Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 21


__ADS_3

Bunda masih tetap termenung, ia masih mencoba mengingat. Siapakah pemuda yang ia lihat tersebut, hingga ia tidak sadar kini Hana telah sampai di dalam rumah. Dan Hana mengetahui kalau ia tengah mengintip kegiatannya, dan sontak saja Hana langsung marah dan berlari menuju kamarnya.


...----------------...


Tak terasa Wildan pun sudah sampai di rumahnya, dan kini wajah pertama yang ia lihat adalah wajah calon ibu tirinya. Suasana hatinya yang awalnya bahagia, kini berubah kembali menjadi kelabu. Ia pun tidak menganggap keberadaan calon ibu tirinya tersebut, dan ia langsung pergi menuju kamarnya.


Sang ayah yang melihat interaksi Wildan, ia pun sangat marah dan langsung memukul putranya itu. Wildan tampak tidak peduli, dan juga tidak merasakan rasa sakit dari pukulan sang ayah. Ia tidak menjawab sepatah kata pun, ia langsung memutar balik badannya. Dan kemudian pergi dari rumah tersebut.


Suara motornya terdengar sangat kuat, dan kemudian meluncur meninggalkan rumah tersebut. Wildan yang sangat bimbang dan tak tahu arah dan tujuan, akhirnya ia melajukan kendaraannya ke arah rumah Rio sahabatnya. Dan kini saat ia mengetuk pintu, yang membukanya adalah Mami Riska.


Wildan pun langsung menatap wajah Mami Riska, tanpa terasa air mata pun turun. Ia pun langsung memeluk Mami Riska, sontak saja Mami Riska merasa kaget dengan tingkah laku Wildan yang tidak biasa. Ia pun langsung membawa pemuda yang sudah ia anggap sebagai anaknya tersebut ke dalam rumah, dan kemudian mendudukkannya di sofa ruang tamu.


Kemudian ia memanggil pembantu rumahnya, dalam sekejap pembantu itu datang. Dan seperti tanpa diberi aba-aba, ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan. Pembantu tersebut datang dengan membawa segelas air, dan kemudian ia langsung memberikannya kepada nyonya tersebut.


Wildan pun meminum minuman tersebut, Mami Riska kemudian meminta Wildan untuk menenangkan diri. Dan menceritakan apa yang telah terjadi, dan mengakibatkan dirinya bisa berubah menjadi seperti saat ini. Sangat menyedihkan, dan sangat jauh dari Wildan yang dikenalnya.


" Wildan, ada apa sebenarnya nak?" tanya Mami Riska yang penasaran.

__ADS_1


Wildan pun menghela nafasnya, kemudian ia menceritakan semuanya. Mami Riska yang mendengar hal itu merasa kaget, ia tidak menyangka kalau papi Wildan bisa setega itu. papinya menyakitinya, hanya demi seorang wanita yang baru ia kenal. dan ia melupakan sang putra, yang selalu berada bersamanya sejak perpisahannya dengan sang istri.


" Kalau begitu kau tinggal di sini ya Wildan, kau tinggal di kamar Rio. Mami senang ada kau di sini, dan kamu tidak usah memperdulikan ayahmu itu." ucap Mami Riska dengan mengelus pundak Wildan.


Wildan tidak menjawab perkataan sang mami, ia hanya mengangguk saja. Kemudian tidak lama setelah itu, Rio pun tiba di rumahnya. Sontak saja Rio kaget melihat penampilan Wildan, teman atau sahabat terdekatnya ini sangat tidak mungkin berpenampilan seperti itu. Rio pun mulai menebak-nebak hal yang terjadi, tetapi ia enggan untuk menanyakannya. Karena ia tahu kalau saat ini, Wildan pasti sedang dalam tekanan.


" Rio kamu sudah pulang nak?" tanya Mami dan dijawab dengan anggukan oleh Rio.


Wildan yang mengetahui keberadaan Rio, ia pun langsung mengangkat kepalanya. Dan kemudian ia langsung berlari memeluk Rio, ia tidak tahu tempat pengaduannya siapa. Hanya Rio dan keluarganya lah, yang bisa menjadi tempat pengaduannya setelah Bundanya pergi.


Rio memberi kode kepada maminya, tetapi maminya tidak mau menjawab. Dan kemudian langsung meminta Rio untuk membawa Wildan menuju kamarnya, Rio pun tidak banyak bertanya. Dengan sigap ia langsung membawa Wildan, Setelah tiba di kamar. Ia pun pergi ke bawah untuk menemui sang mami, ia ingin mengetahui ada apa sebenarnya.


Awalnya Mami Riska nggan untuk menceritakannya, tetapi dengan pertimbangan yang matang akhirnya ia pun menceritakan kepada anaknya. Dan sontak saja Rio pun terkejut, dan Ia tidak menyangka siapa pelaku dari semua ini. Sahabatnya yang selalu kuat dan cuek itu, kini bahkan sampai menangis. Ia tidak terima dan ingin segera menemui Wildan, untungnya Mami Riska segera menghalanginya.


" Jangan gegabah Rio, sekarang mending kau tenangkan Wildan. Dan pastikan ia tidak pergi dari rumah kita, di luar sana sangat berbahaya. Apalagi bagi kondisi Wildan yang saat ini." ucap mami dan mendapat anggukan dari Rio.


Rio pun segera pergi ke kamarnya untuk mengecek keadaan Wildan, ia cukup senang ketika mengetahui Wildan telah tertidur. Rio langsung ikut tidur di samping Wildan, tetapi ia tak kunjung terlelap. Ia masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Maminya mengenai Wildan, baginya Wildan bukan hanya sekedar sahabat, tapi sudah di anggap seperti saudara sendiri.

__ADS_1


Kesakitan yang dirasakan oleh Wildan, juga akan ia rasakan. Oleh karena itu ia sangat terpukul, ketika mengetahui kondisi Wildan. Bagiannya Wildan adalah segalanya, ia terus memikirkan tentang Wildan hingga tidak terasa ia pun mulai terlelap.


...----------------...


Matahari pagi membangun Tina, ia masih memikirkan kejadian semalam. Kejadian antara ia dan juga Rio, orang yang selama ini ia taksir dan ternyata mereka saling suka. Ia sebenarnya ia mengakui perasaannya, tetapi ia gengsi. Sikapnya selama ini sangat bertolak belakang dengan perasaannya, dan itu juga yang membuat ia menjadi bingung.


Tina mencoba melupakan kejadian kemarin, ia langsung bergegas menuju kamar mandi. Dan langsung bersiap untuk pergi ke kampus, tetapi karena pikirannya tidak fokus. Akhirnya Tina mengalami kecelakaan, yaitu ia terpeleset di kamar mandi.


" Aduh sakit." Teriaknya dan membuat seisi rumah menjadi khawatir, dan segera berlari menuju sumber Tina.


Keluarga Tina sangat terkejut, sang ayah langsung membopong putri kesayangannya itu. Dan kemudian membawanya ke tempat tidur, kemudian Bunda Tina langsung menghujamkan dokter. Jujur saja mereka sangat cemas dengan keadaan Tina.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya dokter pun sampai. Dokter itu langsung memeriksa keadaan Tina, jujur saja ia juga cemas memikirkan Tina. Walaupun Tina bukan anaknya, tetapi ia sudah menjadi dokter keluarga Tina sejak Tina masih kecil. Dan ia juga sudah menganggap Tina seperti anaknya sendiri.


" Tina sayang, yang mana yang sakit?" tanya dokter Tama.


" Semua saja Tam, karena Tina tadi terjatuh di kamar mandi." ucap pak Ahmad, dan sontak saja dr.Tama menjadi takut.

__ADS_1


Dr. Tama langsung memeriksa keseluruhan, dan Alhamdulillah Tina tidak mengalami situasi yang serius. Semuanya pun menjadi tenang, tidak seperti sebelumnya yang tegang.


" Kalian tenang saja, Tina baik-baik saja. Ia hanya terkilir, aku sudah memperbannya. Jadi tolong diawasi Tina, dan lukanya tidak boleh terkena air." jelas dr.Tama dan semuanya hanya mengangguk.


__ADS_2