
'' Daffa, Sebenarnya kamu siapa sih?'' tanya Gina yang penasaran.
'' Ya aku Daffa la, teman kalian.'' jawabnya yang merasa bingung dengan pertanyaan Gina.
'' Bukan itu yang kami maksud Daffa.'' ucap Hana.
'' Lalu apa?'' tanyanya yang memang tidak tau apa-apa.
'' Kamu beneran adiknya Kak cahaya?'' tanya Hana.
'' Oh soal itu, iya aku beneran adiknya Kak Cahaya. Kalian masih nggak percaya ya?'' ucap Daffa.
'' Jujur aja ya, ini itu semua masuk akal. Kalau kamu adiknya Kak Cahaya, terus kenapa Kak Cahaya hukum kamu?'' ucap Gina yang mengingat kejadian waktu MPLS.
'' Oh tentang itu, itu kan karena Kak Cahaya itu ketua panitia. Dan dia harus adil, kalau dia belain aku. Itu artinya dia nggak adil dong, dan itu bisa bahaya bagi posisi dia.'' jelas Daffa.
'' Jawabanmu masuk akal, terus tadi kok ada rahasia-rahasia segala?'' tanya Gina yang sangat penasaran.
'' Jujur sebenarnya, aku sama Kak Cahaya uda buat kesepakatan. Kalau di kampus ini, nggak ada yang boleh tau. Kalau aku dan kak Cahaya itu kakak adik, jadi aku harap kalian bisa jaga rahasia. Karena tentang identitasku ini, hanya kalian sajalah yang mengetahuinya.'' jelas Daffa dan membuat keduanya terkaget, dan juga meneteskan air mata karena terharu.
'' Apa, kamu nggak takut kalau sampai hal ini bocor.'' tanya Gina.
'' Aku percaya sama kalian, dan aku yakin. Kalau kalian bisa juga rahasia, dan identitasku ini akan tersimpan dengan rapat-rapat.'' ucap Dafa dengan tersenyum menatap kedua temannya itu.
Keduanya kini memeluk Daffa, mereka berdua tidak menyangka. Kalau Daffa teman barunya itu, sangat mempercayai mereka. Dan mereka berjanji, akan terus menjaga rahasia Daffa.
Di tengah tangis haru ketiganya, tiba-tiba saja Wildan muncul. Wildan yang melihat interaksi ketiganya, dan dengan tetesan air mata yang berlinang. Ia pun menjadi panik, ia merasakan takut yang teramat dalam. Ia pun menghampiri Hana, dan memutar-mutar tubuh Hana. Ia mulai mengecek setiap sudut di tubuh Hana yang tampak, karena ia takut kalau Hana terluka.
'' Kak kepala aku pusing.'' ucap Hana.
__ADS_1
'' Kamu nggak apa-apa kan?'' tanya Wildan dengan tampang panik.
'' Aku nggak kenapa-kenapa Kak, aku cuma jadi pusing karena kamu muter-muter tubuh aku.'' ucapannya yang kesal.
'' Syukur deh kamu nggak kenapa-kenapa, aku panik tau.'' ucap Wildan dan membuat Hana kebingungan.
'' Panik karena apa Kak?'' tanyanya yang memang tidak mengerti maksud dari Wildan.
'' Iya aku takut kamu kenapa-kenapa lah.'' jawabnya agak ketus.
'' Kenapa Kakak bisa berargumen seperti itu, kan kakak baru aja muncul di sini?'' tanyanya kembali.
'' Ya karena aku baru muncul, dan waktu aku muncul. Aku itu melihat air matamu berlinang, jadi aku takut terjadi sesuatu sama kamu.'' ucapnya jujur.
Ketiganya tertawa mendengar ucapan Wildan, dan wildan pun tambah kebingungan. Ia menjadi bertanya-tanya, apa yang lucu menurut mereka. Dan membuat mereka tertawa hingga terbahak, tetapi ia tidak mengetahui apa penyebabnya.
'' Habis Kakak lucu banget sih.'' ucapannya dengan tersenyum, dan membuat Wildan tersipu malu.
'' Iya tau, Kak Wildan lucu banget. Memang kalau ada air mata menetes, itu artinya ada yang terluka ya. Dan lagi, tadi kakak muterin Hana buat ngecek kan. Itu tandanya, Kak Wildan suka sama Hana ya.'' ucap Gina dengan jujur, dan kini Wildan tambah tersipu malu. Ia pun akhirnya memutuskan pergi, karena ia takut wajah malunya terlihat oleh Hana.
'' Hai kalian, jangan gitu kenapa. Kak wildannya jadi pergi kan.'' ucap Hana yang kesal.
'' Kamu uda mulai ada rasa ya sama Kak Wildan?'' tanya Gina.
'' Nggak, aku nggak ada rasa sama Kak Wildan. Aku cuma kasihan tau sama Kak Wildan, lihat aja itu. Kak Wildan sampai lari-lari loh, kalau sampai dia jatuh gimana.'' ucapnya sambil menatap arah kepergian Wildan.
'' Kamu tenang aja Hana, Kak Wildan nggak akan jatuh kok. Dan kamu nggak penasaran?'' ucapnya yang membuat Hana bingung.
'' Penasaran sama apa, kalau ngomong jangan digantung-gantung. Aku kan jadi bingung.'' ucapnya ya memang sedang bingung.
__ADS_1
'' Kamu tadi lihat wajah Kak Wildan enggak?'' tanya Gina.
'' Nggak, memangnya kenapa sama wajah kak Wildan?'' tanyanya yang tidak mengetahui.
'' Kak Wildan dan tadi pergi, itu tuh karena malu. Dan dia itu, takut kalau wajah malunya terlihat olehmu.'' ucap Gina kemudian menyenggol bahu Daffa untuk meminta persetujuan.
'' Iya bener banget itu Hana, apa yang dikatakan sama Gina memang benar.'' ucap Daffa.
'' Masa sih, aku nggak percaya deh sama kalian.'' ucapnya yang meragukan perkataan kedua temannya itu.
'' Terserah mau percaya atau nggak, tapi itulah faktanya. Dan lagian, Kak Wildan kan baru aja nembak kamu.'' ucap Daffa dan membuat Hana tertunduk.
'' Uda deh nggak usah dibahas, lagian itu kan cuma prank.'' ucap Hana dengan nada kesal.
'' Kamu yakin itu prank, kalau beneran gimana?'' ucap Daffa.
'' Ya nggak mungkin lah kalau beneran, lagian kita kan baru kenal. Nggak ada kali cinta pandangan pertama, yang ada itu nafsu. Nggak usa bilang kamu cinta sama dia karena melihat wajahnya, kalau kamu cinta sama dia karena pandangan pertama itu karena kamu nafsu banget sama dia. Dan yang kamu lihat itu bukan wajahnya, tapi entah bagian apanya.'' jelas Hana dan terdengar oleh Cahaya.
'' Kayaknya si Hana, punya cerita masa lalu yang nggak enak deh. Aku harus segera sampaikan ke Wildan, agar dia bisa cari cara untuk mengantisipasi. Supaya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.'' batin Cahaya dan kemudian berlari ke arah sekretariat.
Cahaya berlari dengan kecepatan tinggi, ia langsung masuk ke dalam. Tanpa menutup pintu terlebih dahulu, alangkah kagetnya ia. Ketika melihat sekretariat penuh dengan banyak orang, ia panik dan tak tau harus berkata apa-apa.
Wildan yang menyadari kepanikan cahaya, Ia pun menuju ke arah cahaya. Dan ia pun memulai percakapan, agar cahaya tidak merasa canggung.
'' Ada apa Cahaya?'' tanya Wildan yang kini berada di hadapannya.
'' Sepertinya nanti saja deh, kan di sini masih banyak orang.'' ucapnya kemudian pergi meninggalkan sekretariat.
Wildan pun kembali kepada teman-temannya, mereka melanjutkan untuk membahas kinerja MPLS berikutnya. Mereka mulai menyusun rencana untuk kegiatan MPLS, mereka sangat bingung karena untuk tingkat fakultas kembali. Mereka harus mengadakannya untuk semua mahasiswa dan tidak boleh sama, dan mereka juga harus memberikan tantangan. Tetapi tantangan yang diberikan tidak boleh sama, karena itu mereka menjadi sangat pusing. Banyak perdebatan di dalam forum, dan tidak selesai-selesai.
__ADS_1