
" Ya aku nggak kenal la, mendengar namanya mungkin sering. Tapi kalau orangnya kan belum tentu sama." jelas Damar.
" Yang kau katakan benar juga, yauda deh nggak usa bahas lagi tentang dia. Besok aku akan mengurus kepindahanku, dan kau harus membantu aku ya." ucapnya.
" Aman, kalau perlu sekalian pindah aja ke fakultas ku. Kan ini masih belum pindah semester, jadi masih boleh aja kau pindah jurusan." jelas Damar.
" Yang kau katakan benar juga, kalau begitu aku pindah ke fakultas mu aja deh. Jadi aku ada temannya di kelas, nggak enak tau jadi anak baru." ucapnya yang memang sudah malas untuk berkenalan dengan orang baru.
" Nah bener itu, oh iya ngomong-ngomong tentang saudara tirimu itu. Kalian tinggal satu rumah jadinya?" tanya Damar yang penasaran.
" Tentu saja nggak la, dia tinggal bersama dengan bundanya. Walaupun sebenarnya di rumah juga ada kamar dia, tapi kamar itu jarang di tempati. Begitu juga dengan kamar kakaknya." jelasnya.
" Tunggu, kau punya berapa orang saudara tiri?" tanyanya yang memang sangat ingin mencari tau tentang Hana.
" Aku memiliki dua orang saudara tiri, yang satu Hana dan yang satu lagi kak Wildan." jelasnya dan Damar pun mengangguk.
" Ternyata dia memiliki kakak, kalau begitu aku harus mengambil hati kakaknya." batinnya.
" Oh jadi rupanya kau punya dua, aku kira awalnya kau hanya punya satu. Karena sejak awal kau hanya menceritakan tentang si Hana aja, siapa tadi kakak tirimu?" tanya Damar yang sangat penasaran dengan kakak dari Hana.
" Namanya kak Wildan, dia itu presiden mahasiswa di kampus ku." jelasnya.
" Apaaa…jadi kau adik sambung dari Wildan yang terkenal dingin itu." ucapnya yang kaget.
" Ya begitulah, ya mau gimana lagi. Mami aku si pilihnya ayah Yuda, seadanya kemarin pilih yang lain pastinya aku ngga akan ketemu sama si kulkas itu." jawabnya yang kesal.
" Yang sabar, itu semua uda nasibmu…hehehe." ucapnya dengan tertawa.
plak
" Kau sangat menyebalkan." ucapnya.
" Ya jangan di pukul juga kali, sakit tau Gina." ucapnya dengan tatapan sinis.
" Biarin aja, habisnya kak sangat menyebalkan." ucapnya kembali.
" Awas ya kau Gina, klitik-klitik." ucapnya sambil menggelitik Gina.
" Hahaha, ampun Damar." ucapnya yang terus memohon.
__ADS_1
Setelah puas menggelitik Gina, akhirnya Danar pun melepaskannya. Dan kini mereka melanjutkan mengobral seperti sebelumnya, dan mereka mempersilakan untuk pindahan Gina ke kampusnya Damar.
" Sepertinya sudah malam, pulang yuk!" ajak Damar.
" Nanti kenapa, aku masih malas di rumah. Apalagi kalau ayah tiriku uda tau tentang kasusku, sudah pasti akan ada perang nantinya. Dan aku sungguh sangat malas, dan itu sangat melelahkan." ucapnya.
" Tapi tadi kau bilang si Hana tidak tinggal satu rumah dengan mu, jadi kau tenang aja. Sepertinya dia nggak akan mengadu, apalagi kabar kau di keluarkan kan belum menyebar." ucap Damar.
" Yang kau bilang benar juga, ya mudah-mudahan aja kau bilang benar." ucapnya.
" Yauda, kalau gitu aku antar pulang." ucapnya.
" Yuada deh, kebetulan aku juga uda capek. Mana besok harus pindah lagi." jawabnya dan keduanya pun segera pergi ke tempat motor Damar terparkir.
Damar pun mengatakan Gina untuk pulang, ia sangat tidak menyangka kalau ternyata Hana adalah seorang pengusaha sukses. Karena yang ia tau Hana selalu hidup sederhana, dan dia juga memang tidak perna mengetahui kehidupan Hana. Sejak dulu ia hanya menjadi pengagum rahasia Hana, dan tidak pernah berani untuk mengungkapkannya.
Gina segera turun dari motor Damar, dan ia pun langsung masuk ke dalam. Alangkah kagetnya ia ketika melihat Yuda yang sudah menunggunya, ia awalnya mengira kalau Yuda dan maminya sudah tidur.
" Ayah…" ucapnya yang kaget.
" Iya ini ayah, dari mana saja kenapa jam segini baru pulang." ucapnya dengan lihat jam tangan yang melingkar yang sudah menunjukkan jam 11 malam.
Gina sangat takut dengan Yuda, nta kenapa Yuda selalu bisa membuat ia menjadi takut. Dan ia juga selalu merasa nyaman bersama dengan Yuda, ia merasa kalau Yuda adalah ayahnya sendiri.
" Yauda, tapi kau harus ingat satu hal sayang. Kau itu anak cewek, nggak baik keluar malam-malam. Kali ini ayah maafin, tapi jangan di ulangi lagi ya." ucapnya dengan mengelus kepala Gina.
" Iya ayah, maafkan Gina ya. Janji nggak akan ngilangin lagi." ucapnya dengan tersenyum.
" Yuada, sama istirahat. Uda malam, besok masuk kuliah kan." ucapnya mempersilahkan.
" Ngomong-ngomong tentang kuliah, besok Gina mau pindah kuliah ayah." jelasnya dan Yuda menatap dengan tatapan bingung.
" Memangnya ada apa dengan kampusmu?" tanya Yuda yang penasaran.
" Gina merasa nggak nyaman aja ayah, apalagi di sana ada orang yang Gina sukai. Tetapi dia justru memilih orang lain, Gina nggak sanggup melihatnya." jelasnya dengan berderai air mata.
" Ya sudah kalau begitu, tapi Gina uda tau mau pindah kemana?" tanya Yuda untuk memastikan.
" Sudah ayah, Gina mau pindah ke kampusnya teman SMA Gina. Dan sebenarnya Gina juga mau ganti jurusan ayah." jelasnya.
__ADS_1
" Kenapa juga mau ganti jurusan?" tanyanya dengan lembut.
" Gina hanya ingin mengubah suasana aja ayah, Gina ingin menghilangkan semua kenangan tentang dia." jawabnya.
" Yauda kalau begitu, ayah juga nggak bisa bilang apa-apa. Karena kau yang menjalaninya, ayah hanya bisa berharap yang terbaik untukmu." ucapnya dengan tatapan teduh.
" Terimakasih ayah, ayah memang yang terbaik." ucapnya dengan memberikan kedua jempolnya kemudian ia pun segera pergi ke kamarnya.
" Kau anak yang baik Gina, ayah berharap kau tidak menjadi seperti ibumu." batin Yuda dengan menatap kepergian Gina.
" Maafkan Gina ayah, bukan maksudnya Gina ingin membohongi ayah. Tetapi Gina takut, jika ayah mengetahuinya maka ayah akan membenciku." batinnya.
Gina terus saja berfikir, ia merasa bersalah kepada ayah sambungnya itu. Tetapi ia juga tidak tau harus berbuat apa, ia terus saja memikirkannya hingga ia pun terlelap.
...----------------...
Matahari pagi bersinar dengan benderang, kini tampak Hana yang sangat bahagia. Karena kini mereka memiliki rumah sendiri, dan tidak merepotkan keluarga Dafa lagi.
" Selamat pagi sayang." ucap Mawar yang melihat putrinya datang.
" Pagi bunda." jawabnya dengan tersenyum.
" Sarapan dulu, hari ini bunda buat nasi goreng." ucapnya dan Hana pun langsung duduk.
" Kak Wildan belum bangun ya bun?" tanya Hana yang tidak melihat keberadaan sang kakak.
" Wildan sudah berangkat sayang." jawab Mawar dan Hana pun kaget.
" Beneran Bun, cepat banget kak Wildan berangkatnya?" tanyanya yang kaget.
" Tentu saja saya, kan sekarang Wildan sudah magang. Jadi dia harus berangkat cepat." jelas Mawar dan Hana pun mengangguk.
# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.
1. Naura Abyasya
2. Rela Walau Sesak
3. Sepahit Sembilu
__ADS_1
4. Azilla Aksabil Husna