
Keduanya pun segera menyusun rencana, untuk mendekati Cahaya. Tetapi mereka masih mempertimbangkan, cara-cara apa saja yang akan mereka gunakan. Karena bisa saja, cara yang mereka gunakan. Malah justru membuat cahaya benci pada Faldo, dan rencana mereka akan gagal total.
...----------------...
" Aduh Cahaya, jangan mikir yang aneh-aneh dong. Kamu itu sama Faldo, uda temenan lama. Jangan rusak persahabatanmu, hanya demi kata cinta yang sesaat." ucapnya dengan mondar-mandir di dalam sekretariat HMJ.
Tiba-tiba saja Intan muncul, dan sontak saja cahaya kaget dengan kehadirannya.
" Cie yang lagi jatuh cinta." Goda Intan.
" Apaan sih kamu Tan?" tanyanya dengan memayunkan bibir.
" Udah deh nggak usah bohong, aku tahu kok. Kalau kau sebenarnya lagi suka sama Gubernur kita kan?" ucapnya dengan tersenyum.
" Nggak usah aneh-aneh ya Tan, mana mungkin aku suka sama Faldo. Aku sama Faldo itu uda temenan lama." jelasnya dan membuat Intan kaget, karena ia tidak pernah mengetahui kalau cahaya ternyata bersahabat dengan Faldo.
" Apa, aku nggak salah denger nih. Kau bilang uda lama berteman dengan Faldo?" ucapnya yang kaget.
" Bukan hanya dengan Faldo saja kali, aku juga berteman dengan Wildan..." ucapnya yang terhenti karena suara indah.
" Nggak usa aneh-aneh deh, sejak kapan kamu berteman dengan mereka?" tanya lagi yang kebingungan.
" Aku tuh satu SMA sama mereka, dan lagian dulu kami sama-sama anak OSIS. Jadi biasalah sama-sama anak organisasi." jelasnya, dan Intan hanya mengangguk paham.
" Oh rupanya begitu, terus kenapa kamu nggak ungkapin perasaan kamu ke Faldo?" ucapnya yang menanyakan kembali soal Faldo.
" Apaan sih kamu Tan, aku tuh nggak suka sama Faldo." jawabnya dengan nada tegang, karena ia merasa kalau Intan sudah mengetahuinya.
" Nggak usah ditutupi kali, semua itu terlihat jelas. Kamu itu suka sama Faldo, tapi kamu tutupi." jelasnya ada yang berjalan mendekati Cahaya.
" Iya aja aku jujur, tapi aku sama Faldo nggak mungkin bersatu." ucapnya yang murung.
" Kenapa?" tanya Intan yang mulai penasaran.
" Ya pokoknya nggak mungkin." bentaknya kemudian duduk di sofa.
" Ya udah kalau nggak mau cerita, aku yakin suatu saat nanti. Kamu sama Faldo pasti jadian, dan akulah orang pertama yang akan bahagia." ucapnya dengan tersenyum kemudian meninggalkan sekretariat.
" Maafin aku Intan, kamu memang sahabat aku. Tapi aku nggak bisa ceritain sama kamu, karena aku nggak mau kamu terlibat dalam masalah aku dan Faldo. Dan pastinya itu akan membuat kamu terluka, dan aku nggak mau kehilangan kamu." batin cahaya.
__ADS_1
...----------------...
" Drama tadi sungguh mengasyikkan ya?" tanya Gina kepada kedua temannya.
" Iya asik banget, sumpah aku nggak nyangka loh. ternyata anak Bu Yuni seperti itu." balas Dafa.
" Udahlah weh, nggak usah dibahas. nanti kita bisa kena masalah loh." ucap Hana memperingati teman-temannya.
" Kamu ya Na, kamu tuh baik banget. Kami jadi bersyukur bisa ketemu kamu." ucapnya dengan berlari memaluk Hana, Daffa pun kemudian menyusul untuk memeluk Hana.
Tiba-tiba saja Wildan lewat, dan ia merasa kesal. Karena Hana dipeluk oleh Daffa, sebenarnya di situ juga ada Gina. Tetapi Wildan tidak terlalu memperhatikan Gina, dan pandangannya terus tertuju kepada Daffa.
" Berani banget tuh cowok, main peluk-peluk calon pacar aku lagi." batinnya dengan menatap ke arah mereka sinis.
" Kau lihat apa?" tanya Rio, yang baru menyadari tatapan Wildan. Kemudian ia pun, segera menatap ke arah sorot mata Wildan. Dan ia menemukan Hana dan juga teman-temannya, yang sedang berpelukan.
" Udahlah dan, nggak usah cemburu kali. Mereka itu temenan, jadi Hana nggak mungkin sama cowok itu." ucapnya meyakinkan sahabatnya.
" Yang kau bilang benar sih, tapi masih ada kemungkinan kalau mereka jadian." ucapnya dengan nada cemas.
" Udalah kau tenang aja, percayalah pada ku. Aku yakin Hana itu orang yang sulit menerima kedatangan orang baru." ucap Rio dengan terus menatap ke arah Hana dan teman-temannya.
" Maksudmu gimana?" tanya Wildan yang tidak mengerti.
" Rio tunggu, main tinggal aja." ucapnya dengan berlari mengejar Rio.
Bel pun berbunyi, dan kini tandanya mereka harus pulang. Hana dan kedua temannya langsung pergi menuju tempat penyimpanan tas mereka, kemudian mereka langsung pergi menuju mobil Daffa.
" Ayo we, kita jalan-jalan dulu." ucapnya dengan mengajak Hana dan Gina.
" Memangnya kita mau kemana?" tanya Gina yang sangat penasaran.
" Ya nggak tau, yang penting jalan-jalan aja. Hehehe." ucapnya dengan tertawa.
" Ye dasar, kamu ya Daffa. Kalau nggak jelas jangan ngajak dong." ucap Gina.
" Yang penting kan jalan-jalan, jadi mau nggak?" tanya Daffa.
" Yauda ayo, Hana kau ikut kan?" tanya Gina.
__ADS_1
" Nggak, kalian aja yang pergi. Aku ada urusan siang ini, maaf ya teman-teman." ucapnya dengan ekspresi sedih.
" Uda gpp, lagian ini semua juga mendadak. Jadi gpp Hana." ucapnya dengan tersenyum.
" Makasih." ucapnya kemudian pergi meninggalkan kedua temannya dan kini ia menunggu angkutan umum di depan kampus.
" Yauda yuk kita jalan-jalan." ajak Daffa, mereka pun segera masuk ke dalam mobil Daffa.
...----------------...
" Wildan, pulang yuk. Lagian kerjaan kita Uda siap." ucapnya dengan menatap Wildan.
" Yauda ayo, tapi langsung pulang ya. Aku lagi males ni, suasana hati ku nggak enak." ucapnya.
" Ok, aman itu. Lagian kejadian tadi nggak usa di pikirkan kali, nanti kau bisa sakit." ucapnya dengan tersenyum.
Mereka pun segera pergi menuju ke parkiran, kemudian langsung menaiki kendaraan mereka. Saat di dekat gerbang, tiba-tiba saja Rio berhenti. Wildan pun merasa heran dengan tingkah temannya itu.
" Kenapa berhenti?" tanya Wildan.
" Coba kau lihat, itu siapa." ucapnya dengan menunjuk ke arah gerbang.
" Hana, itu Hana kan?" tanyanya untuk memastikan.
" Iya bener itu dia, sekarang temui dia." ucapnya kepada temannya.
" Ta-tapi." ucapnya yang tidak berani.
" Nggak apa-apa, aku akan mengawasi dari sini. Kalau kau nggak maju sekarang, takutnya si Hana nanti di rebut orang loh." ucapnya menakut-nakuti Wildan.
" Jangan ngomong gitu la." ucapnya.
" Ya makannya cepat samperin dia, atau aku yang samperin. Berarti dia jadiannya sama aku ya." ucapnya dengan men stat kendaraannya.
" Eh jangan, enak aja. Aku yang suka sama dia, eh kau yang mau dapetin." ucapnya kemudian langsung melakukan kendaraannya.
" Hai Hana." ucapnya ketikan baru sampai di hadapan Hana.
" Nunggu jemputan ya?" tanyanya kembali.
__ADS_1
" Iya kak, aku lagi nunggu jemputan." ucapnya dengan tersenyum, karena menghargai seniornya tersebut.
" Gimana kalau aku antar aja." ucapnya menawarkan diri.