akan pergi untuk menemuinya." jelasnya dengan tersenyum kecil.
" Baik kak, tetapi aku masih tidak percaya. Masa cowok seganteng kakak nggak punya pacar, hal itu sangat sulit untuk dipercayai kak." ucap Intan dengan memikirkannya.
" Seperti yang kau katakan tadi, aku memang ganteng. Yang naksir aku sih banyak, tetapi tidak ada yang ku terima." jawab Wildan.
" Apa, kalau begitu aku bisa berbahaya dong Kak. Bisa-bisa aku dikejar-kejar sama fans kakak, dan bisa-bisa aku hanya tinggal nama saja." ucap Intan dengan membayangkan kejadian yang bisa saja terjadi.
" Kalau untuk soal itu, kau tenang saja Intan. Aku akan berusaha untuk menjagamu, sesuai dengan janjiku kepada Anas. Tetapi kau memang harus siap mental, karena pastinya berita ini akan menyebar ke seluruh fakultas. Dan kau harus siap, ketika mendapati tatapan yang tidak menyukaimu." jelas Wildan.
" Siap ataupun tidak, aku harus siap menghadapi tatapan itu. Karena ini adalah pilihan yang terjadi untuk yang terbaik, dengan berita ini aku bisa dengan mudah bertemu dengan kakak. Dan aku juga bisa dengan mudah bertemu dengan kak Anas, dan dengan seperti itu tidak akan ada yang mencurigai tentang kak Anas yang masih hidup." jelasnya dengan memikirkannya.
" Kau memang sangat bijak, tetapi jangan menyerah di pertengahan jalan ya. Bila memang kau masih sangat menyayangi Anas, dan tidak ingin siapapun menyakitinya. Hanya inilah jalan satu-satunya, agar kau bisa bertemu dengannya dengan nyaman." jelas Wildan dengan mengusap kepalanya kemudian pergi meninggalkannya.
Dag
Dig
Dug
" Apa yang aku rasakan saat ini, apakah benar aku sudah jatuh cinta pada kak Wildan." ucapnya dengan menatap kepergian Wildan.
__ADS_1
" Cie yang baru jadian, sampai nggak rela ditinggal pergi." ucap kalisa yang kembali dan tiba-tiba mengagetkannya.
" Kalisa, kau ini mengagetkanku saja. Untung saja aku nggak punya penyakit jantung, kalau sampai aku punya gimana." ucap Intan dengan menatap kalisa sinis.